Pertumbuhan rasa sakit seringkali dihadapi oleh anak-anak di usia remaja. Banyak yang mencari pengakuan dengan menggunakan aplikasi digital, namun sering kali aplikasi tersebut berakhir pada perundungan di media sosial. 

Kamu jelek. Jangan seperti wanita murahan. Kamu akan masuk neraka.

Ini hanya beberapa contoh komentar jahat yang sering kita lihat di media sosial, kolom komentar pada foto atau ruang diskusi bersama teman. Beberapa media tersebut banyak digunakan oleh Kiara Padilla yang berusia 18 tahun, ia menerima pesan serupa setelah mendownload aplikasi Sarahah – aplikasi penyedia teman tanpa nama, pada awalnya fungsi identitas anonim ditujukan sebagai alat agar karyawan dapat memberi komentar tanpa nama kepada bos mereka. 

"Saya mengunduhnya karena semua orang di sekitar saya melakukannya," Kiara menjelaskan, "dan sebagai remaja yang masih memikirkan diri sendiri, saya ingin orang-orang memberi komentar mengenai pendapat mereka tentang saya."

Pengalaman Kiara bukanlah satu-satunya kasus perundungan. Banyak remaja di seluruh dunia menjadi korban cyberbullying, beberapa di antaranya berakhir dengan bunuh diri. Mengapa seperti itu?

Terlalu lama menggunakan komputer

Leading suicide researcher Thomas Joiner, FSU’s Robert O. Lawton Distinguished Professor of Psychology. Photo credit: Florida State University News
Leading suicide researcher Thomas Joiner, FSU’s Robert O. Lawton Distinguished Professor of Psychology. Photo credit: Florida State University News

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Psychological Science oleh Universitas Negeri Florida (FSU), mengusulkan adanya hubungan waktu melihat layar komputer yang berlebihan dengan meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan remaja. Peneliti mencatat bahwa remaja usia antara 13 sampai 18 tahun, yang menggunakan alat elektronik lebih dari lima jam sehari, berisiko mengalami depresi dan mulai berpikir untuk bunuh diri.

Sejak tahun 2010, US Centre for Disease Control and Prevention (CDC) memperhatikan kenaikan dramatis dalam tingkat bunuh diri di kalangan remaja, terutama anak perempuan. Lima tahun kemudian, angkanya meningkat menjadi 31% lebih banyak.

Profesor psikologi, Profesor Jean Twenge dari Universitas Negeri San Diego, menyatakan bahwa depresi tidak membuktikan hubungan sebab-akibat dengan perilaku bunuh diri, namun ada kaitannya dan orang tua harus memerhatikannya.

Profesor Thomas Joiner yang turut menulis penelitian ini, menambahkan, "Orang tua harus mencoba membuat aktivitas non-layar menjadi semenarik mungkin karena banyak dari aktivitas tersebut yang menarik. Sangat menyenangkan bergaul dengan teman atau bermain bola basket bersama. Ingatkan kepada anak-anak bahwa hal tersebut dapat dilakukan, dan sama menyenangkannya dengan bermain di depan layar komputer. Itu intinya."

Ilmu mendidik anak dan kekurangannnya

Orang tua juga merupakan sumber masalah. Anak remaja sering kali membutuhkan bimbingan dan perhatian dari sistem pendukung yang kuat – sehingga banyak yang beralih ke media sosial. Penelitian dari Universitas Cincinnati yang dipresentasikan pada konferensi American Public Health Association (APHA) tahun ini mencatat bahwa, remaja dengan orangtua yang bercerai, memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk berpikir mengenai bunuh diri dibandingkan dengan lainnya. Hasil tersebut didapat berdasarkan survey nasional tahun 2012 di AS terhadap remaja berusia 12 tahun ke atas tentang persepsi mereka mengenai perilaku orang tua.

