Lebih dari 10% populasi manusia di dunia saat ini mengalami obesitas.Menurut World Health Organisation (WHO), di tahun 2016 terdapat lebih dari 1,9 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan – dari jumlah tersebut, 650 juta orang di antaranya menderita obesitas.

Obesitas berkaitan erat dengan masalah kesehatan seperti penyakit kardiovaskular, diabetes serta gangguan muskuloskeletal. Hal ini dapat berefek pada melemahnya produktivitas negara dan kesejahteraan populasinya.

Kabar baiknya, pemerintah dan para pejabat berwenang di seluruh dunia memperkenalkan tips untuk menurunkan berat badan untuk mengatasi masalah obesitas.

Jumlah kalori

Pemerintah Amerika Serikat memutuskan bahwa mulai Mei 2018, setiap makanan dan minuman harus mencantumkan informasi jumlah kalori. Peraturan ini juga berlaku untuk restoran, supermarket, toko serba ada, hingga pizza pesan antar.

Tujuannya adalah untuk membantu konsumen menentukan jumlah kalori yang ingin dikonsumsi. Meskipun banyak keluhan yang muncul – terutama dari penjual makanan – namun US Food and Drug Administration (FDA) tidak gentar.

Oleh karena itu, untuk membantu pebisnis mematuhi peraturan baru ini, panduan khusus mengenai label kalori dikeluarkan melalui media online. FDA mengumpulkan tanggapan mengenai peraturan tersebut selama 60 hari sebelum peresmian.

"Ketika informasi terpercaya disajikan, konsumen dapat mengambil keputusan dengan lebih baik, bijaksana dan lebih teredukasi mengenai makanan mereka," ungkap Komisaris FDA Scott Gottlieb. "Menyajikan informasi sekarang menjadi satu langkah penting mengingat tingginya jumlah orang yang makan di luar rumah."

Waralaba makanan besar seperti McDonald's dan Subway sudah mulai menampilkan informasi jumlah kalori di toko mereka. Namun, perlu waktu lebih lama sebelum peraturan ini bisa diberlakukan di gerai makanan non-tradisional, seperti SPBU dan bioskop.

"Gulanya setengah saja"

Sugary soft drinks are one of the key contributors to the obesity epidemic.
Sugary soft drinks are one of the key contributors to the obesity epidemic.

Meningkatnya konsumsi minuman manis, terutama minuman ringan berkarbonasi, menjadi penyebab utama obesitas. Oleh karena itu, cara mengatasi obesitas adalah dengan mengurangi asupan gula dalam menu makan seseorang.

Di Australia, kampanye yang disebut "Sugar by Half" sedang diperjuangkan untuk memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat melalui pelabelan makanan, terutama yang menyangkut penambahan gula. Selain itu, Australia juga berencana untuk menurunkan asupan gula dengan melarang iklan makanan cepat saji.

"Masyarakat sekarang terlalu banyak mengonsumsi gula," kata Profesor Peter Brukner, pemimpin kampanye tersebut. "Bukan hanya kebiasaan mengonsumsi makanan olahan dan tinggi gula, tetapi mereka juga mengonsumsinya secara berlebihan."

Pemerintah Indonesia telah membuat suatu peraturan terkait pelabelan informasi gizi pada produk pangan olahan dan pangan siap saji, terutama kandungan gula, garam, dan lemak yang tertuang pada Peraturan Menteri Kesehatan nomor 30 tahun 2013. Dengan adanya informasi yang dicantumkan pada kemasan makanan, pemerintah berharap konsumen mengetahui batasan-batasan konsumsi untuk dirinya sendiri agar terhindar dari penyakit tidak menular seperti stroke, hipertensi, diabetes dan serangan jantung. Konsumsi garam yang dianjurkan per orang per hari adalah 5 gram (setara 1 sendok teh), konsumsi gula 50 gram (4 sendok makan), dan konsumsi lemak 78 gram (1,5-3 sendok makan).

"Pemerintah di Asia secara aktif mempromosikan pola makan sehat, seperti Malaysia yang meluncurkan Logo Pilihan Sehat pada bulan April 2017," kata Nathanael Lim, analis Euromonitor International. "Konsumen juga memiliki preferensi yang meningkat untuk minuman berbahan alami tanpa gula."

Tak ketinggalan, Kementerian kesehatan Indonesia juga mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan diri mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari. Pada peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) di bulan Januari 2017 dengan tema Peningkatan Konsumsi Sayur dan Buah Nusantara Menuju Masyarakat Hidup Sehat, diluncurkan sebuah slogan "Ayo Makan Sayur dan Buah Setiap Hari".

Makanan utama vs. kudapan

Think twice before consuming “snacks” over “meals”
Think twice before consuming “snacks” over “meals”

Label makanan serta cara penyajian juga dapat memengaruhi orang yang mengonsumsi produk tersebut. Salah satu penelitian baru-baru ini menemukan bahwa makanan berlabel "makanan ringan" lebih disukai konsumen daripada "makanan utama". Temuan tersebut mengungkapkan bahwa subjek uji lebih banyak mengonsumsi makanan manis saat tes rasa – mengonsumsi pasta berlabel dan disajikan dalam bentuk kudapan.

Untuk menyemangati masyarakat agar memilih menu makanan sehat, pemerintah perlu menerapkan peraturan yang berkaitan dengan label makanan dan membatasi penggunaan istilah "makanan ringan" bagi industri makanan. Pejabat berwenang lainnya seperti kepala perusahaan juga perlu ikut mengambil peran dalam mempromosikan kebiasaan makan yang baik untuk karyawannya. MIMS

Bacaan lain:
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal
Kurus tapi gemuk: Orang Asia memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan akibat obesitas meskipun memiliki angka IMT lebih rendah
Penelitian mengatakan bahwa kesendirian merupakan ancaman kesehatan yang lebih besar daripada obesitas

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/11/07/calorie-counts-menu-labels-trump/
http://www.straitstimes.com/singapore/health/how-to-halve-your-cake-and-eat-it-too
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0195666317310590?dgcid=raven_sd_aip_email
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa1614362?query=featured_home&
https://www.reuters.com/article/us-singapore-sugar/coca-cola-pespico-and-others-agree-to-cap-sugar-in-drinks-in-singapore-idUSKCN1B214T
http://www.p2ptm.depkes.go.id/dokumen-p2ptm/peraturan-menteri-no-63-pencantuman-informasi-kandungangula-garam-dan-lemak
Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia No. 30 Tahun 2013: Tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji.
http://www.depkes.go.id/article/view/17012600002/hari-gizi-nasional-2017-ayo-makan-sayur-dan-buah-setiap-hari.html