Penyakit aneh yang tidak berhubungan dengan gejala penyakit pada umumnya masih menjadi teka-teki bagi pasien dan dokter. Pasien terus bersikeras dengan gejala yang dialami dan seringkali terus mencari jawaban atas penyakitnya ke beberapa dokter. Namun, tanpa bukti pendukung – terutama saat hasil tes menunjukkan kondisi normal – dokter tidak dapat menentukan obat untuk penyakit yang diderita pasien. Berikut adalah lima kondisi yang masih belum ada dukungan medis dan ilmiah untuk validasi penyakit.

1. Kelelahan adrenal

There is no concrete evidence that makes adrenal fatigue a valid medical diagnosis.
There is no concrete evidence that makes adrenal fatigue a valid medical diagnosis.

Kelelahan, nyeri tubuh, insomnia dan kurang tidur banyak dikaitkan dengan kelelahan adrenal; meski demikian, tidak ada bukti konkret hubungan gejala dan penyakitnya.

"Kelelahan, nyeri tubuh, masalah tidur, gangguan pencernaan, dan kegelisahan merupakan gejala tidak spesifik dan bisa disebabkan oleh berbagai macam penyakit lain, termasuk gangguan tidur, depresi, sindrom iritasi usus besar, dan penyakit tiroid," ungkap Marilyn Tan, MD, seorang dokter spesialis endokrinologi di Stanford Health Care dan asisten profesor kedokteran klinis di Stanford School of Medicine kepada Health.

Pertama kali muncul tahun 1998, kelelahan adrenal muncul dari respon tubuh terhadap tingkat stres parah dan terus-menerus – seperti jika ada kerabat yang baru meninggal atau sakit parah. Kelenjar adrenal tidak dapat terus melepaskan kortisol untuk regulasi sendiri, sehingga menyebabkan kelelahan.

Namun, banyak dokter tidak setuju bahwa kelelahan adrenal adalah diagnosis medis yang valid. Sebaliknya, mereka berpikir berfokus pada gangguan kesehatan ini bisa menyebabkan terlewatnya kondisi serius lainnya.

"Mengaitkan semua gejala dengan diagnosis tunggal 'risiko kelelahan adrenal' menyebabkan adanya penyakit mendasar lainnya tak terdeteksi," tambah Dr Tan.

2. Penyakit Lyme kronis

Dikenal juga sebagai sindrom penyakit Lyme paska terapi, penyakit Lyme kronis menunjukkan gejala seperti merasa letih tak berkesudahan, nyeri sendi, nyeri otot dan gangguan tidur.

Istilah ini biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi 20% pasien yang terus mengalami gejala penyakit Lyme yang sebenarnya, setelah diobati dengan antibiotik dua sampai empat minggu. Para dokter berteori bahwa gejala yang masih ada bisa terjadi karena residu kerusakan pada jaringan dan penurunan sistem kekebalan tubuh yang terjadi selama infeksi.

Namun, dokter juga mendiagnosis pasien dengan gangguan kesehatan ini bahkan ketika mereka tidak terinfeksi penyakit yang ditularkan tersebut. Pasien ini juga menunjukkan gejala serupa.

Penderita gangguan kesehatan diberi antibiotik untuk membantu meringankan gejala, meskipun diagnosis medisnya belum jelas. Namun, penelitian menunjukkan kemungkinan komplikasi serius dan pemberian antibiotik jangka panjang tidak memberikan hasil yang berbeda dengan placebo.

Dokter yang menawarkan pilihan terapi semacam itu "biasanya tidak mengikuti tindakan terapi yang umum direkomendasikan dan pedoman evidence-based," ungkap Christina Nelson, MD, ahli epidemiologi medis untuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat. "Sebagian besar dokter umum dan dokter penyakit menular tidak akan memberikan pilihan terapi ini."

3. Hipersensitivitas elektromagnetik


World Health Organisation (WHO) tidak mengakui hipersensitivitas elektromagnetik sebagai sebuah penyakit. Penderita kondisi ini mengklaim bahwa terkena radiasi elektromagnetik yang dihasilkan peralatan elektronik, telepon seluler dan router Wi-Fi memicu gangguan dermatologis, seperti kemerahan pada kulit atau sensasi terbakar, dan gejala lainnya, seperti kelelahan, jantung berdebar dan mual.

