Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Stanford menemukan bahwa mengubah cara seseorang mendeskripsikan seorang kriminal, dengan istilah "monster" atau "virus", bisa mengubah cara seseorang mendukung kekuatan hukum atau reformasi sosial untuk menyelesaikan masalah. Kata-kata memiliki kemampuan untuk membentuk dan mengarahkan cara berpikir seseorang, dan beberapa penelitian telah menemukan masalah serupa dalam pengaturan kesehatan.

Orang Afrika Amerika mendeskripsikan gejala asma sebagai "tenggorokan terikat"

Peneliti menemukan bahwa kelompok etnis berbeda di California Utara mendeskripsikan gejala asma dengan cara berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asma pada orang Afrika Amerika cenderung mengarah ke deskripsi kehilangan napas pada istilah saluran napas atas misalnya "tenggorokan terikat", "suara hilang", "tenggorokan gatal". Di sisi lain, penderita asma berkulit putih menjelaskan gejala yang sama dengan istilah saluran napas atas seperti "napas dalam", "kehabisan oksigen", "sakit saat bernapas". Selain itu, mereka mencatat bahwa tidak ada partisipan yang mendeskripsikan gejala mereka dengan kata-kata "sesak napas" atau "mengi", terminologi medis tradisional untuk gejala asma.

Meskipun pasien cenderung tidak mendeskripsikan gejala mereka dengan terminologi tersebut selama konsultasi dengan dokter, menarik untuk mencatat ada istilah serupa yang digunakan pada pasien dari kelompok etnis sama. Tenaga kesehatan perlu teliti ketika ada pasien etnis berbeda datang periksa, mereka mungkin akan menjelaskan gejala penyakit dengan kata-kata berbeda dari apa yang sering didengar.

Banyak anggota keluarga memilih agar pasien dibiarkan "meninggal secara alami"

Bagaimana dokter mengarahkan situasi pasien juga bisa memengaruhi keputusan yang dibuat keluarga. Peneliti di Amerika Serikat memeriksa apakah anggota keluarga dari pasien yang sakit akan mengizinkan dokter melakukan prosedur cardiopulmonary resuscitation (CPR) ketika dokter mengubah situasi yang ada disekitarnya. 60% partisipan memutuskan untuk membiarkan pasien mendapat CPR jika jantung pasien berhenti. Meskipun demikian, angkanya menurun hingga 49% ketika dokter menggunakan kata "Jangan di resusitasi" (DNR) dan lebih memilih untuk membiarkan pasien "meninggal secara alami". Peneliti mencatat bahwa pilihan kata seperti "membiarkan pasien meninggal secara alami" bisa menurunkan rasa bersalah keluarga pasien, karena DNR bisa menciptakan perasaan seolah-olah mengambil sesuatu dari pasien dengan memilih tidak melakukan apa-apa.

Di samping ketersediaan informasi kesehatan online, kebanyakan pasien masih bergantung ke tenaga kesehatan untuk menjelaskan kondisi kesehatan mereka. Kata-kata yang digunakan tenaga kesehatan, dan norma sosial yang diselipkan dalam kata-kata mereka, memang benar memengaruhi bagaimana orang memandang sebuah situasi. Dengan demikian, tenaga kesehatan perlu mengetahui dan memahami dengan benar kata-kata yang mereka gunakan, khususnya untuk keputusan hidup atau mati.

Keluhan pasien menjadi lebih banyak jika ditanya dengan "beberapa"

Bagaimana dokter bertanya ke pasien bisa memengaruhi keluhan apa yang akan dinyatakan oleh pasien selama periode konsultasi. Data dari National Ambulatory Medical Care Survey menemukan bahwa 40% pasien di Amerika Serikat menyatakan beberapa keluhan saat konsultasi dengan dokter, tetapi kebanyakan keluhannya tidak jelas. Ketika dokter menanyakan "apakah ada lagi... " atau variasi menggunakan kata "beberapa", 78% pasien otomatis menjawab pertanyaan tersebut dan menambahkan keluhannya. Dengan demikian, kondisi ini bisa menurunkan keluhan tidak jelas dalam konsultasi. Meskipun demikian, ketika dokter bertanya menggunakan "apa saja" misalnya "apa saja yang lain...", tidak ada perbedaan signifikan dibanding kelompok kontrol.

Keluhan tidak jelas saat konsultasi bisa mengganggu outcome terapi. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam penelitian, tenaga kesehatan bisa memodifikasi pertanyaan mereka dengan menggunakan "sesuatu" untuk meningkatkan kesempatan pengarahkan keluhan pasien. Kata-kata ini bisa meningkatkan efektivitas dengan meminta pasien menyebutkan lebih banyak keluhan pada satu konsultasi yang sama.

Penelitian di atas menunjukkan bagaimana komunikasi antara dokter dan pasien bisa dipengaruhi oleh kata-kata yang mereka gunakan. Tenaga kesehatan tidak mungkin selalu memilih kata saat berkomunikasi dengan pasien. Namun, mereka harus tetap ingat ada efek buruk dari penggunaan kata-kata yang salah dan gunakanlah kata-kata secara bermanfaat saat berkomunikasi dengan pasien mereka demi outcome yang lebih baik. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa ada pasien yang berbohong?
Mengapa sulit menjadi dokter spesialis anak?
Apa yang harus dilakukan ketika menerima keluhan mengenai tenaga kesehatan lain?
Tenaga kesehatan: Membuat kesalahan dan mencari masukan