Menggunakan teknik edit gen, CRISPR, peneliti dari Institut Francis Crick di Inggris, berhasil mengidentifikasi protein yang disebut OCT4 yang penting untuk pertumbuhan embrio, dengan menghentikan gen yang menghasilkannya.

Penulis menjelaskan bahwa tujuh hari setelah fertilisasi, telur terfertilisasi membentuk blastosit, bola berisi 200 sel dan OCT4 untuk memastikan blastosit ini dibentuk dengan benar. "Kami terkejut untuk melihat seberapa penting gen ini untuk perkembangan embrio manusia, tetapi kami perlu melajutkan pekerjaan kami untuk mengonfirmasi mekanisme aksi ini," ungkap Dr Norah Fogarty, penulis pertama penelitian.

Ini merupakan pertama kalinya edit gen digunakan untuk mempelajari fungsi gen. Hasil yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 20 September 2017 merupakan saksi hasil kerjasama peneliti dari Universitas Cambridge dan Oxford, Wellcome Trust Sanger Institute, Seous National University dan Bourn Hall Clinic.

Tujuan dari penelitian adalah untuk memahami mengapa banyak kasus kehamilan gagal (hanya 12% embrio yang difertilisasi berhasil melahirkan bayi sehat), dan untuk mempelajari bagaimana cara meningkatkan terapi IVF. Untuk itu, tim pertama menghabiskan waktu satu tahun untuk memperbaharui teknik mereka menggunakan embrio tikus dan sel punca embrio manusia sebelum akhirnya menggunakan embrio manusia.

Embrio yang digunakan dalam penelitian didonasikan oleh pasangan yang pernah melakukan terapi IVF sebelumnya dan sudah berhasil dan mengizinkan penggunaan sisa embrio mereka untuk penelitian. Peneliti mematikan aksi gen OCT4 pada DNA 41 embrio; dan memeriksanya selama tujuh hari perkembangan, menghentikan perkembangannya dan menganalisis hasil yang didapatkan.

Dr Kathy Niakan, yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa, "salah satu cara untuk mengetahui gen apa yang memainkan peran dalam perkembangan embrio adalah dengan memeriksa apa yang terjadi saat gen tersebut tidak bekerja." Selain dari pembentukan blastosit, OCT4 juga meliputi perkembangan sel yang menjadi plasenta dan dipercaya bisa membantu sel punca berdiferensiasi menjadi berbagai macam jaringan.

"Kami memiliki teknologi untuk menciptakan dan menggunakan sel punca yang pluripoten; tetapi kami masih tidak mengerti bagaimana sel ini bekerja. Belajar mengenai bagaimana gen tertentu menyebabkan sel menjadi dan tetap pluripoten akan membantu kami memproduksi dan menggunakan sel punca dengan lebih baik lagi," papar Jamer Turner, penulis penelitian.

Penelitian menghidupkan kembali bahaya desainer bayi

Meskipun penelitian dilakukan di bawah izin yang berlaku dan memenuhi standar ketat dari Human Fertilization and Embryology Authority (HFEA) – pengatur independen Pemerintahan Inggris – namun banyak peneliti merasa khawatir akan persetujuan yang diberikan untuk penelitian ini.

Teknologi CRISPR itu sendiri sudah banyak menyebabkan kekhawatiran karena berpotensi memunculkan bayi yang dihasilkan sesuai dengan permintaan. Namun, sebagaimana yang dijelaskan peneliti dalam laporannya, ini juga merupakan suatu kesempatan untuk memahami bagaimana satu sel tunggal menjadi manusia yang kompleks. Faktanya, ini saja, sudah menjadi alasan utama bagi peneliti untuk memanipulasi DNA manusia sehingga bisa diturunkan ke generasi selanjutnya.

Selain itu, Marcy Darnovsky, kepala Pusat Genetik dan Asosiasinya (CGS), kelompok pengamat genetika, mengatakan dengan membuktikan teknologi ini bisa digunakan untuk ini, maka juga berarti bahwa "akan ada situasi dimana beberapa anak dibentuk melalui mekanisme biologi agar menjadi lebih baik daripada anak-anak lainnya."

Pada bulan Februari tahun ini, Pemerintah Amerika menyatakan bahwa mengubah DNA manusia mungkin akan diperbolehkan dalam kondisi tertentu, ungkap Darnovsky, "di dunia dimana sudah banyak kesulitan karena ketidaksetaraan, mungkin ini merupakan ide yang sangat buruk."

"Kami tidak ingin membuat sesuatu sehingga seseorang menjadi lebih baik daripada yang lain. Ini merupakan ide yang bisa menciptakan penyalahgunaan kemampuan, mungkin terburuk sepanjang sejarah manusia," sebutnya.

Penelitian membuka pintu untuk mempelajari suatu hal lebih lanjut

Meskipun ada banyak kontra, namuan mayoritas komunitas saintifik mendukung penelitian ini; khususnya karena menunjukkan implikasi R&D dalam sejumlah daerah tertentu di bidang kesehatan.

Area tersebut adalah media nutrisi yang digunakan pada IVF. Saat embrio melepaskan molekul ke media nutrisi dimana mereka tumbuh, mungkin informasi ini bisa digunakan untuk mengetahui embrio mana yang paling sehat sebelum implantasi.

Selain itu, media nutrisi yang digunakan didasarkan pada apa yang bekerja paling baik untuk tikus. Dengan demikian, penelitian lanjutan seperti ini bisa membantu peneliti untuk mengembangkan formula yang lebih cocok untuk embrio manusia. Menurut Dr Ludovic Vallier, penulis penelitian dari Wellcome Trust Sanger Institute, penelitian ini juga bisa membantu "memahami penyakit pada orang dewasa, seperti diabetes, yang mungkin berasal dari saat usia muda."

CRISPR, yang sudah berulangkali gagal masuk sebagai calon pemenang Hadiah Nobel, dalam teorinya, bisa digunakan untuk mengeliminasi mutasi penyebab penyakit pada embrio – dan menciptakan tanaman dan makhluk hidup berumur panjang dan resisten terhadap penyakit.

Sebelumnya, di tahun 2015, peneliti Cina membuat dunia geram saat mereka melaporkan mencoba menggunakan CRISPR untuk mengubah embrio manusia. Dan bulan lalu, peneliti Amerika mengumumkan bahwa mereka berhasil memperbaiki gen penyebab penyakit pada embrio manusia – meskipun masih dipertanyakan kebenarannya hingga sekarang. MIMS

Bacaan lain:
Susu kecoa - Makanan sehat terbaru
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?
'Perancang bayi' mungkin masih belum bisa ada sekarang – penelitian CRISPR

Sumber:
http://www.foxnews.com/health/2017/09/20/scientists-edit-embryos-genes-to-study-early-human-development.html 
http://nhpr.org/post/editing-embryo-dna-yields-clues-about-early-human-development#stream/0 
http://www.sbs.com.au/news/article/2017/09/21/genome-editing-reveals-key-gene-human-embryo-growth 
https://www.newscientist.com/article/2148057-why-has-a-uk-team-genetically-edited-human-embryos/ 
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/09/170920131645.htm