Setelah lima tahun berjerih lelah dalam fakultas farmasi, banyak dari kita yang akan menyambut gelar apoteker dan berharap membuat suatu perubahan. Namun faktanya, bukannya menghabiskan waktu dan tenaga untuk menghasilkan pengaruh positif, kebanyakan apoteker malah menjadi korban pekerjaan yang tiada habisnya. Banyak profesional muda akhirnya menyerah mengikuti pola yang sudah ada dalam sistem pekerjaan yang disebut perawatan kesehatan.

Mengatasi masalah yang ada

Kelelahan pada apoteker bukanlah sesuatu yang baru. Meskipun masalah pada apoteker tidak terlalu menarik perhatian publik dibandingkan masalah pada dokter – namun masalah ini tetap perlu diperhatikan. Faktanya, laporan pada angka bunuh diri berdasarkan profesi berbeda oleh CNN menemukan bahwa angka bunuh diri pada apoteker berada di peringkat pertama sebagai berpotensi melakukan bunuh diri.

Di Jepang, penelitian lain dilakukan pada apoteker rumah sakit dan mereka menemukan sejumlah besar apoteker yang mengalami stres psikologis dan kelelahan berat. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa stres di tempat kerja mungkin bisa "lebih diatasi" seiring dengan bertambahnya jam terbang apoteker. Meskipun demikian, kesimpulan serupa tidak bisa dibuat pada kecenderungan mengalami kelelahan dan pengalaman kerja.

Diskusi mengenai kelelahan dan stres psikologis di tempat kerja perlu dikaji lebih lanjut lagi sebagai sindrom multidimensional kelelahan, dan bagaimana membedakan kondisi kelelahan dari stres.

Memahami psikologis di balik kelelahan

Dr Guido Zanni, seorang psikolog dan spesialis sistem kesehatan, menyebutkan tiga karakteristik utama kelelahan:
  • Sinisme – sikap negatif di tempat kerja dan pada pekerjaan, mungkin disebabkan oleh teman sekerja atau client, yang kemudian menyebabkan depersonalisasi (dianggap sebagai karakteristik pembeda kelelahan).
  • Kelelahan emosional – merasa terkuras, apatis, dan cuek.
  • Tidak efektif – terhadap waktu, merasa tidak puas, yang bisa memicu sikap tidak menghargai pekerjaan sendiri dan menyebabkan kegelisahan dan ragu-ragu terhadap anggapan bahwa pekerjaan baru merupakan sesuatu yang tidak berarti.
Poin terakhir berpotensi menurunkan nilai persepsi apoteker terhadap pekerjaannya, yang kemudian menyebabkan muncul perasaan bahwa pekerjaan baru merupakan sesuatu yang tidak berarti.

Ada perbedaan utama antara kelelahan dan stres, meskipun keduanya sangat berhubungan. Stres di tempat kerja bisa memicu rasa gelisah, iritabilitas dan kelelahan emosi. Tetapi, sinisme dan perasaan tidak pernah puas banyak berhubungan dengan kelelahan.

Profesor Christina Maslach, seorang peneliti pada kelelahan di tempat kerja dan psikolog kesehatan, pernah menulis bahwa "Apa yang pada mulanya penting, berharga, dan menantang, menjadi tidak menyenangkan, tidak memuaskan dan tidak berarti. Energi berubah menjadi kelelahan, keikutsertaan berubah menjadi sinisme, dan efikasi menjadi ketidak efektivitasan."

Pengaruh kelelahan pada apoteker

Ada sejumlah besar faktor penyebab apoteker sering merasa lelah. Selain gangguan psikosomatik seperti depresi dan rasa gelisah, bukti empiris juga menunjukkan adanya peningkatan konsumsi alkohol atau angka bunuh diri.

Masalah kelelahan pada tenaga kesehatan merupakan hal yang berkebalikan dari perannya: untuk mencegah dan membantu pemulihan pasien. Meskipun demikian, ancaman kelelahan semakin banyak menyerang semua tenaga kesehatan dari berbagai posisi.

Kualitas dan keamanan pelayanan kesehatan diberikan oleh tenaga kesehatan profesional yang merasa lelah. Penelitian yang dilakukan pada dokter umum dan dokter bedah menunjukkan bahwa kelelahan merupakan prediktor bebas kesalahan medis dan malpraktek. Hasil observasi demikian juga ditemukan konsisten pada perawat, dimana infeksi dalam sistem kesehatan, seperti infeksi saluran kemih dan infeksi dalam ruang operasi, dihubungkan dengan angka kelalahan. Selain itu, kelelahan emosi pada tim perawatan pasien kritis ditunjukkan memiliki pengaruh langsung pada rasio kualitas interpersonal dan mortalitas pasien.

Tidak mengejutkan bahwa kesimpulan serupa bisa diambil pada apoteker. Literatur saintiufik yang menghubungkan kelelahan pada apoteker dan tekana kesehatan lain dengan keamanan pasien semakin banyak, yang memperkuat permintaan kepada para pemerintah dan organisasi keprofesian untuk menganggap hal ini sebagai suatu masalah yang harus segera diatasi.

Tentu saja, apoteker, sebagai bagian dari komunitas kesehatan harus mengambil inisiatif untuk mengatur beban kerja dan mulai memikirkan peran penting kesehatan mental dalam praktek kesehatan. Karena sehat mental juga merupakan bagian dari profesionalitas. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa apoteker perlu mempertimbangkan instruksi penggunaan gelas dan sendok ukur
Apoteker: Bagaimana cara menulis portofolio yang baik
Peran apoteker dalam mempromosikan program imunisasi

Sumber:
http://edition.cnn.com/2014/01/19/us/lawyer-suicides/index.html 
https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12889-016-3208-5 
http://www.pharmaceutical-journal.com/news-and-analysis/pharmacist-stress-levels-rising-above-national-average/10965153.article 
http://www.pharmacytimes.com/publications/issue/2008/2008-03/2008-03-8436 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11148311 
https://nam.edu/burnout-among-health-care-professionals-a-call-to-explore-and-address-this-underrecognized-threat-to-safe-high-quality-care/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3509207/