Penelitian ini hanya memperhitungkan persepsi remaja tentang perilaku orang tua yang dapat menyebabkan bunuh diri, namun Keith King dari program promosi kesehatan dan pendidikan kedokteran Universitas Cincinnati mengatakan, "Persepsi anak muda sangat penting bagi keinginan dan usaha bunuh diri. Terkadang orang tua berpikir mereka terlibat, namun dari perspektif remaja, orang tua tidak terlibat."

Remaja berusia 12 dan 13 tahun adalah kelompok yang paling terpengaruh oleh perilaku orang tua, mereka berpotensi lima kali lebih besar memiliki pemikiran untuk  bunuh diri karena orangtua tidak pernah mengungkapkan rasa bangga terhadap anaknya. Menariknya, tingkat bunuh diri pada usia 12 dan 13 tahun meningkat pada mereka yang tidak dibantu mengerjakan pekerjaan rumah, atau tidak diberi pujian saat melakukan pekerjaannya dengan baik. Pada remaja dengan usia 16 dan 17 tahun, hanya terdapat peningkatan tiga kali untuk memiliki pemikiran bunuh diri jika orang tua tidak mengungkapkan rasa bangga terhadap anaknya.

King percaya perilaku dasar orangtua dapat membantu anak-anak. "Anak-anak perlu mengetahui bahwa ada seseorang yang selalu mendukung mereka pada kondisi apapun, dan sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak memahaminya. Itu adalah masalah besar." Peneliti lain, Rebecca Vidourek menambahkan, "Kuncinya adalah memastikan anak-anak merasa terhubung secara positif dengan orang tua dan keluarga mereka" – dengan mengatakan kepada anak bahwa mereka telah melakukan pekerjaan dengan baik dan terlibat langsung dalam kegiatan anak.

Kemungkinan terdapat peran genetik

Passing down of bipolar disorder genes is also a factor in increasing suicide risk among adolescents.
Passing down of bipolar disorder genes is also a factor in increasing suicide risk among adolescents.

Namun, tidak sesederhana memberikan pendidikan yang tepat pada pikiran remaja yang rapuh. Studi lain menemukan bahwa selain perilaku orang tua, orang tua juga berperan dalam usaha bunuh diri pada remaja dengan menurunkan gen gangguan bipolar.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menyatakan bahwa kerentanan genetik terhadap gangguan bipolar dapat meningkatkan risiko usaha bunuh diri. Namun, ini hanya berlaku bagi mereka yang pernah mengalami stres traumatis.

Penulis Holly Wilcox, seorang profesor di Fakultas Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg mengatakan bahwa, stres traumatik banyak berasal dari perundungan, pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Dr. Wilcox berkomentar, "Penelitian ini secara unik memeriksa perilaku bunuh diri dan perilaku menyakiti diri sendiri menggunakan metode kohort pada individu muda yang berisiko tinggi mengalami gangguan bipolar."

Temuan menunjukkan bahwa sebanyak 307 remaja dengan orang tua atau saudara yang memiliki gangguan bipolar, memiliki keinginan dan usaha bunuh diri lebih banyak, daripada remaja dengan orang tua yang tidak memiliki gangguan jiwa tertentu. Ini menyimpulkan bahwa remaja sangat rentan terhadap pemikiran dan usaha bunuh diri jika mereka memiliki riwayat trauma di samping bukti kerentanan genetik. MIMS

Bacaan lain:
Mempelajari gen yang berhubungan dengan aksi bunuh diri
Kesehatan mental memberi pengaruh lebih besar ke pria daripada wanita
Efek psikososial dari "terus bergerak" dan menjadi "korban kedua" dalam dunia tenaga kesehatan

Sumber:
https://medicalxpress.com/news/2017-12-parenting-behaviors-linked-suicide-adolescents.html
http://news.fsu.edu/news/2017/11/30/fsu-researcher-finds-link-excessive-screen-time-suicide-risk/ 
http://www.ibtimes.co.in/gadgets-affect-mental-health-too-much-screen-time-may-increase-suicidal-tendency-among-teens-751592
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/12/171204091813.htm
https://www.newstatesman.com/2017/09/sarahah-and-tbh-inside-teenage-obsession-anonymous-apps