Seorang wanita warga negara Singapura disidang atas tuduhan melakukan 21 penipuan ke 18 dokter poliklinik Jurong dan Bukit Batok, dengan berpura-pura menjadi orang berbeda. Wanita ini berhasil mendapat obat batuk dengan total seharga lebih dari S$500.

Eileen Siak, 33, memiliki ketergantungan kodein dan pada 17 November dinyatakan telah melakukan 7 kesalahan berupa obat seharga S$265. Empat belas tuduhan lain yang bersangkutan dengan uang sebesar S$260 sedang dipertimbangkan oleh hakim.

Hakim agung Publik Vadivalagan Shanmuga mengatakan bahwa Siak yang pernah bekerja sebagai manajer akuntansi divisi Kesehatan dan Gaya Hidup (2009-2011), mengeksploitasi daftar konsumen perusahaan, seperti nomor NRIC dan detail kontak mereka. Ia memindahkan daftar biodata tersebut ke folder email pribadinya, bukan ke email perusahaan dan ia tidak menghapusnya ketika berhenti bekerja.

Periksa menggunakan identitas palsu

Pada 23 April 2014 dan 4 Maret 2015, Siak dapat periksa ke klinik secara berkala. Hampir setiap hari ia mendapat suplai obat batuk. Namun lama-kelamaan Siak merasa takut klinik akan berhenti memberi obat dan kemudian memutuskan untuk menggunakan informasi biodata dalam daftar konsumen perusahaan sebelumnya.

Ia membuat janji periksa menggunakan nomor telepon selulernya sendiri, namun menggunakan detail biodata daftar konsumen. Sehingga ia datang periksa menggunakan identitas palsu pemilik nama yang didaftarkan.

Meskipun tidak menderita batuk, ia datang periksa untuk mendapat resep untuk menebus obat. Lama-kelamaan, ia menebus resep di instalasi farmasi tanpa membayar dan ia sudah mengambil obat setidaknya sebesar S$524.

Ibu Serena Foo Ai Buay, senior manajer Poliklinik Kesehatan Nasional, yang memimpin sembilan poliklinik di Singapura menyadari penipuan ini – Ibu Foo menemukan ada seseorang yang membuat janji di beberapa poliklinik, dengan menggunakan nomor yang sama namun nama berbeda. Ia kemudian memutuskan untuk melaporkan penipuan ini di bulan Maret 2015.

Hakim memberi keringanan melalui MTO

Siak, diwakili olej Josephus Tan, mengatakan bahwa kliennya, seorang sarjana teknik kimia dan telah menderita ketergantungan kodein sejak Juni 2013. Ia sebelumnya telah meminta bantuan dokter di Institut Kesehatan Mental untuk menyembuhkan ketergantuannya dan depresi yang ia derita setelah melahirkan.

Beberapa bulan terakhir, ia datang ke klinik keluarga setiap hari demi mendapat kodein, katanya.

Ia menambahkan bahwa Siak hanya membutuhkan "waktu dan intervensi/bantuan medis" untuk rehabilitasi dan mengembalikan kehidupannya.

Hakin Daerah Shawn Ho, dalam responnya, memberi kesempatan berupa Perintah Terapi Wajib (Mandatory Treatment Order [MTO]) dan mengundur pengambilan keputusan hukuman hingga 13 Januari tahun depan.

Dengan mendapat MTO, Siak harus mengikuti semua sesi terapi dengan psikiatri yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan dan Institut Kesehatan Mental. Hukuman maksimum untuk Siak karena menipu adalah hukuman tiga tahun penjara dan membayar denda. MIMS

Sumber:
http://www.straitstimes.com/singapore/courts-crime/woman-deceived-polyclinic-doctors-into-delivering-cough-medication-to-her
http://www.tnp.sg/news/singapore-news/she-duped-18-doctors-give-her-codeine