Bagi keluarga Deater, mungkin tampak seperti reuni keluarga biasa – ada banyak makanan dan permainan anak-anak – di sisi sungai. Namun, pemandangan pada pertemuan ke-75 di daerah terpencil di Pennsylvania tampak berbeda – karena di antara 75 partisipan, ada beberapa yang duduk di kursi roda, menggunakan kruk, atau mengenakan alat penopang di kaki.

Di meja piknik, ada banyak serangga berkumpul, namun beberapa anggota tampak tetap tenang – karena mereka tidak bisa merasakan apapun. Mengalami mati rasa di jari dan anggota tubuh yang rusak, mereka adalah korban penyakit yang disebut HSAN1. Atau disebut juga "Penyakit Deater" karena mayoritas penderitanya di Amerika Serikat merupakan keturunan Alvin Deater.

Para penderitanya harus bersabar saat kehilangan kaki – jaringan kaki rusak sesaat setelah sinyal saraf hilang. Tiga anak laki-laki Alvin Deater kehilangan kaki mereka karena penyakit ini, dan seorang lagi adalah cicit laki-lakinya. Beberapa anggota keluarga pernah melakukan operasi bedah kaki berulang untuk memperbaiki deformitas tulang. Yang lainnya, jari-jari mereka sudah melipat, dan hanya menyisakan sisa beberapa potongan.

A 1915 photograph of the oldest of Alvin and Ellen Deater’s 12 children. Seven of their children would inherit the genetic mutation for HSAN1. Photo credit: Deater Family/STAT News
A 1915 photograph of the oldest of Alvin and Ellen Deater’s 12 children. Seven of their children would inherit the genetic mutation for HSAN1. Photo credit: Deater Family/STAT News


Alvin Deater, lahir di akhir tahun 1800an, menurunkan penyakit ini ke tujuh dari 12 anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, penyakit ini menyebar ke setidaknya lebih dari 30 anggota keluarga dalam enam generasi – dengan 16 lainnya masih terlalu muda untuk menunjukkan onset penyakit. Masih ada kemungkinan anggota keluarga lain juga terpengaruh, meskipun gejalanya ringan dan mungkin tidak disadari.

Anggota keturunan Deater mendirikan yayasan untuk mencari terapi jangka panjang – dan harapannya, menemukan penyembuh penyakit. Sejak didirikan di tahun 1990, Deater Foundation, dibiayai oleh anggota keluarga dan kontribusi dari perusahaan, dan sudah mendonasikan lebih dari S100.000 untuk penelitian HSAN1. Mereka tetap ingin mencari jawaban, dan berharap akan adanya terobosan terbaru.

Penyakit ini disebabkan kesalahan satu gen 

Hereditary sensory and autonomic neuropathy type 1 (HSAN1) merupakan penyakit keturunan, yang ditandai dengan kerusakan saraf sensorik yang mengatur rasa nyeri dan suhu disebabkan neuropati aksonal. Gejalanya meliputi rasa tertembak atau nyeri terbakar di anggota tubuh, dan biasanya terjadi di usia remaja akhir atau usia dua puluhan. Meskipun tidak masuk dalam kategori penyakit terminal, namun HSAN1 cukup menyusahkan penderitanya – dan banyak penderitanya harus melakukan operasi atau menggunakan alat bantu berjalan.

Lebih dari delapan dekade lalu, dokter Philadelphia memeriksa dua anak laki-laki Alvin, Harvey dan Russell, yang diduga memiliki lubang di sumsum tulangnya. Keduanya mendapat terapi radiasi dan mengalami luka bakar disebabkan sinar-X, sangat parah sehingga mereka harus melakukan cangkok kulit. Dilaporkan mati rasa yang mereka alami tidak membaik, dan bagian tulang belakang yang mati menyebar melalui kulit mereka yang terbakar.

Di pertengahan tahun 1970an, National Institute of Health melakukan lebih banyak tes pada anggota keluarga tetapi outcome-nya tidak cukup baik.

Di akhir tahun 1990an, peneliti di Amerika dan Eropa membandingkan gen keturunan Deater ke mereka yang sehat, dan juga dengan beberapa anggota keluarga penderita lain di seluruh dunia. Meskipun mutasinya sedikit berbeda, namun peneliti berhasil mendapatkan jejak penyebab penyakit, yaitu satu kesalahan tunggal pada penempatan asam nukleat – satu kesalahan terjemahan di antara miliaran kode lainnya.

