Di tahun 2013, Cole Hartman, yang hampir tenggelam di rumahnya di Amerika Serikat, dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Dokter menyatakan bahwa anak ini tidak akan pernah terbangun dan kemudian orangtuanya memutuskan untuk mencabut semua alat pendukung kehidupannya dan mendonasikan organ sang anak.

Kasus ini mulai mencuat saat polisi menyelidiki kasus kematian anak laki-laki berusia delapan tahun dan mencari alasan kematiannya akibat dosis fatal fentanyl, obat penghilang nyeri.

Penyebab kematian Cole Hartman

Cole dilahirkan dengan abnormalitas genetik, sindrom X rentan, menyebabkan dia mengalami disabilitas fisik dan intelektual. Di hari itu, di bulan Juli 2013, ayahnya menemukan kepala Cole masuk ke mesin cuci yang sedang berputar - berdasarkan estimasi orangtuanya - kepala Cole mungkin sudah tenggelam selama 25 menit.

Setelah dibawa ke Pusat Medis UCLA, Dr Judith Brill, professor emeritus dari pengobatan klinis anestesiologi dan perioperatif, yang memeriksa Cole. Menurut catatan dari Brill yang dibuat dalam bagan Cole, tim menginformasikan bahwa scan otak menunjukkan kerusakan "abnormal" dan menyebutkan kerusakan ekstensif karena kekurangan oksigen.

Ia juga mencatat bahwa keluarga "dengan suara bulat memutuskan untuk menghentikan alat bantu" dan memutuskan untuk mendonasikan organnya. Karena Cole tidak koma, prosedur donasi bisa dilakukan setelah kematian jantung. Hal ini berarti alat bantu pernapasan dihentikan dan jantungnya berhenti berdetak.

Brill memberikan fentanyl saat ventilator dihentikan yang ia katakan untuk mengurangi penderitaannya. Denise Bertone - kolonel yang kemudian memeriksa tubuh sang anak - menyatakan terdapat 500 mikrogram dosis fentanyl yang membunuhnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah dosis fatal diberikan untuk mempercepat kematiannya dan menjaga organnya agar lebih layak untuk donasi.

Bertone melaporkan kasus ini setelah menyatakan keragu-raguannya.

Kontroversi dibalik kondisi mati jantung

Donasi setelah mati otak lebih banyak dilakukan, dalam beberapa cara, dianggap sebagai standar logis donasi organ. Untuk memenuhi paradoks: Donor harus mati, tetapi organ itu sendiri harus tetap hidup. Paradoks ini pertama kali disebutkan pada 1968; namun, kurang dari 1% pasien yang meninggal di rumah sakit mengalami mati otak.

Dengan demikian, ilmuwan menganjurkan ekspansi donor potensial di tahun 1990an dimana terdapat daftar panjang transplantasi. Dengan demikian, mati jantung dipopulerkan satu kali lagi sejak di awal 1970an sebelum diterimanya mati orak. Karena mati jantung meliputi menghentikan alat bantu napas dan kemudian menunggu pasien untuk berhenti bernapas sendiri, waktu adalah masalah utamanya.

Donor mati jantung jarang sekali bisa mendonasikan jantung dan paru-paru yang cukup tetapi organ lain seperti hati dan ginjal bisa bertahan selama 30 hingga 60 menit. Dalam kasus ini, keseluruhan donasi dibatalkan jika pasien tidak berhenti bernapas dalam periode waktu yang ditentukan. Tekanan waktu yang dihubungkan dengan mati jantung banyak dikritik terutama dalam hubungannya dengan masalah etika sebagai alasan untuk menolak metode ini dibandingkan mati otak.

Di tahun 2007, dokter di San Luis Obispo harus menghadapi meja hijau karena menggunakan morfin untuk mempercepat kematian organ donor. Pasien tidak meninggal selama tujuh hari. Meskipun dokter dibebaskan, namun kasus ini dijadikan sebagai tanda peringatan untuk dokter bedah.

Pertanyaan dan protokol yang samar

Protokol mati jantung di rumah sakit sudah diperbarui dan didetail untuk mencegah konflik. Meskipun demikian, beberapa pertanyaan masih belum terjawab.

Contohnya adalah seberapa jauh dokter bisa mengawetkan organ sebelum organ mati jantung meninggal? Apakah mereka diperbolehkan menyuntikkan heparin untuk pengawetan tetapi tidak berguna bagi pasien? Bisakah mereka memasukkan kateter ke pasien untuk melanjutkan oksigenasi darah segera setelah jantung berhenti berdetak?

Jeremy Simon, seorang dokter gawat darurat dan bioetika di Universitas Columbia mengatakan, "Selama jantung pasien masih berdetak, mereka dianggap pasien kami." Ia menyatakan untuk menyelesaikan masalah ini, sebelumnya ia akan meminta persetujuan prosedur dari orangtua atau wali pasien.

Pada kasus Cole, Brill memaparkan fentanyl sebagai bentuk "perawatan nyaman". Dicatat bahwa dalam kebijakan UCLA penggunaan opioid diperbolehkan "dalam dosis yang secara klinis cocok untuk mencegah ketidak nyamanan". Kebijakan juga menyatakan "intervensi untuk mengawetkan fungsi organ, tetapi bisa mempercepat kematian, tidak boleh dilakukan." MIMS

Bacaan lain:
Berusia 89 tahun, seorang dokter bedah Rusia masih mengoperasi empat hari dalam seminggu dan tidak pensiun
Bayi kembar tiga berhasil melewati prosedur operasi tengkorak kepala pertama di dunia
Masalah terbaru industri medis – alat medis palsu

Sumber:
https://www.theatlantic.com/health/archive/2017/06/organ-donation-death/530511/
http://www.latimes.com/local/lanow/la-me-adv-organ-donation-20170612-story.html
http://www.foxla.com/news/local-news/260785112-story
http://www.lifenews.com/2017/06/14/doctor-allegedly-hastened-the-death-of-an-8-year-old-boy-to-harvest-his-organs/
http://abc7.com/news/questions-arise-over-castaic-boys-2013-death-at-la-hospital/2089965/