Farmasi merupakan jurusan yang unik. Sarjana farmasi memiliki banyak sekali kesempatan dalam dunia kerja dan memiliki pilihan lingkungan kerja yang beragam. Untuk alasan inilah dalam artikel wawancara sebelumnya, Rezi Riadhi Syahdi, S. Farm., M. Farm – dosen farmasi Universitas Indonesia – menyarankan agar seluruh mahasiswa farmasi harus menemukan ‘passion’-nya sesegera mungkin untuk menentukan langkah strategis tujuan hidup di masa depan.

Ada banyak kesempatan karir untuk seorang apoteker, begitu juga lingkungan praktek apoteker. Meskipun peran apoteker terus berubah seiring dengan berjalannya waktu dan akan terus berubah, namun salah satu peran apoteker yang tidak pernah berubah adalah keahlian dalam meracik obat.

Di Indonesia sendiri, program profesi apoteker biasa dibagi menjadi apoteker klinis dan industri. Meskipun demikian, banyak apoteker lulusan program studi industri akhirnya memasuki ranah klinis di dunia kerja, begitu juga dengan sebaliknya. Hal ini memunculkan berbagai pertanyaan mengenai kemampuan mereka dalam berpraktek dan bekerja. Dalam pertanyaan berikut, MIMS mengadakan wawancara dengan salah satu dosen farmasi Universitas Gadjah Mada – Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt. – mengenai sistem apoteker industri dan klinis di Indonesia.

MIMS: Menurut Ibu Zullies, sebagai seorang pendidik, apakah kondisi ini terjadi karena kesalahan sistem pendidikan mahasiswa calon apoteker?

Prof. Zullies: Menurut saya, hal ini karena sistem penerimaan kerja di lapangan masih tidak mensyaratkan apoteker dengan minat/jurusan tertentu, tetapi hanya menyebutkan spesifikasi sebagai apoteker. Pada prinsipnya lulusan sarjana S1 (termasuk sampai tingkat profesi Apoteker) adalah tenaga kerja siap latih, jadi memang mereka masih harus belajar lagi di tempat kerjanya, karena bidang farmasi sangat luas. Namun demikian, tentu akan lebih baik jika mereka bekerja sesuai dengan jurusannya sehingga lebih cepat dalam belajar dan menguasai masalah yang ada di tempat kerjanya. Jadi masalahnya bukan pada sistem pendidikan mahasiswa calon apoteker. SIstem pendidikan telah membekali dengan kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh calon apoteker, selanjutnya mereka harus mengembangkan diri sesuai kebutuhan di tempat kerjanya.

MIMS: Langkah apa yang sebenarnya perlu diambil oleh badan organisasi untuk mencegah kejadian ini?

Prof. Zullies: Organisasi profesi seperti IAI sudah menjalankan fungsinya dengan baik, misalnya menetapkan blue print Apoteker Indonesia juga bekerjasama dengan Perguruan Tinggi farmasi merancang UKAI dan OSCE untuk meletakkan dasar-dasar kompetensi minimal lulusan Apoteker. Selain itu juga memfasilitasi continuing professional development (CPD) melalui Himpunan seminat yang sesuai di lapangan kerja yang ada untuk apoteker. Contoh Himpunan Seminat misalnya adalah Hisfarsi (Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit Indonesia), Hisfarin (Himpunan Seminat Farmasi Industri), dll. 

Disisi lain, perguruan tinggi farmasi juga secara berkala memperbaiki kurikulumnya untuk semakin memenuhi kebutuhan di lapangan kerja.

MIMS: Bagaimana jika pemerintah menghapus kebijakan “harus ada apoteker” di industri, dan hanya rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang “wajib memiliki apoteker”?

Prof. Zullies: Mungkin ini masih menjadi polemik, tetapi saya berpendapat bahwa obat adalah ranahnya Apoteker, sehingga di mana ada obat, maka sebaiknya di situ ada apoteker yang bertanggung-jawab. Jadi saya pribadi berpendapat tetap harus ada apoteker di Industri Farmasi.

MIMS: Baru-baru ini dikeluarkan Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI), apa tujuan dari ujian ini?Apakah untuk menyamaratakan pengetahuan apoteker klinis dan industri?

Prof. Zullies: Tujuan UKAI tentunya adalah menstandarisasi kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh Apoteker. Sesuai dengan Standar Kompetensi Apoteker Indonesia, memang apoteker Indonesia perlu memiliki pengetahuan yang luas, dari aspek klinis dan industri. Sehingga lulusan Apoteker memang mestinya akan siap kerja di mana-mana. Pada dasarnya, peminatan di profesi adalah untuk mengakomodasi minat calon apoteker terkait dengan masa depan yg diinginkan di lapangan kerja. Namun demikian, mereka tetap harus memiliki kompetensi dasar yang itu ditunjukkan dengan lulus UKAI. Adapun soal-soal UKAI sejauh yang saya tahu juga meliputi aspek klinis, sains, dan industri.

MIMS: Apakah ada saran dan pesan dari Ibu Zullies untuk para calon apoteker dan apoteker di Indonesia?

Prof. Zullies: Untuk para calon apoteker dan apoteker di Indonesia, obat adalah komoditi yang menarik, karena memiliki aspek sosial dan bisnis. Banyak kejadian penyimpangan dalam hal produksi, distribusi dan penggunaan obat (termasuk NAPZA) yang memerlukan keterlibatan apoteker dalam mencegahnya. Jadi, disamping substansi ilmu kafermasian yang harus dikuasai, jangan lupa untuk menjunjung tinggi etika dan sumpah profesi. Dan karena bidang farmasi sangat luas dengan masalah di tempat kerja yg sangat bervariasi, maka seorang apoteker harus selalu belajar seumur hidup. MIMS

Bacaan lain:
Rezi Riadhi: Inspirasi dari dosen Farmasi Universitas Indonesia (UI) yang tidak mengejar gelar apoteker
Manajemen pasien gawat darurat: Ruang Intensive Care Unit (ICU) yang sering disalahartikan
Semakin sibuk rumah sakit, semakin kompeten dokter lulusannya

Sumber:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24261144
https://innovat.com/what-type-of-pharmacy/