Kesalahan gen ini memproduksi bahan dasar pembentuk enzim yang salah, dan menghasilkan toksin yang kemudian membunuh sel saraf.

Lindsey Newcomer, 12, sits next to her father, Eric Newcomer, while Dr Anne Louise Oaklander points out the tiny mark left by a skin biopsy. Photo credit: Aram Boghosian/STAT News
Lindsey Newcomer, 12, sits next to her father, Eric Newcomer, while Dr Anne Louise Oaklander points out the tiny mark left by a skin biopsy. Photo credit: Aram Boghosian/STAT News


Dimulai lebih awal: Memeriksa risiko penyakit ini pada anak-anak

Kepala Yayasan, Eric Newcomer, tidak bisa melanjutkan bekerja sebagai ahli elektrik saat gejalanya semakin memburuk. Mati rasa di tangan membuat ia berisiko saat menggunakan alat yang panas, dan sekarang ia memilih untuk menjadi guru.

Dimulai dari anak-anak, ia meminta semua anggota keluarga untuk melakukan tes dan mencari risiko penyakitnya. Anak perempuannya yang masih remaja, Alexis dan Lindsey Newcomer, sudah dua kali melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston, untuk berbagai tes keseimbangan dan sensorik.

"Tes keringat sangat tidak nyaman, tetapi yang lainnya cukup menyenangkan," sebut Lindsey, sekarang 13 tahun, saat pemeriksaan pertama.

Pada pemeriksaan kedua, Dr Anne Louise Oaklander, seorang dokter neurologi, mengambil 3 mm kulitnya – seperti ukuran tindikan anting – dari kaki bawah setiap anak.

Oaklander, sudah memeriksa keluarga ini selama 15 tahun terakhir, dan memiliki hubungan dekat dengan anak-anak Newcomer. Oaklander dan timnya akan menguji apakah saraf dalam kulit mereka menunjukkan tanda onset penyakit.

Hingga sekarang, mengidentifikasi gejala pertama mungkin tampak tidak mungkin bagi para peneliti, dan melakukannya bisa dianggap sebagai terobosan baru yang akan menggeser diskusi terapi menjadi pencegahan. Biasanya, pasien tidak menyadari gejala hingga mencapai tingkat lanjut dimana mereka membakar diri mereka sendiri tanpa menyadarinya atau menyadari mereka sedang berdiri di tengah salju tanpa merasa dingin.

"Saya memberi tahu mereka, kalian merupakan pelopor fase selanjutnya," kata Newcomer. "Saya ingin kalian rela ditusuk dan disampel. Baik itu untuk masa depan Anda atau saya atau generasi selanjutnya – inilah yang harus kita cari tahu."

Salah satu kemajuan yang paling bisa dipuji adalah bahwa ilmuwan sekarang bisa mendiagnosis HSAN1 dengan memeriksa karakteristik toksik penyakit dalam aliran darah, setidaknya pada orang dewasa. Anak perempuan Newcomer dan keponakannya juga akan membantu mengetahui apakah deteksi awal pada anak-anak bisa dilakukan.

Masa depan yang menjanjikan

Ahli biokimia Swiss Thorsten Hornemann menemukan, satu dekade yang lalu, bahwa membanjiri tubuh dengan serine bisa menghentikan produksi toksin penyebab kerusakan saraf pada anggota keluarga Deater. Serine diketahui bisa membantu pasien memproduksi enzim yang sesuai.

"Karena serine dibuat oleh tubuh – salah satu dari 21 senyawa yang dibutuhkan untuk menghasilkan protein – aman digunakan, bahkan pada jumlah yang relatif tinggi," ungkap Hornemann.

"Serine bukan obat farmasetik; namun merupakan suplemen nutrisi. Ini berarti makanan sehat banyak mengandung produk serine – tetapi kebanyakan mengandung zat aditif lain, seperti alanine, yang seperti menambahkan bensin ke api HSAN1," ungkap peneliti.

Hornemann baru-baru ini menyelesaikan penelitian klinis yang lebih panjang, dengan memberikan beberapa keturunan Deater serine dan yang lain diberikan placebo selama satu tahun. Ia mengatakan mereka menemukan beberapa – tetapi tidak besar – perbaikan.

