Dr Marshall Klaus (L) with his colleague Dr John Kennell at University Hospitals Cleveland Medical Center in an undated photograph. Photo credit: University Hospitals Cleveland Medical Centre/The New York Times
Dr Marshall Klaus (L) with his colleague Dr John Kennell at University Hospitals Cleveland Medical Center in an undated photograph. Photo credit: University Hospitals Cleveland Medical Centre/The New York Times
Pada tahun 1960an, Dr Marshall Klaus menyadari bahwa bayi baru lahir yang terpisah dari ibunya akan mengalami kesulitan untuk membangun ikatan batin di kemudian hari. Dokter ahli neonatologi dan Dosen tambahan di Universitas California, San Francisco mengatakan bahwa ikatan tersebut muncul melalui kontak mata, ekspresi wajah dan suara yang berirama. Efeknya adalah peningkatan kemungkinan pemberian ASI, perkembangan anak yang lebih baik dan bahkan mengurangi potensi kekerasan dan menelantarkan anak.

Atas dasar tersebut, Dr Klaus mulai mendedikasikan waktunya dan mengadakan penelitian mengenai cara meningkatkan ikatan ibu dan buah hati.



Disambut melalui foto persalinan

Bersama dengan rekannya, dokter anak John Kennell, Dr Klaus melakukan penelitian pendahuluan yang mengizinkan keluarga pasien masuk ke Unit Perawatan Intensif Neonatal – daripada mengisolasi bayi dalam inkubator – dan untuk memaksimalkan ikatan ibu-bayi paska persalinan. Ia juga meneliti keluarga pendukung yang kehilangan bayi. Pada akhirnya, penelitian ini menginspirasi terbentuknya Baby-Friendly Hospital Initiative (BFHI) pada tahun 1991 – sebuah usaha bersama antara World Health Organisation (WHO) dan UNICEF secara global – untuk menerapkan sistem kesehatan yang melindungi, mempromosikan dan mendukung pemberian ASI.


Pada tahun 1972, Dr Klaus dan Dr Kennell mengembangkan teorinya mengenai ikatan ibu-bayi dalam The New England Journal of Medicine – setelah meneliti perilaku kambing. Mereka mengamati induk kambing yang baru melahirkan – dan dipisahkan dengan anaknya – akan cenderung menendang bayinya sendiri; dan tidak berhasil membangun ikatan ibu-anak setelahnya.

Berkat temuan tersebut, banyak rumah sakit mulai mengizinkan ibu dan bayinya untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama – ditambah kehadiran ayah di kamar bersalin, dan kakak sang bayi.

"Kami berusaha mengembalikan unsur penting dalam sebuah persalinan," tutur Klaus kepada The New York Times di tahun 1993. "Ini merupakan suatu metode yang manusiawi."

Doula – kekuatan dalam budaya persalinan

Pada tahun 1992, Dr Klaus, istrinya (Phyllis Klaus), Dr Kennell dan dua rekan lainnya mendirikan DONA International (Doulas of North America) – yang sejak saat itu berkembang menjadi organisasi doula terbesar dan paling dihormati di dunia. Doula adalah istilah Yunani untuk pembantu wanita dan seorang doula – yang diciptakan oleh Dr Klaus – adalah seorang profesional terlatih, yang memberi dukungan fisik, emosi dan informasi berkesinambungan kepada seorang ibu sebelum, selama dan segera setelah melahirkan.

Penelitian klinis yang memeriksa persalinan mengikuti metode doula menunjukkan lebih baiknya ikatan ibu dan buah hati. Dr Klaus mengklaim bahwa kehadiran doula bisa mengurangi tenaga kerja, penggunaan penghilang rasa sakit dan jumlah operasi cesarean serta meningkatkan ikatan antara ibu dan bayi.

Dr Klaus telah membuat perubahan monumental melalui dua Praktik Kesehatan Terbaik Lamaze – Praktik 3: Bawa Orang Tercinta, Teman atau Doula sebagai Dukungan berkelanjutan dan Praktik 6: Biarkan Ibu dan Bayi Bersama, Hal Terbaik untuk Ibu Menyusui dan Bayinya. Ia juga menulis buku "The Amazing Newborn: Discovering and Enjoying Your Baby’s Natural Abilities" (1985) dan " Mothering the Mother: How a Doula Can Help You Have a Shorter, Easier and Healthier Birth" (1993), yang mengilhami banyak orang untuk menjadi doula.

Dr Klaus baru-baru ini menutup usia pada usia 90 tahun, di San Francisco, tempat tinggalnya. Pahlawan kesehatan yang menderita polio saat sedang menempuh pendidikan kedokteran ini – menyebabkan lengan kanannya lemah, ingin menjadi seorang dokter kandungan. Tak seperti keinginannya, ia malah menjadi spesialis di bidang pulmonologi pediatrik dan perkembangan neonatal, salah satu alasannya adalah karena cacat yang dialaminya – meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi rumah sakit dan kamar bersalin.” MIMS

Bacaan lain:

Pencetus metode Leboyer: Melahirkan tanpa kekerasan
Depresi setelah melahirkan: Bagaimana perawat bisa membantu
Gangguan tidur pada wanita hamil berhubungan dengan bayi lahir prematur

Sumber:
https://www.nytimes.com/2017/08/25/health/marshall-klaus-dead-studied-emotional-bonding-with-newborns.html
https://www.dona.org/the-dona-advantage/about/history/dr-klaus-tribute/?mc_cid=b1b799a103&mc_eid=2ea0d7fafd
https://womenshealthtoday.blog/2017/08/23/a-tribute-to-marshall-klaus/
http://www.lamazeinternational.org/p/cm/ld/fid=88
http://www.lamazeinternational.org/p/cm/ld/fid=85
https://www.scienceandsensibility.org/blog/marshall-klaus