Satu-satunya hasil yang bermanfaat dari perang, mungkin adalah efeknya pada ilmu kesehatan modern. Karena kondisi korban dan keterbatasan sumber daya, dokter, perawat dan tenaga medis lainnya harus kreatif di medan perang. Berikut adalah beberapa inovasi medis saat perang yang masih digunakan dalam ilmu pengobatan modern.

Hentikan perdarahan!

Ambroise Paré developed a tie-the-wound method to stop the bleeding of wounded soldiers. Photo credit: Encyclopaedia Britannica
Ambroise Paré developed a tie-the-wound method to stop the bleeding of wounded soldiers. Photo credit: Encyclopaedia Britannica

Sudah banyak orang menjadi korban perdarahan sepanjang sejarah peperangan. Orang Romawi dan Arab biasa mengikat sabuk atau tali ke bagian tubuh yang terluka, namun perang di Italia pada abad ke-16-lah yang mempopulerkan metode untuk memperlambat atau menghentikan perdarahan, melalui metode dikembangkan oleh tukang cukur-ahli bedah Perancis, Ambroise Paré.

Merawat tentara di Pengepungan Turin, Paré menemukan metode tie-the-wound dengan ligatur yang dia ciptakan, ligatur diikatkan ke dekat luka para tentara – untuk menghentikan perdarahan.

Selama perang Irak dan Afghanistan, petugas medis militer mengemukakan ide menggunakan bubuk hemostatik pada luka terbuka untuk menghentikan perdarahan. Sejak saat itu, rumah sakit mulai menggunakan bubuk hemostatik untuk mengatasi perdarahan gastrointestinal.

Tourniquet juga digunakan selama perang untuk mengendalikan luka parah. Pada saat ini, terdapat juga beberapa jenis tourniquet modern yang dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan.

Infeksi bakteri bercahaya meningkatkan kemampuan bertahan hidup

Photorhabdus luminescens, the glowing nematode responsible for “the angel’s glow” during the Battle of Shiloh. Photo credit: Naked Scientists
Photorhabdus luminescens, the glowing nematode responsible for “the angel’s glow” during the Battle of Shiloh. Photo credit: Naked Scientists

Cara untuk mengobati infeksi datang dari tahun 1928 oleh ahli bakteriologi Skotlandia, Alexander Fleming, dan pada tahun 1932 oleh ahli biokimia Jerman, Gerhard Johannes Paul Domagk – melalui pengembangan antibiotik seperti penisilin dan sulfanilamid.

Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi apa yang mereka temukan. Tapi sebenarnya, peranglah yang menjadi alasan produksi antibiotik secara massal, dan membuat penicillin serta sulfanilamid menjadi pengobatan standar untuk infeksi di semua rumah sakit saat ini.

Yang lebih menarik lagi, Perang Saudara Shiloh pada tahun 1862, menghasilkan sebuah penemuan penting. Tenaga kesehatan saat perang melihat adanya cahaya dalam luka tentara, yang selanjutnya menemukan tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik terkait dengan hal tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai "cahaya malaikat", yang mengindikasikan bahwa tentara tersebut disembuhkan dengan cahaya surgawi yang dianugerahkan oleh makhluk surgawi.

Pada tahun 2001, sekitar 140 tahun kemudian – setelah mengetahui fenomena tersebut di sebuah pameran sejarah, Bill Martin yang berusia 17 tahun bertanya kepada ibunya, seorang ahli mikrobiologi, yang mempelajari bakteri bioluminescent, apakah bekteri tersebut yang menjadi penyebab "cahaya malaikat".

Ditemukan bahwa saat tentara merangkak menembus lumpur, luka mereka menarik serangga – dan kemudian juga menarik cacing parasit kecil yang disebut nematoda. Bakteri nematoda menghancurkan tubuh serangga dan membunuh mikroba pesaing, yang menyelamatkan para tentara.

Saat ini, ilmuwan medis mengangap Photorhabdus luminescens sebagai cara untuk mengobati infeksi resisten antibiotik, sementara yang lainnya sedang mengembangkan protease inhibitor untuk mengobati HIV dan penyakit lainnya.

Masa operasi plastik yang mengerikan


Operasi rekonstruktif, atau yang sekarang disebut sebagai operasi plastik, juga merupakan hasil kontribusi dari ahli bedah militer. Contoh terbaik dari hal ini berasal dari karya dua ahli bedah asal Selandia Baru, Archibald McIndoe dan Harold Gillies, yang bekerja di London selama Perang Dunia Pertama.

Pada tahun 1917, Gillies merawat Walter Yeo, yang menderita luka-luka di wajah – kehilangan kelopak mata bagian bawah dan atas akibat penggunaan senapan di HMS Warspite pada tahun 1916. Pelaut dari Plymouth, Devon, diberi kelopak mata baru dengan 'topeng' dari kulit yang dicangkok ke wajah dan matanya.

