Hematidrosis, hematohidrosis dan hemidrosis, walaupun terdengar berbeda, namun ketiganya merupakan sebutan untuk satu penyakit langka yang menyebabkan pasien mengeluarkan darah dari kulitnya. Tanpa ada gejala gangguan penyakit kulit, lesi terbuka atau bekas luka, pasien akan nampak berkeringat darah. Darah keluar dari berbagai lubang di tubuh seperti mata dan telinga – tangan dan telapak tangan merupakan lokasi paling umum.

Baru-baru ini, sebuah kasus dilaporkan dalam Canadian Medical Association Journal, seorang wanita berusia 21 tahun di Italia berkeringat darah dan menyebabkan dokter kebingungan.

Wanita tersebut dilaporkan menderita hematohidrosis selama tiga tahun terakhir, dan mulai darah dari tangan dan wajahnya tanpa penyebab yang jelas. Darah dapat mengalir selama satu hingga lima menit dan mungkin tidak akan berhenti dalam waktu singkat – misalnya saat berolahraga, tidur, dan terutama saat stres.

Dr Michelle Sholzberg, ketua program Perawatan Komprehensif Hemofilia di Rumah Sakit St. Michael di Toronto berkomentar, "Saya pikir pasien ini menderita kelainan anatomi tingkat mikroskopik sehingga menunjukkan gejala yang tidak lazim."

Penyakit langka hematohidrosis menyebabkan seorang wanita berusia 21 tahun mengeluarkan darah dari kulit wajahnya tanpa alasan yang jelas. (Sumber: Canadian Medical Association Journal/CTV)
Penyakit langka hematohidrosis menyebabkan seorang wanita berusia 21 tahun mengeluarkan darah dari kulit wajahnya tanpa alasan yang jelas. (Sumber: Canadian Medical Association Journal/CTV)

Bukan sekadar berkeringat darah

Hematohidrosis memang jarang dilaporkan, namun telah ditemukan sejak era Aristoteles di abad ketiga sebelum masehi. Pada penyaliban Yesus Kristus, juga dikabarkan bahwa Ia mengalami hematohidrosis. Kemudian di tahun 1600-an, hematohidrosis mulai dicatat dalam laporan medis. Dan akhir-akhir ini, terjadi peningkatan kasus hematohidrosis.

Dr Jacalyn Duffin, sejarawan medis dan hematologi di Queen's University di Kingston, Ontario mengatakan bahwa telah terjadi 42 kasus hematohidrosis dalam literatur medis sejak tahun 1880. Pada tahun 2013 saja, sudah ada 18 kasus yang dilaporkan – dengan lebih banyak kasus terjadi pada wanita muda dibanding pria.

Banyak hipotesis bermunculan mengenai penyebab hematohidrosis, namun belum ada yang berhasil membuktikannya. Salah satu hipotesis menyatakan, hematohidrosis terjadi pada pasien dengan tingkat stres tinggi, sehingga pembuluh darah yang menyerupai jaring di sekitar kelenjar keringat pecah akibat penyempitan saat stres berat. Darah kemudian mengalir bersama keringat yang dihasilkan kelenjar dan keluar dari wajah dan telapak tangan.

Penyebab lain yang mungkin terjadi adalah sistem saraf simpatik mengalami ‘overdrive’. Dalam kondisi gelisah dan stres mental, respon 'fight or flight' tubuh meningkat dan menyebabkan perdarahan pada pembuluh darah.

Beberapa orang juga berpendapat bahwa hematohidrosis disebabkan oleh kelainan peredaran darah, di mana darah tidak membeku sebagaimana mestinya saat terjadi perdarahan, atau dapat dikaitkan dengan hipertensi.

Kasus hematohidrosis lain pada seorang anak berusia 7 tahun di Thailand (Sumber gambar: Daily Mail)
Kasus hematohidrosis lain pada seorang anak berusia 7 tahun di Thailand (Sumber gambar: Daily Mail)

Hematohidrosis memengaruhi kondisi mental

Hematohidrosis dianggap tidak mengancam jiwa. Akan tetapi, membuat pasien mengalami dehidrasi dan lesu akibat rasa gelisah serta hilangnya darah dan keringat berlebih. Dalam kasus wanita berusia 21 tahun tersebut, hematohidrosis tampaknya menghasilkan efek psikologis merugikan. Ia dilaporkan sering menarik diri dari lingkungan sosial karena kondisinya, diikuti dengan keluhan depresi dan sering merasa gugup.

Terapi  yang tepat untuk hematohidrosis belum ditemukan hingga saat ini. Untuk menghentikan perdarahan pada permukaan kulit – tidak untuk mengurangi gejala dan sepenuhnya menyembuhkan penyakit – penyebab stres yang memicu gejala ini harus ditangani. Obat hipertensi dilaporkan dapat membantu, dan dapat menurunkan kejadian perdarahan. Antidepresan juga dapat digunakan, sebagai terapi penyebab dan gejala psikogenik. MIMS

Bacaan lain:
Kriteria baru nilai tekanan darah dalam panduan AHA – Apakah Anda berisiko hipertensi?
Tua dan kecanduan: Mengungkap epidemi tersembunyi penyalahgunaan zat pada lansia
Depresi menjadi penyebab disabilitas pertama di dunia

Sumber:
http://www.ctvnews.ca/health/doctors-report-case-of-woman-who-sweats-blood-1.3641856
http://nypost.com/2017/10/23/woman-who-cant-stop-sweating-blood-has-experts-perplexed/
https://www.livescience.com/60745-woman-sweats-blood-hematohidrosis.html
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2810702/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3827523/
http://www.dailymail.co.uk/health/article-5008295/Woman-21-sweats-BLOOD-face-palms-hands.html