Diabetes merupakan salah satu penyebab morbiditas di dunia disebabkan efek sistemiknya pada saraf, pembuluh darah dan morfologi organ. Pada tahun 2014, diestimasi 9% dari penduduk dunia yang berumur ≥18 tahun menderita diabetes. Sedangkan estimasi kasus diabetes di Indonesia tahun 2014 sendiri mencapai 9.116.030 (prevalensi diabetes nasional sebesar 5,81%) dan secara epidemiologi, diperkirakan pada tahun 2030, prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia akan mencapai 21,3 juta orang.

Baru-baru ini, penelitian menunjukkan bahwa warga Asia lebih rentan menderita diabetes disebabkan gangguan kemampuan memproduksi insulin saat merespon kadar glukosa darah tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh National University Hospital (NUH) di Singapura saat berhubungan dengan farmasetikal Janssen. Menemukan implikasi penting karena berarti bahwa warga Asia perlu memodifikasi pola makan mereka secara lebih ketat untuk mencegah onset diabetes tipe 2.

Peningkatan risiko komplikasi disebabkan kadar glukosa tinggi pada populasi Asia

Perbedaan etnis pada penderita diabetes selalu dianggap sebagai kontributor penyakit. Meskipun demikian, penelitian berhasil memvalidasi bahwa warga Asia memproduksi lebih sedikit insulin dibandingkan populasi Barat. Ini berarti warga Asia memiliki peningkatan risiko komplikasi yang dihubungkan dengan hiperglikemia seperti infeksi, letargi, penyembuhan luka yang buruk dan perubahan pada pembuluh darah.

Meskipun demikian, penelitian hanya dilakukan pada sejumlah kecil sampel partisipan – sekitar 140 individu, yang lebih dominan merupakan orang Cina. Untuk mendapatkan perspektif lebih umum mengenai efek etnis pada diabetes, ras Asia lain mungkin perlu diikutsertakan dalam penelitian lebih lanjut. Selain ukurannya yang kecil, Dr Toh Suh-Anne, seorang peneliti utama penelitian, mengomentari bahwa, "Hasilnya cukup signifikan untuk bisa mengidentifikasi karakteristik biologi yang membuat warga Singapura lebih rentan terkena diabetes, dan kami pikir penelitian ini bisa membantu kami untuk mengetahui apa yang membuat penderita diabetes Asia berbeda dari populasi Kaukasian."

IMT masih bisa digunakan sebagai risiko signifikan diabetes Diestimasikan bahwa sekitar 400.000 individu di Singapura sekarang menderita diabetes, sedangkan satu dari tiga individu menghadapi irisko menderita diabetes sepanjang hidupnya. Bahkan nilai IMT 23 – yang dianggap sehat pada populasi Kaukasian – sekitar 8% populasi Cina bisa menderita diabetes. Hal ini kemudian menunjukkan peran mematuhi pola makan rendah gula dan lemak, serta pentingnya rajin berolahraga.

Mr Alan Phua, seorang pebisnis berusia 34 tahun, ditemukan memiliki risiko diabetes dalam penelitian. Ia menyatakan bahwa ia "terkejut dan sedikit depresi" saat mengetahui bahwa risikonya menjadi lebih tinggi. Meskipun gaya hidupnya sudah dianggap sehat, ia tetap dinyatakan dalam status pre-diabetes. Setelah penelitian, ia berkomitmen untuk mencegah onset penyakit dengan membuat perubahan pola makan seperti menurunkan asupan nasi putih.

Membandingkan individu sehat dengan individu pre-diabetes

Pasien pre-diabetes diestimasikan memproduksi lebih sedikit insulin, sekitar 36% lebih rendah, dibandingkan subjek sehat. Ini berarti mereka lebih rentan mengalami hiperglikemia setelah makanan kaya gula dan dalam jangka panjang, juga rentan menderita diabetes.

Penelitian yang mempelajari prevalensi diabetes pada populasi Asia disebut juga Assessing Progression to Type 2 diabetes, dan dilakukan selama lima tahun. Penelitian ini ingin mengumpulkan individu dari berbagai ras dalam komunitas Asia untuk mendapatkan representasi kekambuhan diabetes yang lebih merata di antara semua warga Asia.

Penemuan ini menghasilkan implikasi penting bagi warga Asia khususnya dalam hal menggunakan perubahan gaya hidup. Disarankan agar mereka mengonsumsi lima porsi buah atau sayur bersamaan dengan pola makan yang mengandung kompleks karbohidrat primer – seperti roti atau pasta gandum. Penelitian juga mempertanyakan mengenai apakah penduduk perlu diperiksa untuk menemukan warga pre-diabetes untuk menyemangati mereka mengikuti gaya hidup sehat dan penurunan risiko diabetes di masa depan. MIMS

Bacaan lain:
Kurus tapi gemuk: Orang Asia memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan akibat obesitas meskipun memiliki angka IMT lebih rendah
Dokter sebagai contoh hidup sehat bagi pasien
3 penemuan baru untuk terapi diabetes

Sumber:
http://www.straitstimes.com/singapore/why-are-singaporeans-so-prone-to-diabetes-they-cant-produce-enough-insulin 
http://www.straitstimes.com/singapore/health/study-asians-unable-to-produce-enough-insulin?login=true&paywall-error-type=concurrentLimitExceeded
https://www.nst.com.my/news/nation/2017/10/292025/surprising-study-reveals-asians-may-be-more-prone-diabetes
http://www.channelnewsasia.com/news/health/prediabetic-asians-not-producing-enough-insulin-nuh-study-9315358