Orang yang menikah bukan hanya memiliki kesempatan lebih baik dalam hal selamat setelah mengalami serangan jantung, tetapi juga bisa membantu mengatasi berbagai risiko penyakit jantung.

Ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Fakultas Kedokteran Aston di Birmingham, Inggis, yang mengikutsertakan 929.552 partisipan. Salah satu penelitian terbesar mengenai subjek ini, dilakukan antara tahun 2000 dan 2013.

"Penelitian mengonfirmasi pentingnya faktor psikososial ini pada pasien penyakit jantung secara keseluruhan," catat Dr Rahul Potluri, seorang penulis senior dan anggota European Cardiac Society.

Peneliti mengatakan bahwa pasien yang sudah menikah memiliki kecenderungan selamat setelah serangan dibandingkan pasien lajang. Selain itu, pasangan (suami/istri) cenderung akan menjauhi pasien dari risiko serangan jantung yang bisa dicegah, yang menyebabkan 80% serangan.

"Pernikahan dan hidup dengan pasangan hidup di rumah bermanfaat sebagai pemberi dukungan emosi dan fisik hingga tingkat tertentu, dimulai dari mendorong pasien untuk hidup sehat," kata Dr Paul Carter, kepala penulis penelitian.

Salah satu penemuan yang signifikan adalah pasien yang sudah menikah sering mendapat bantuan dari pasangan mereka untuk menerima kondisi yang ada dan patuh pada terapi medis, sehingga kesempatan sembuhnya menjadi lebih tinggi.

Dari keseluruhan partisipan, 25.287 pernah mengalami serangan jantung sebelumnya, 168.431 menderita hipertensi, 53.055 memiliki kolesterol tinggi, dan 68.098 menderita diabetes melitus tipe 2, sebagaimana yan tercatat dalam database Algorithm for Comorbidities, Associations, Length of Stay and Mortality (ACALM).

Peneliti membagi partisipan menjadi lajang, menikah, bercerai, atau yatim, dan diikuti perkembangannya hingga tahun 2013.

"Pernikahan juga bisa melindungi pasien pemilik tiga faktor risiko terbesar penyakit jantung. Pasien yang sudah menikah dengan kolesterol tinggi memiliki kemungkinan 16% lebih tinggi hidup hingga penelitian usai," menurut peneliti, saat mendiskusikan hasil penelitian.

Kemudian, pasien sudah menikah dan penderita diabetes memiliki risiko 14% mengalami gangguan jantung, sedangkan mereka yang mengidap tekanan darah tinggi memiliki risiko 10%.

Sebaliknya, peneliti juga menemukan bahwa pasien yang sudah bercerai dan memiliki tekanan darah tinggi atau serangan jantung sebelumnya dan memiliki angka kehidupan yang lebih rendah, dibandingkan pasien yang sudah menikah.

Tim peneliti merasa stres dengan pendekatan holistik untuk mencegah masalah jantung seperti stres dan kejadian stres yang berhubungan dengan penyakit jantung.

"Penting agar pasien dengan faktor risiko berbahaya, tetapi bisa dicegah ini untuk mengikuti saran perubahan gaya hidup dan pengobatan dari dokter mereka untuk membatasi risiko yang ada, dan memberikan dukungan sosial merupakan suatu hal yang penting dilakukan," simpul peneliti. MIMS

Bacaan lain:

Pernikahan dengan sejawat lain: Jodoh dari Tuhan?
Gangguan jantung merupakan penyebab satu per tiga kematian di dunia
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal

Sumber:
https://www.escardio.org/The-ESC/Press-Office/Press-releases/Married-patients-with-heart-disease-have-better-survival-rates
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/08/170828093815.htm