Bertahun-tahun silam, ada hari dimana tidak ada obat penyembuh semua gangguan kesehatan. Vaksin, khususnya, sudah banyak mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam penyembuhan dan mengeradikasi penyakit yang bisa dicegah. Keberhasilan besar berhasil dicapai sejak ditemukannya vaksin cacar. Ilmuwan di seluruh dunia tidak henti-hentinya mencoba mencari obat penyembuh berbagai jenis penyakit; kanker, HIV dan kecanduan obat.

Konsep imunitas tubuh, dimana saat mayoritas populasi tervaksinasi, secara signifikan menurunkan kesempatan untuk berkontraksi dengan penyakit ini. Meskipun demikian, meskipun ada oabtnya, namun sulit untuk menyampaikannya ke penerima.

Masalah keuangan

Harga vaksin terus naik seiring berjalannya waktu, sehingga vaksin ini tidak bisa diakses oleh berbagai negara berkembang dan hampir tidak mungkin bisa dicapai oleh semua orang. Kondisi ini menjadi masalah dalam menciptakan program imunisasi jangka panjang. Penyebab harga vaksin yang tinggi adalah kurangnya jumlah distributor membuat mereka tidak bisa memberikan harga kompetitif, terbatasnya teknologi yang ada sekarang untuk memproduksi vaksin dan lamanya waktu produk yang tersedia.

Meskipun vaksin tradisional tidak mahal, seperti vaksin campak, namun vaksin baru cenderung dijual dengan harga lebih mahal. Vaksin rotavirus, yang melindungi melawan diare, dijual antara USD5 dan USD10.50 per anak. Permintaan vaksin baru pun terus meningkal, dengan harga tinggi, sehingga negara berpendapatan rendah terus mengalami defisit.

Begitu juga halnya dengan kasus vaksin HPV, yang sudah dipasarkan sejak tahun 2006. Sejak saat itu, hanya 1,4% populasi wanita di dunia sudah mendapat imunisasi melawan HPV, dengan 70% di antaranya adalah wanita dari negara berpendapatan tinggi. Perlindungan terhadap virus cenderung tidak terjadi karena kasarnya sekitar 85% kasus kanker serviks baru dilaporkan di negara berkembang.

Vaksin HPV diberikan dalam tiga dosis, dihargai sekitar USD450 – dan masih menjadi pembatas yang mencegah eradikasi penyakit. Selain memperkenalkannya ke produsen, khususnya di negara berkembang untuk mengatasi harga tinggi, sistem negosiasi yang baru dengan Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI) dan UNICEF juga harus dilakukan. GAVI melakukan negisiasi untuk vaksin berharga rendah dan membelinya dalam jumlah besar dan menjual vaksin ini melalui UNICEF, selagi juga memberikan dukungan finansial untuk mendukung negara-negara seperti Indonesia dan Bangladesh.

Vaksin melawan kecanduan

Selain menyembuhkan penyakit yang sudah umum, peneliti juga terus mencari vaksin untuk melawan substansi penyebab kecanduan dalam dua dekade terakhir ini. Kecanduan terhadap nikotin, kokain dan heroin sudah membunuh lebih banyak warga Amerika dibandingkan kecelakaan kendaraan. Hal ini menciptakan prospek tertentu dalam menyembuhkan kecanduan dengan vaksin tampak menjadi sesuatu yang menarik.

Meskipun demikian, bukannya tanpa komplikasi. Menurut Dr Ivan Montoya, direktur divisi Therapeutics and Medical Consequences di National Institute on Drug Abuse, "tantangan terbesarnya adalah bagaimana cara mendapatkan cukup antibodi untuk menyerap obat yang diinjeksikan dalam aliran darah, sehingga molekul penyebab euforia bisa berhenti memasuki otak."

Tantangan lainnya adalah bagaimana cara membuat pasien kembali untuk mendapatkan vaksinasi. Tidak seperti vaksin campak yang memberikan imunitas seumur hidup, vaksin kecanduan perlu diberikan beberapa kali setiap tahunnya. Hal ini hany bisa terwujud jika seseorang serius ingin mengatasi kecanduannya. Dan hanya jika pasien tidak menggunakan opioid lain saat periode vaksinasi karena vaksin ini spesifik hanya untuk satu obat tertentu.

Pengujian vaksin hanya pernah dilakukan pada monyet dan roden, tanpa mengetahui bagaimana efeknya pada manusia. Pengujian pada manusia sangat mahal, mudahnya dalam rentang puluhan juta dollar. Selain biaya, peneliti juga masih tidak yakin apakah vaksin ini aman dan efektif untuk manusia. Saat terbukti berguna, apakah vaksin ini akan cocok bekerja bersama dengan terapi yang ada sekarang untuk mengatasi kecanduan, atau malah menggantikannya secara total. MIMS

Bacaan lain:
Rokok sehat, mungkinkah?
8 kecanduan yang aneh di dunia
Perasa pada e-rokok dan nikotin cair memiliki tingkat toksisitas berbeda terhadap kesehatan

Sumber:
https://www.asianscientist.com/2017/08/print/tale-two-vaccines/
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/08/10/542605039/a-vaccine-for-addiction-is-no-simple-fix
https://www.historyofvaccines.org/multilanguage/content/articles/ethical-issues-and-vaccines
https://www.msfaccess.org/our-work/vaccines/article/1377
https://www.msfaccess.org/our-work/vaccines/article/1378
https://www.msfaccess.org/our-work/vaccines/article/1379