Asam amino, katanya, tampaknya memberikan efek lebih baik pada tikus daripada pada orang dewasa – meskipun masih ada kesempatan membuat satu perubahan besar ke anak-anak penderita penyakit Deater. Mungkin tampak tidak layak, menurut peneliti, untuk menyembuhkan saraf yang sudah rusak dan anak-anak mungkin mendapat manfaat lebih besar daripada orang dewasa.

Anggota keluarga harus mencari serbuk serine saja dan melarutkannya beberapa kali sehari dengan air atau jus. Keluarga Deater mengetahui bahwa serine bukan penyembuh HSAN1 – tetapi setidaknya, bisa memperlambat perkembangan penyakit.

Kembali di tahun 2010, Eric Newcomer menjadi sukarelawan untuk penelitian serine selama 10 minggu percobaan dan diketahui memberikan efek baik. Ia mengatakan nyeri tertembak ini terasa seperti kembang api yang meledak di kakinya, namun tampaknya menjadi tidak terlalu sering terjadi. Jarinya masih tetap tertekuk dan masih membutuhkan kruk kaki.

"Terjadi penurunan perlahan, sehingga Anda harus menemukan sesuatu yang baru seiring berjalannya waktu," kata Newcomer, menunjukkan tanda positif keturunan Deater. "Apapun yang terjadi, kami – istri dan saya – akan tetap menghadapinya," katanya.

Anaknya Lindsey, yang suka bernyanyi lagi Disney, menyebutkan ia terkadang merasa jijik saat melihat oenutup luka yang terinfeksi. Tetapi, ia tidak terlalu gelisah atau menakutkan saat memikirkan mengenai penyakit ini.

"Saya sepertinya tahu itu ada di sana," katanya. "Saya hanya tidak terlalu memikirkannya."

Eric Newcomer’s hands have been affected by the disease that has haunted his family for generations. Photo credit: Aram Boghosian/STAT
Eric Newcomer’s hands have been affected by the disease that has haunted his family for generations. Photo credit: Aram Boghosian/STAT


Keluarga berharap akan keajaiban

Meskipun penyakit ini sudah diturunkan selama beberapa generasi, namun ada satu hal yang tetap ada – dukungan keluarga.

"Saat Anda khawatir tentang anak-anak atau masa depan Anda, hanya memikirkan mengenai kesembuhan saja saya sudah merasa sangat bahagia," ungkap kakak Eric, Tami Murphy.

Ibu mereka, Nancy Newcomer, meneteskan air mata ketika mengetahui ada kemungkinan menurunkan penyakit. Rasa bersalahnya, katanya, dan ia merasa penting bagi anggota keluarga untuk berpartisipasi dalam penelitian.

Harapan sesungguhnya, kata Bob Brown, sekarang kepala bagian neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts, adalah untuk mengeliminasi penyakit ini secara keseluruhan. Ia sudah mengikuti keluarga Deaters selama hampir 40 tahun.

"Kami tertarik untuk mencoba menidurkan gen mutan, sehingga mereka tidak bisa menghasilkan protein untuk membuat substansi toksik," katanya. Ia sudah menemukan bagaimana melakukannya di cawan petri dan berencana untuk melakukan percobaan pada tikus sebelum mencobanya pada manusia. "Saya akan menyebutnya sebagai awal dari ... hal menjanjikan, tetapi masih awal," katanya.

Meskipun Oaklander setuju bahwa edit gen merupakan harapan terbaik keluarga Deater, ia mencatat kemungkinan seseorang yang lain, di manapun, kemudian bisa mengalami kesalahan penerjemahan gen.

"Idealnya, kami ingin menghapuskan penyakit ini untuk seluruh generasi," katanya. "Tetapi tentu saja selalu ada kemungkinan untuk generasi di masa depan," tambahnya. MIMS

Bacaan lain:
Apakah suatu hari nanti babi bisa menjadi jawaban atas kebutuhan transplantasi organ?
Dokter Amerika memerintahkan untuk berhenti memasarkan teknik bayi tiga-orangtua
'Perancang bayi' mungkin masih belum bisa ada sekarang – penelitian CRISPR

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/08/14/rare-disease-neuropathy-deater/
http://www.deaterfoundation.org/about/about-hsan1/
http://eichler.mgh.harvard.edu/hsan1/
http://www.foxnews.com/health/2017/08/14/mysterious-disease-has-plagued-this-family-for-generations.html