Di tengah kegelapan dan kesunyian bangsal, ia melangkah – berbelok dan memasuki setiap ruang untuk memeriksa kondisi setiap yang tertidur di dalamnya. Dan sudah berapa lama ia melangkah – tidak ada yang tahu, hanya tipisnya sol sepatu mereka yang menjadi saksi bisu. Sementara diluar sana, banyak orang sedang berpesta, penuh dengan keceriaan dan cerita bahagia. 

Ya, mereka adalah para perawat yang terus bekerja saat kebanyakan dari kita telah terlelap. Mereka adalah pengasuh terpercaya yang mendedikasikan hidupnya pada setiap dering panggilan, setiap pasien, dan setiap persoalan di atas kepentingan pribadinya.

Kebanyakan dari kita tentu akan mengingat saat ketika kita sakit dan dirawat di bangsal, hanya agar bisa dihibur oleh kehadiran para malaikat bisu. Bukankah mereka satu-satunya yang melangkah bersama kita melewati malam?

Bagi para perawat, pekerjaan mereka jauh melebihi latihan fisik. Pekerjaan mereka membutuhkan ketelitian, ketulusan, empati, dan kesabaran disertai dengan kesibukan menghadapi pertarungan antara hidup dan mati.

Hampir setiap hari, para perawat harus menanggung beban berlebihannya jumlah pasien dan sekaligus bekerja tanpa henti pada setiap putaran shift. Ditambah lagi mereka bekerja keras – sekuat tenaga – sebagai tulang punggung dan pilar dukungan emosional terhadap pasien di rumah sakit.

Tak dapat kita pungkiri, penghormatan terhadap pahlawan tanpa tanda jasa ini seringkali datang terlambat.

Perbedaan gender dan profesionalitas dalam bidang kesehatan

Sudah lebih dari 100 tahun, wanita bersaing dengan para pria, terutama dengan semakin meningkatnya IQ wanita. Saat ini, banyak perawat mendapat pendidikan tinggi dan ikut mengikuti perkembangan dunia kesehatan melalui edukasi keperawatan yang berkesinambungan.

Namun, dalam bidang kredensial, dokter tetap berada di posisi puncak, dipuji serta dihormati, dilain pihak rekan perawat yang juga sangat dibutuhkan justru tersisihkan. Selain itu, komunitas sekarang ini masih banyak yang lebih mengutamakan pria daripada wanita, mengakibatkan banyak kontribusi perawat wanita kurang dihargai. 

Ini merupakan bukti nyata saat ahli anestesi di Florida menggungah komentar yang merendahkan dan menyakiti profesi keperawatan.

“Sebuah profesi perawat, saya ulangi, bukan seorang dokter. Mereka kurang berpendidikan, dari segi IQ dan tidak memiliki cukup pengalaman klinis. Hanya memahami secara dangkal. Mereka hanya bisa digunakan sebagai budak,” sebut Dr David Glener pada media sosial Doximity.

Komentar Dr Glener banyak menuai kritikan publik, sehingga banyak dokter yang mendesak agar dibentuk tim untuk merangkul dan mempromosikan persatuan pada seluruh profesi di bidang kesehatan.

Rangkain unggahan pada media sosial secara tidak langsung membuat Dr Glener terpojok - dimana saat diminta konfirmasi lanjut mengenai komentarnya di komunitas web Nurge.org, dia menjelaskan bahwa “komentar yang menyakitkan” tersebut diunggah oleh orang lain. 

Terlepas dari hal itu, perawat wanita memang menghadapi kesenjangan ekonomi. Walaupun wanita menguasai 91% profesi keperawatan, namun mereka hanya mendapat upah lebih kurang sebesar USD 4,000 sampai 17,000 per tahun dibandingkan dengan rekan perawat prianya – tergantung keahlian pada masing-masing bidang.

Di India, ada fakta yang lebih memilukan. Banyak perawat harus mengeluarkan banyak biaya demi mendapat gelar profesi keperawatan, untuk menghabiskan waktu mereka melayani yang sakit dan lemah. Tetapi mereka hanya mendapat upah yang sangat minim dan bahkan banyak yang kesulitan menafkahi keluarga.

Insiden kekerasan seksual pada perawat juga sering terjadi. Beberapa perawat laki-laki dilaporkan mengalami kekerasan seks; namun lebih dari 50% adalah perawat perempuan.

Like doctors, nurses work long hours without a break, and often act as pillars of emotional support to patients.
Like doctors, nurses work long hours without a break, and often act as pillars of emotional support to patients.

Perawat ikut berperan dalam kesehatan pasien; dan membantu dalam membuat keputusan medis

Sekarang mungkin sudah saatnya untuk mengubah kepercayaan yang ada: Dengan menyelesaikan masalah perbedaan gender dan secara profesional mengakui peran perawat dalam dunia kesehatan dan mengatasi hierarki yang ada.

Perawat bekerja berjam-jam lamanya dan memiliki shift dengan rotasi seperti dokter. Menurut Fakultas Keperawatan dari Universitas Pennsylvania, sebesar 65% perawat bekerja selama 12 sampai 13 jam per shift beberapa kali dalam seminggu; dan banyak perawat mengaku bahwa shift tersebut pada akhirnya  hampir menjadi 14 jam lamanya. 

Demi mementingkan kebutuhan-kebutuhan pasien, banyak perawat sering mengorbankan jadwal makan mereka. Studi yang dilakukan pada 400 perawat selama 28 hari, sebesar 10% peserta dilaporkan tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat ataupun menyantap makanan.

Meskipun demikian, beberapa studi menemukan hasil kesehatan yang baik pada pasien-pasien yang terus menerima intervensi dari perawat.

Sebuah studi tahun 2014 menemukan bahwa angka kematian pasien menurun sebesar 10.9% saat rumah sakit meningkatkan jumlah staf perawat mereka sebanyak 10%. Penemuan ini juga menunjukkan pasien yang mengalami komplikasi setelah operasi besar pulih lebih baik pada rumah sakit dengan unit keperawatan yang tangguh.

“Tak diragukan lagi, orang yang benar-benar membantu saya adalah para perawat ini yang telah bekerjasama selama bertahun-tahun. Tanpa bantuan para pekerja keras ini, yang seringnya melakukan pekerjaan berat dan kurang menyenangkan, tidak mungkin pasien saya mendapatkan perawatan yang dibutuhkan,” ungkap dokter Sohail Gandhi.

Sebagai kesimpulan, semua ini adalah tentang kepedulian dan kompetensi, bukan gelar, hasil karya ataupun gender.

Seperti yang dikatakan oleh Melissa D. Kalensky, asisten profesor di Fakultas Keperawatan Universitas Rush dan praktisi perawat keluarga, ”Dalam pengalaman saya sebagai perawat, pasien biasanya tidak mementingkan gender, gelar atau jabatan seorang penyedia jasa kesehatan. Mereka hanya ingin tahu bahwa Anda kompeten. Dan ingin dirawat dengan baik.” MIMS

Bacaan lain:
Tips berjaga malam untuk perawat
Perawat merupakan salah satu profesi paling terpercaya di dunia
"Hanya seorang perawat": Catatan hati dunia keperawatan yang sering tidak dihargai

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/11/03/gender-gap-health-care-nurses/
https://www.medpagetoday.com/nursing/nursing/69039
http://blogs.curingbuddha.com/top-five-reasons-nurses-deserve-respect/
http://www.huffingtonpost.ca/sohail-gandhi/respect-for-nurses_b_8494286.html
http://www.nvi.com.au/story/4638349/nurses-deserve-respect-to-do-their-job-well/