Dr John Ernest Sarno Jr berpendapat bahwa sakit punggung kronis disebabkan oleh kecemasan psikologis pada pikiran. Katakanlah; rasa sakit berada di kepala pasien – terutama disebabkan oleh emosi serta masalah yang terlalu dipikirkan. Dr Sarno menghubungkan alam bawah sadar dengan nyeri punggung karena pengaruh Sigmund Freud, yang mempelajari pikiran bawah sadar sebagai faktor penentu kehidupan seseorang.

Dr John Sarno, a favourite among back pain sufferers, claimed that back pain was a thing of the mind and a product of repressed emotions that needed to be addressed in order for patients to get better. Photo credit: The New York Times
Dr John Sarno, a favourite among back pain sufferers, claimed that back pain was a thing of the mind and a product of repressed emotions that needed to be addressed in order for patients to get better. Photo credit: The New York Times

Hal tersebut dan fakta bahwa karyanya tidak didasarkan pada penelitian ilmiah membuat rekan medisnya tidak menganggap serius penemuannya. Ia dianggap sebagai penipu, namun dianggap pahlawan bagi 80% pasiennya yang merasa lebih baik. Bagaimanapun, Dr Sarno terus melangkah maju dan mengembangkan serta memperbaiki konsepnya selama lebih dari 50 tahun.

"Ia melawan dunia, namun tidak pernah takut konsepnya dianggap tidak tepat," kata Dr Eric Sherman, seorang psikoterapis yang bekerja dengan Dr Sarno selama bertahun-tahun. "Ia menganggap karyanya tetap harus dikembangkan apapun pandangan orang terhadapnya, dan terkenal sangat acuh tak acuh terhadap pendapat orang lain tentangnya."

Menangani nyeri punggung melalui TMS Sarno

Dr Sarno membuat diagnosisnya sendiri dengan menciptakan Tension Myoneural Syndrome (TMS). Pasien yang tidak responsif terhadap metode pengobatan konvensional dibuat untuk memahami asal-usul psikosomatik rasa sakit tersebut; setelah itu, pasien akan menjadi lebih baik dengan melakukan pencatatan secara teratur dan menjalani kehidupan aktif. Dalam beberapa kasus kronis, psikoterapi juga disarankan.

Menurut panduan terapi TMS Dr. Sarno, dikatakan bahwa tubuh akan bereaksi dengan mekanisme melawan atau melarikan diri dari tekanan yang dipaksakan dan emosi tertekan menjadi sakit punggung. Bila tubuh tidak seimbang karena stres dan ketidaknyamanan lainnya, oksigen cenderung akan disuplai ke organ vital untuk bertahan hidup. Hal ini akan mengurangi suplai oksigen ke area tubuh lainnya seperti bagian belakang, sehingga menyebabkan rasa sakit.

Dr Sarno juga menganggap luka fisik berupa sakit punggung merupakan manifestasi luka emosional melalui tekanan emosi yang tidak tertangani di alam bawah sadar. Hal tersebut merupakan cara tubuh untuk mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya - dengan menciptakan rasa sakit fisik agar pikiran dapat terfokuskan. Dr Sarno menekankan bahwa penting untuk memperhatikan dan menangani isu – isu pasien yang tertekan, sehingga pasien dapat menuju kehidupan yang bebas dari rasa sakit.

Popularitas Dr Sarno melonjak selama tahun 1980an hingga tahun 90an – saat ketidaknyamanan punggung kembali diyakini karena masalah mekanis (sendi yang menonjol, atau artritis pada persendian); dan 'istirahat total' adalah saran umum yang diberikan oleh dokter. Sebagai gantinya, Dr Sarno menyarankan agar pasien menjalani kehidupan normal dan aktif – sebuah pendekatan yang membuatnya menjadi target kontroversi. Dia mengakui bahwa ia tidak pernah menguji metodenya melalui penelitian; namun jumlah orang yang sembuh terus bertambah.

Dia lebih suka menghabiskan waktu untuk membantu orang-orang di tempat praktek Universitas New York daripada melakukan penelitian. "Bukti saya adalah pasien saya sembuh," jelasnya kepada orang yang ragu.

According to Dr Sarno, the physical hurt of a back pain is the manifestation of emotional hurt through “unaddressed and repressed” emotions to the unconscious mind
According to Dr Sarno, the physical hurt of a back pain is the manifestation of emotional hurt through “unaddressed and repressed” emotions to the unconscious mind

Aplikasi teknik Sarno-esque

Sampai saat ini, TMS masih belum diterima sebagai pengobatan secara umum. Klaim Dr Sarno tidak bisa diulang; atau didukung secara ilmiah, dan dianggap terlalu umum untuk populasi yang bervariasi. Meskipun demikian, banyak orang mendukung metodenya – seperti artis Anne Bancroft dan Howard Stern.

Selain itu, penelitian baru-baru ini mulai memuji Sarno sebagai pendahulunya. Sebuah studi tahun 2007 oleh University of Southern California di mana pasien menjalani perawatan tubuh dan pikiran, seperti pemahaman melalui membaca pengetahuan luas, jurnal reguler dan psikoterapi, menyebabkan berkurangnya rasa sakit sebesar 52%. Sebuah program Mind-Body Medicine di Providence Hospital Michigan juga didirikan beberapa tahun lalu mengikuti metode karya Sarno.

Sayangnya, Dr Sarno meninggal Juni ini – karena gagal jantung, pada usia 94 tahun. Sebuah film dokumenter tentang karya Sarno oleh pembuat film (yang juga pasiennya) dirilis seminggu setelah kematiannya. Dia telah menulis tiga buku selama hidupnya tentang penyakit psikosomatik – terjual lebih dari satu juta eksemplar dan membuat perbedaan dalam kehidupan orang-orang yang sebagian besar belum berhasil memenuhinya. MIMS


Bacaan lain:
Perbedaan antara psikologi dan psikiatrik
Meningkatnya angka dokter palsu karena merasa bangga mengenakan jas putih
Pelecehan seksual: Di balik luka fisik dan emosi

Sumber:
https://www.vox.com/science-and-health/2017/10/2/16338094/dr-john-sarno-healing-back-pain
https://www.nytimes.com/2017/06/23/science/john-sarno-dead-healing-back-pain-doctor.html
https://www.thestar.com/life/health_wellness/2017/07/16/john-sarnos-mind-body-theory-helped-thousands-with-chronic-pain.html