Perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling aktif berperan dalam pencegahan dan deteksi awal diabetes dan komplikasinya. Pasien penderita diabetes melitus memiliki risiko tinggi mengalami masalah pada kaki dan kuku akibat suplai darah perifer yang buruk. Faktanya, komplikasi kaki pasien diabetes (diabetic foot) merupakan penyebab utama rawat inap di rumah sakit.

Pasien ini khususnya memiliki risiko tinggi mengalami ulkus kaki kronik yang lama dan sulit disembuhkan. Dengan demikian, perawatan kaki oleh tenaga kesehatan khususnya perawat dengan spesialisasi khusus perawatan kaki sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi seperti neuropati perifer, perifer vaskular, dan infeksi yang akhirnya menimbulkan gangren dan amputasi. Catatan laporan neuropati perifer bertanggung jawab pada lebih dari 80% ulkus kaki pasien diabetes (Slater & Ramot, 2001).

Pemeriksaan kaki

Semua pasien diabetes melitus perlu melakukan pemeriksaan kaki setidaknya satu kali per tahun (O’Brien et al., 2003). Faktanya, pasien dengan satu atau lebih gangguan di kaki membutuhkan kegiatan evaluasi yang lebih sering. Biasanya pasien neuropati akan melakukan pemeriksaan kaki secara visual di setiap pemeriksaan. Perawat harus meminta pasien untuk melepaskan sepatu dan kaos kaki mereka (O’Brien et al., 2003), dan kemudian memeriksa kaki mereka untuk mengetahui tingginya risiko dan melaporkannya ke rekan sejawat lain dalam tim manajemen kaki diabetes sehingga dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Menutup luka

Saat merawat pasien diabetes, perawat harus mengetahui jenis ulkus dan bagaimana cara menutup luka yang baik. Meskipun terlihat mudah, ini merupakan komponen penting dalam manajemen diabetes. Sebagaimana ditunjukkan oleh Slater dan Ramot (2001), menutup luka merupakan cara penting untuk mencegah infeksi dan kelembapan. Membuang luka dan memperkecil kemungkinan infeksi bakteri juga dapat membantu proses kecepatan penyembuhan.

Perawatan kaki diabetes di rumah

Perawat bertanggung jawab penuh dalam memberi informasi cara merawat kaki di rumah. Pertama, sarankan pasien Anda melakukan pemeriksaan kaki yang mendetail. Instruksikan pasien untuk memeriksa kaki mereka setiap hari, seperti bagian bawah dan atas kaki, bagian tumit, dan di sela-sela jari kaki. Selain itu, mereka dapat menggunakan kaca atau meminta bantuan anggota keluarga untuk membantu memeriksa kaki secara keseluruhan. Ketika mencuci dan membersihkan kaki, minta mereka mencuci kaki setiap hari dengan air hangat. Ketika sudah selesai, Anda perlu memastikan bahwa sela-sela jari kaki pasien tetap kering (Martinez & Tripp-Reimer, 2005). Jika pasien merasa kakinya kering atau daerah jempol kaki kering, pasien dapat menggunakan lanolin, minyak bayi, atau bahkan minyak jagug dan dengan lembut mengusapkannya ke kulit (Pinzur et al., 2005). Ketika memilih sepatu, pasien disarankan menggunakan sepatu yang cocok dan memastikan sepatu yang mereka kenakan fleksibel dan tidak licin. Mudahnya, sepatu harus kuat, menutup sempurna dan nyaman di kaki. Selain itu, perawat juga harus menyarankan pasiennya untuk mengenakan kaos kaki yang bersih dan kering.

Rehabilitasi

Untuk pasien diabetes yang kakinya sudah diamputasi, mereka membutuhkan pelatihan seperti olahraga ringan dengan alat bantu. Di titik ini, peran utama perawat adalah meningkatkan fungsi kaki pasien, khususnya saat bergerak (Armstrong et al., 2005). Kemudian, perawat harus menyemangati pasien untuk banyak menggerakkan kaki untuk meningkatkan sirkulasi darah ke abdomen bagian bawah. Perawat juga perlu membantu pasien menggunakan alat dan aplikasi sehingga pasien dapat menggunakan alatnya dengan seimbang dan dapat mengatur mobilitasnya (Lavery, Baranoski & Ayello, 2004).

Untuk mengajarkan pasien mengenai pentingnya pemeriksaan rutin ke klinik, perawat harus menyemangati partisipasi aktif pasien dan keluarga sehingga dapat memfasilitasi kesehatan pasien diabetes. MIMS

Sumber:
Armstrong DG, Lavery LA, Wu S, Boulton AJ: Evaluation of removable and irremovable cast walkers in the healing of diabetic foot wounds. Diabetes Care 2005, 28(3):551–554. 10.2337/diacare.28.3.551
Lavery, L., Baranoski, S., & Ayello, E.A. (2004). Options for off-loading the diabetic foot. Adv Skin Wound Care. 17(4):181–186. 10.1097/00129334-200405000-00016
Martinez, N., & Tripp-Reimer, T. (2005). Diabetes nurse educators prioritized elder foot care behaviors. Diabetes Educ. 31(6):858
O’Brien, K.E., Chandramohan, V., Nelson, D.A., Fischer, J.R., Stevens, G., & Poremba, J.A. (2003). Effect of a physician-directed educational campaign on performance of proper diabetic foot exams in an outpatient setting. J Gen Intern Med. 18: 258–265. 10.1046/j.1525-1497.2003.10662.x
Pinzur, M.S. et al. (2005). Guidelines for diabetic foot care. The Diabetes Committee of the American Orthopaedic Foot and Ankle Society. Foot Ankle Int. 26(1). 113
Slater, R., & Ramot, Y. (2001). Diabetic Foot Ulcers: Principles of Assessment and Treatment. IMAJ. 3: 59–62.