Diawali oleh Dr James Lind, pada tahun 1747, dalam penelitian mengenai obat penyembuh penyakit kudis, merupakan penelitian klinis pertama yang kemudian menjadi standar jutaan penelitian lain.

Sejumlah besar uang diinvestasikan untuk penelitian klinis, tetapi pertanyaannya adalah; Apakah penelitian klinis masih menghasilkan hasil signifikan yang bisa mengarahkan ke praktek medis terbaik?

Apakah penelitian klinis layak menerima investasi milliaran dollar?

Penelitian klinis sudah dijadikan standar emas dalam penelitian sains, dengan dua tujuan utama - persetujuan obat terapi baru yang aman pada manusia dan untuk membandingkan efikasi dengan terapi yang sudah ada.

Penelitian klinis banyak dibiayai oleh industri farmasi, yang ingin sukses mengembangkan obat, dan melakukan percobaan rahasia di laboratoriumnya.

Namun, penelitian yang membandingkan terapi, biasanya dibiayai oleh publik dan dilakukan di universitas demi mengarahkan pandangan pemerintah, tenaga kesehatan, dan pasien. Meskipun biayanya lebih rendah dari industri farmasi, penelitian ini tetap membutuhkan biaya banyak. Misalnya saja, National institute of Health Research mengeluarkan £74 juta untuk melakukan penelitian di tahun 2014 dan 2015.

Singapore Economic Development Board (EDB), juga menawarkan penelitian seharga S$1 juta untuk dua tahun, dan S$25 juta untuk penelitian lima tahun. Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, juga mengumumkan bahwa pemerintah akan menginvestasikan S$4 milliar per tahun untuk penelitian hingga tahun 2020.

Dengan sejumlah biaya tersebut, beberapa ahli mengestimasikan sekitar 50% penelitian akan menghasilkan hasil yang tidak jelas secara statistik dan memberikan informasi tidak akurat mengenai efektivitas terapi.

Selain itu, sejumlah besar publikasi saintifik pun ditemukan memberikan informasi yang tidak penting, menyalahartikan, dan berkonflik.

Standar emas penelitian klinis - hanya ukuran sampel yang baik

Salah satu masalah yang muncul adalah dibutuhkan jumlah sampel yang besar untuk memastikan data signifikan secara statistik, biasanya dalam penelitian tahap akhir yang merekrut partisipan manusia.

Sebelum melakukan penelitian, peneliti perlu menghitung ukuran sampel yang cukup berdasarkan data variansi dan outcome yang ingin dihitung, dan mempublikasikan jumlahnya bersama dengan hasil penelitian untuk dikaji kembali.

Misalnya, penelitian Add-Aspirin di Inggris, mencari 11.000 pasien untuk menginvestigasi efek aspirin pada kekambuhan kanker. Jika partisipannya tidak cukup dibandingkan ukuran sampel yang diinginkan, peneliti tidak dapat menarik suatu kesimpulan dan menyatakan bahwa kesimpulan yang mereka buat adalah valid - bahkan meskipun ada perbedaan yang terdeteksi dalam penelitian - dan hasil akhir penelitian bisa menjadi palsu.

Ukuran sampel yang tidak cukup, penelitian tetap berjalan

Masalahnya adalah meskipun beberapa penelitian ini tidak memiliki cukup partisipan, penelitian tetap dijalankan dan hasilnya tetap dievaluasi.

Analisis penelitian yang dibiayai oleh dua badan pembiayaan Inggris terbesar dan dilakukan antara 1994 dan 2002 menunjukkan bahwa lebih dari dua per tiga penelitian gagal merekrut jumlah yang diminta. Dari penelitian ini, 53% diizinkan melakukan penelitian lanjutan dan diberikan pembiayaan, meskipun 80% dari penelitian ini gagal memenuhi targetnya.

Analisis penelitian lanjutan dilakukan pada 2002 hingga 2008 dan menemukan hanya 55% penelitian mencapai jumlah yang diinginkan.

Inggris - pelaku penelitian klinis terdepan - menghadapi masalah perekrutan, yang menyebabkan penelitian klinis sulit mencapai target yang diinginkan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa menghubungi target non-responsif bisa meningkatkan hanya 6% partisipan.

Intervensi lain mengecewakan, mengarahkan bahwa menginformasikan partisipan bahwa mereka berada dalam kelompok kontrol membuat mereka kecewa.

Banyak peneliti tidak memahami masalah menemukan metode untuk meningkatkan efektivitas perekrutan. Sayangnya, dengan semakin ketatnya pembiayaan, perekrutan dipandang bukan sebagai prioritas penelitian. MIMS

Bacaan lain:
Penelitian antibodi tidak selalu bisa diandalkan
Mengapa dokter harus terus belajar?
Kontrasepsi pria: Masalah yang dihadapi
Ketika placebo bukan lagi placebo


Sumber:
https://www.edb.gov.sg/content/edb/en/industries/industries/pharma-biotech.html
http://www.asianscientist.com/2016/01/topnews/rie2020-rnd-budget-singapore/
http://theconversation.com/healthcares-dirty-little-secret-results-from-many-clinical-trials-are-unreliable-67201