Untuk pertama kalinya, peneliti dari Universitas Kesehatan dan Ilmu Pengetahuan Oregon di Amerika Serikat berhasil menciptakan embrio manusia yang termodifikasi secara genetik. Dipimpin oleh seorang ahli embriologi, Dr Shoukrat Mitalipov – peneliti di universitas – tim ini menggunakan teknik edit gen CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats) untuk memaparkan senyawa edit gen ke embrio sel tunggal.

Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk menargetkan gen yang berhubungan dengan penyakit signifikan pada manusia dan melihat apakah gennya berhasil termodifikasi.

"Ini merupakan jenis penelitian yang harus dilakukan untuk mengetahui potensi keamanan dan ketepatan membuat perbaikan pada DNA embrio untuk memperbaiki gen penyebab penyakit, kata Alta Charo, seorang mahasiswa dan ahli bioetika di Universitas Wisconsin.

Sejauh ini, eksperimen ini baru pernah dilakukan di Cina – karena ilmuwan, organisasi agama, kelompok masyarakat tertentu dan bahkan banyak perusahaan bioteknologi di Amerika banyak yang menolak penelitian jenis ini.

Meskipun demikian, tim peneliti ini berhasil melakukan eksperimen karena ada laporan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional AS di bulan Februari tahun ini. Laporan ini setuju untuk melakukan penelitian laboratorium terhadap modifikasi kuman, dan meskipun banyak menarik argumen, namun teknik ini bisa menjadi satu cara bagi orangtua dengan gangguan genetik parah untuk memiliki anak-anak biologis yang sehat.

"Tetapi antisipasi kami adalah masih diperlukan banyak penelitian untuk melihat apakah Anda bisa membuat perubahan tanpa efek yang tidak diinginkan," catat Charo, yang merupakan pemimpin komite Akademi.

Tampaknya Mitalipov bisa melakukannya

Dalam eksperimennya, Mitalipov dan timnya berhasil melakukan lebih jauh dari yang pernah dilakukan di Cina – baik dalam jumlah embrio, dan juga dengan menunjukkan adanya potensi keamanan dan efisiensi dalam mengubah gen yang rusak. Puluhan embrio dibuat untuk eksperimen menggunakan sperma yang didonasikan oleh pria yang memiliki mutasi penyakit menurun.

Tim memilih untuk menjeksi CRISPR ke telur di saat yang sama telur-telur tersebut difertilisasi oleh sperma. Hal ini dilakukan untuk menghindari kegagalan yang pernah dialami peneliti Cina sebelumnya. Salah satu tantangan yang sebelumnya muncul adalah gerakan mosaik, dimana perubahan DNA yang diinginkan hanya terjadi pada beberapa sel dalam embrio, tidak semuanya; dan efek 'kesalahan target' kedua terjadi pada gen yang sebenarnya tidak ingin diubah.

"Ini membuktikan bahwa pada prinsipnya hal ini bisa dilakukan. Mereka berhasil menurunkan gerakan mosaik. Saya pikir ini bukan permulaan penelitian klinis, tetapi penelitian ini sudah lebih maju dibandingkan penelitian yang ada sebelumnya," komentar peneliti yang mengetahui proyek ini.

Penelitian ini penting dilakukan karena tingginya kritikan mengenai teknik pengembangan kuman yang menjadi masalah besar belakangan ini karena adanya gerakan mosaik dan kesalahan edit, yang mengarahkan ke kesimpulan bahwa CRISPR bukan cara yang aman untuk menciptakan manusia.

Meskipun tidak satupun dari embrio ini diperbolehkan berkembang selama lebih dari beberapa hari dan tim tidak ingin mengimplan embrio ke rahim – namun, berita eksperimen ini sudah banyak dibicarakan, dan memunculkan istilah 'desainer bayi'. Misalnya situasi yang terjadi di Cina, dimana semakin banyak orangtua memutuskan untuk melakukan tes gen untuk mengetahui talenta anaknya.

Rasa takut akan sesuatu yang di luar bayangan

Bisa mengubah struktur genetik, seperti meningkatkan kepintaran atau meningkatkan kemampuan atletik, inteligen Amerika Serikat menyebut CRISPR sebagai potensi "senjata penghancur".

"Edit gen bisa meningkatkan ancaman atau kemampuan melebihi manusia normal, yang kemudian memunculkan masalah baru mengenai apakah manfaatnya bisa melebihi risiko, dan apakah hal tersebut adil jika hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang," jelas Charo.

Selain itu, perubahan gen yang dibuat ini juga akan muncul pada telur atau sperma embrio ini nanti di masa dewasa, sehingga anak-anak yang akan dimiliki orang ini juga akan memiliki gen yang diubah ini.

Kemampuan bisa mengatur evolusi manusia memicu rasa takut. Namun, Profesor hukum dan bioetika Universitas Stanford Hank Greely merespon hal ini dengan menyatakan "poin kunci"-nya adalah tim tidak mengimplan embrio yang sudah diedit ini. Ia menyatakan bahwa "embrio penelitian" yang "tidak ditransfer untuk implan bukanlah masalah besar".

Di Amerika, pemerintahan parlementer melarang menggunaan embrio IVF teredit untuk menciptakan manusia dan Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia melarang teknologi untuk melakukan hal demikian dalam penelitian klinis.

"Meskipun dibutuhkan waktu bagi publik untuk memutuskan apakah mereka mau melawan batasan peraturan untuk penelitian ini, namun saya pikir penelitian ini sangat tidak beretika," jelas Charo.

Namun, untuk sekarang, eksperimen kecil, yang sudah diperbaiki seperti yang dilakukan Mitalipov memunculkan satu masalah tertentu: apakah situasi Charlie Gard akan berbeda dengan orangtuanya yang menerima intervensi teknologi CRISPR. MIMS

Bacaan lain:
Ilmuwan Cina memimpin edit gen-CRISPR pada manusia untuk pertama kalinya di dunia
Edit gen menyelamatkan seorang anak berusia dua tahun dari leukemia
Peneliti Duke-NUS mengidentifikasi gen yang kemungkinan merupakan sebagian penyebab autisme

Sumber:
https://www.technologyreview.com/s/608350/first-human-embryos-edited-in-us/
https://www.statnews.com/2017/07/26/human-embryos-edited/
http://www.sciencemag.org/news/2017/07/first-us-team-gene-edit-human-embryos-revealed