Dr Harriet A. Hall, penasihat medis dan penulis di Quackwatch percaya bahwa, "mereka memang menderita penyakit, namun menyebutnya sebagai gejala hipersensitif elektromaknetik merupakan tindakan tidak bijaksana, karena akan lebih baik jika mereka mencari penyebab sebenarnya dan memberikan terapi yang dibutuhkan."

Dokter lain seperti Dr Jonathan Pham dari Imperial College, London berpendapat ada faktor lain yang berperan, "termasuk faktor lingkungan seperti kebisingan dan pencahayaan serta faktor psikologis seperti stres dan penyakit jiwa."

Rasa sakit dan gejala seharusnya dianggap serius sampai penelitian menemukan bukti untuk validasi kondisi tersebut.

4. Sensitivitas bahan kimia

Sementara banyak bahan kimia terbukti menyebabkan gangguan kesehatan – seperti asap tembakau dan asbes – pasien percaya mereka menderita sensitivitas bahan kimia atau intoleransi lingkungan idiopatik disebabkan tingkat paparan bahan kimia rendah yang ditemukan dalam produk sehari-hari.

Pasien mengaku menderita berbagai macam gejala seperti sakit kepala, kelelahan, mual, gatal, nyeri dada, perubahan irama jantung, masalah pernapasan, ruam kulit, diare, gangguan memori dan perubahan suasana hati. Dengan banyaknya gejala yang dialami, banyak pula pemicu yang menjadi penyebabnya, seperti asap rokok, knalpot otomatis, parfum, insektisida, karpet baru dan klorin.

Gejala dan ketidaknyamanan itu nyata, namun belum tentu karena sensitivitas bahan kimia. Dokter percaya bahwa alergi dan sensitivitas berlebih berperan dalam hal ini, depresi dan kecemasan juga menjadi faktor pendukung.

"Sensitivitas terhadap bahan kimia sedang diperdebatkan dalam komunitas medis saat ini," menurut Johns Hopkins Medicine. "Beberapa penyedia layanan kesehatan mempertanyakan apakah penyakit tersebut ada, sedangkan yang lain mengakuinya sebagai gangguan kesehatan yang dipicu oleh paparan bahan kimia di lingkungan."

5. Sindrom Wilson 

Wilson’s syndrome is named after Dr E. Denis Wilson himself. Photo credit: WilsonsTemperatureSyndrome.com
Wilson’s syndrome is named after Dr E. Denis Wilson himself. Photo credit: WilsonsTemperatureSyndrome.com

Individu dengan kadar tiroid normal, namun mengalami gejala nonspesifik seperti kelelahan, mudah tersinggung, insomnia dan sakit kepala, sering dianggap menderita sindrom Wilson. Namun, setelah dilakukan uji tiroid, kadar hormon tiroid mereka normal.

Sindrom Wilson juga terkait dengan suhu tubuh rendah dan dianggap sebagai bentuk hipotiroidisme ringan, yang oleh Dr E. Denis Wilson – diberi nama dari namanya sendiri – dianggap dapat diterapi dengan hormon tiroid yang disebut triiodothyronine (T-3).

Walau begitu, American Thyroid Association menyimpulkan bahwa, "tidak ada bukti ilmiah bahwa T-3 memberikan efikasi lebih baik daripada plasebo pada individu dengan gejala nonspesifik, seperti yang dijelaskan pada sindrom Wilson."

"Teori yang diajukan untuk menjelaskan kondisi ini bertentangan dengan fakta tentang hormon tiroid yang ada." tambahnya. MIMS

Bacaan lain:
Misteri medis: Penyakit langka yang membingungkan para dokter
5 kondisi medis yang langka
8 kecanduan yang aneh di dunia

Sumber:
http://www.health.com/lyme-disease/morgellons-adrenal-fatigue-unexplained
https://www.webmd.com/a-to-z-guides/adrenal-fatigue-is-it-real#2
http://www.health.com/lyme-disease/chronic-lyme-disease-treatment-is-risky-says-cdc 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypothyroidism/expert-answers/wilsons-syndrome/faq-20058414
https://gizmodo.com/is-electromagnetic-hypersensitivity-a-real-illness-1797058292
https://www.cdc.gov/lyme/postlds/index.html
https://www.webmd.com/allergies/multiple-chemical-sensitivity#1
http://www.wilsonssyndrome.com/meet-dr-wilson/