Gillies kemudian mengembangkan dan memperbaiki teknik operasi plastik untuk memulihkan penampilan dan fungsinya setelah trauma pada rahang dan hidung atau luka bakar sekunder, yang banyak digunakan pada saat ini. Kontribusinya dianggap begitu signifikan sehingga ia diberi gelar bangsawan di tahun 1930.

McIndoe, sepupu Gillies, bergabung dengannya untuk memperbaiki teknik tersebut setelah pecahnya Pertempuran Inggris dengan sejumlah besar korbannya menderita luka bakar. Kontribusi McIndoe yang paling penting adalah pengembangan unit rehabilitasi luka bakar dan penggunaan pedikel yang agresif. Dia juga mengembangkan teknik cangkok kulit kaki dan menemukan bahwa merendam luka dalam cairan salin bisa mempercepat penyembuhan dan meningkatkan ketahanan hidup korban luka bakar parah.

Waktu sangat penting dalam ilmu pengobatan

(left) Jonathan Letterman developed an efficient and effective ambulance system (right) to help carry injured soldiers from battlefields to hospitals. Photo credit: Iron Brigader
(left) Jonathan Letterman developed an efficient and effective ambulance system (right) to help carry injured soldiers from battlefields to hospitals. Photo credit: Iron Brigader

Selama Perang Saudara di tahun 1860an, seorang dokter Angkatan Darat, Jonathan Letterman, mengembangkan sistem ambulans yang efisien dan efektif untuk membantu membawa tentara yang terluka dari medan perang ke rumah sakit.

Transportasi yang digunakan saat itu, sebagian besar terdiri dari koleksi kendaraan bermerek, dan dioperasikan oleh siapa saja yang ada. Mengetahui bahwa tidak banyak jenis kendaraan yang cocok untuk fungsi tersebut, ia merancang sistem ambulans yang hingga saat ini tetap menjadi model standar bagi banyak sistem transportasi darurat secara global. Letterman mendirikan karavan yang berisi 50 ambulans di setiap pertempuran, masing-masing ambulans membawa perlengkapan medis, morfin dan perban, tandu dan staf medis.

Sejak saat itu, Letterman memperlengkapi ambulans dengan berbagai peralatan untuk menyimpan obat-obatan dan persediaan dari pencurian, suspensi mobil untuk perjalanan yang lebih mulus di atas dataran bergelombang dan banyak lagi. Hal ini pada akhirnya menyebabkan pemulihan yang lebih baik dan lebih cepat dari luka saat peperangan.

Jarum dalam tulang

Lumbar punctures are examples of how the needle-in-the-bone technique is used in the modern world. Photo credit: Academic Life in Emergency Medicine
Lumbar punctures are examples of how the needle-in-the-bone technique is used in the modern world. Photo credit: Academic Life in Emergency Medicine

Tentara yang terluka tidak dapat diberikan infus reguler karena situasi yang berbahaya di medan perang, sebaliknya, mereka diberi jarum yang dimasukkan ke dalam tulang, atau lebih dikenal dengan intraosseous cannulation.

"Seseorang tidak akan mungkin bisa duduk diam dalam helikopter, inilah yang menjadi alasan hampir tidak mungkin memasang jarum ke pembuluh darah," kata ahli epidemiologi di King's College London, Richard Sullivan. Situasi ini juga diterapkan pada pasien yang harus melalui jalan bergelombang dan tak beraspal, di dalam kendaraan menuju rumah sakit.

Inovasi medis dari medan perang dianggap pilihan yang lebih baik karena jarum di tulang menahan lebih baik, dan membantu menyalurkan cairan vital ke pasien. Terlepas dari teknik yang berhasil digunakan di banyak rumah sakit, banyak responden di negara-negara berpenghasilan rendah tidak memanfaatkannya – karena kurangnya pengetahuan.

Namun, mereka bisa dengan mudah mempelajari teknik ini – karena seperti kata Sullivan, "Ini bukan sesuatu yang sulit." MIMS

Bacaan lain:
PBB: Serangan ke rumah sakit dan tenaga kesehatan di Siria merupakan bentuk dari "kriminalitas dalam peperangan"
Dokter di masa perang: Mengobati luka di tengah kekacauan perang
Eksperimen pada manusia: Sebuah pelajaran dari perjalanan sejarah

Sumber:
https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2015/04/03/397106186/how-lessons-from-warzones-could-save-lives-in-poor-countries
https://www.statnews.com/2017/11/10/medical-innovations-war/
https://www.acep.org/_Critical-Care-Section-MicroSite/Advances-in-Emergency-and-Critical-Care-Medicine---from-the-Frontlines/#sm.00uetcgx19vkd3w11nk149aioiamg
https://gizmodo.com/the-secret-wwii-club-that-healed-burned-pilots-and-revo-1740271808
http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/2636507/Pictures-of-first-person-to-undergo-plastic-surgery-released.html
https://www.thenakedscientists.com/articles/features/photorhabdus-luminescens-angels-glow