Dulu, apoteker dianggap sebagai ahli peracik obat di apotek. Meskipun demikian, definisi tersebut sudah tidak bisa lagi digunakan sekarang, mengingat banyaknya peran apoteker sekarang. Selain mendispensikan obat, apoteker juga memiliki peran penting dalam proses kerjasama dengan dokter di rumah sakit.

Apoteker, sebagai profesi terpelajar, memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya bisa memegang kemerdekaan profesi. Di Indonesia, pelayanan kefarmasian di apotek diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 tahun 2014.

Selain dispensi obat, muncul peran baru apoteker yang lebih menekankan pada peningkatan kualitas hidup pasien (pharmaceutical care).

Peran apoteker bangsal

Apoteker bangsal merupakan apoteker yang seringkali, dan terkadang disalah artikan, sebagai satu-satunya cabang dari apoteker klinis. Meskipun demikian, tidak seperti apoteker lain yang ikut berperan dalam manajemen klinis pasien, apoteker bangsal memiliki tanggung jawab unik di bangsal.

Apoteker bangsal merupakan bagian dari tim medis pasien dan merupakan pengambil keputusan farmakoterapi pasien. Apoteker ini akan berpartisipasi dalam pemeriksaan bangsal dan memberikan informasi terkait obat ke dokter.

Selain itu, apoteker bangsal juga terlibat dalam pemeriksaan pasien, seperti tingkat kepatuhan pasien dan riwayat medis pasien. Selain itu, jika pasien memiliki kesulitan patuh, maka apoteker bangsal bisa menyarankan rute pemberian alternatif untuk obat penting.

Kepatuhan obat dan MTAC

Penelitian di Singapura menemukan bahwa, ketika apoteker ikut serta dalam evaluasi kepatuhan pasien, maka efek intervensi obat bisa meningkat secara signifikan untuk pasien.

Di Malaysia, Medication Therapy Adherence Clinic (MTAC) merupakan program vital yang dibuat untuk fungsi ini. Satu tim apoteker berdedikasi akan melakukan MTAC untuk memastikan pasien mendapat pelayanan kontinyu dan tidak ada halangan.

Salah satu pelayanan yang diberikan adalah, MTAC setelah transplantasi ginjal, yang diinisiasikan pada 2004 di bawah pengaturan pasien rawat jalan. MTAC berfokus pada optimalisasi farmakoterapi, meningkatkan kepatuhan pasien terhadap regimen obat yang kompleks dan mencegah atau menurunkan risiko kejadian efek samping. Sejak saat itu, jumlah fasilitas kesehatan yang menyediakan MTAC semakin meningkat menjadi 660 dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Sekarang ada lebih dari belasan protokol MTAC yang terbagi menjadi beberapa percabangan klinis seperti diabetes, stroke, penggunaan warfarin dan hepatitis.

Meskipun apoteker klinis tidak sama dengan spesialisasi, namun profesi apoteker klinis tidak bisa dilepaskan dari peran penting apoteker dalam memberikan pelayanan ke pasien. Seiring berjalannya waktu, diharapkan peran apoteker klinis bisa dianggap sebagai bagian penting dari tim kesehatan. MIMS

Bacaan lain:
Hubungan antibiotik dengan perubahan tingkah laku
Mengapa obat tidak memberi efek yang sama?
Kejujuran pasien: Bagaimana cara meningkatkannya
Website MIMS Indonesia: Mendaftar dan Berlangganan


Sumber;
Hassan Y. Challenge to Clinical Pharmacy Practice in Malaysia. Ann Pharmacother. 1993 Sep;27(9):1134–8. 
Mohamad N. Clinical Pharmacy in Malaysia: Past, Present and Future. 2014. 
Lim PC, Lim K, Embee ZC, Hassali MA, Thiagarajan A, Khan TM. Study investigating the impact of pharmacist involvement on the outcomes of diabetes medication therapy adherence program Malaysia. Pak J Pharm Sci. 2016 Mar;29(2):595–601. 
http://www.pharmacy.gov.my/v2/ms/dokumen/protocol-medication-therapy-adherence-clinic-hepatitis.html