Penelitian yang dilakukan menggunakan kuesioner psikologi standar menemukan bahwa wanita infertil di Amerika seringkali merasa gelisah atau depresi dengan tingkat keparahan sama dengan pasien yang terdiagnosis kanker, hipertensi, atau sembuh dari serangan jantung, menurut Angela Lawson Departemen Obstetrik dan Ginekologi di Universitas Northwestern.

Selain itu, penelitian lain yang dilakukan di klinik fertilitas oleh peneliti dari Universitas Harvard, menemukan bahwa 50% wanita dan 15% pria menganggap infertilitas merupakan hal paling menyedihkan dalam kehidupan mereka. Persentase yang lebih rendah pada pria mungkin disebabkan karena reaksi pria tergantung pada apakah mereka atau pasangan mereka yang didiagnosis infertil. Jika diagnosis infertil diberikan pada diri mereka sendiri, maka para pria cenderung mengalami penurunan tingkat kepercayaan diri dan juga depresi hingga tingkatan yang sama dengan wanita.

Efek samping infertil yang masih belum diketahui

Pengobatan sangat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Banyak obat-obat yang digunakan, khususnya obat hormonal bisa menyebabkan efek samping serius. Estrogen clomifen sitrat sintetik, misalnya – digunakan untuk meningkatkan ovulasi dan peningkatan produksi sperma – menyebabkan kegelisahan, gangguan tidur, fluktuasi suasana hidup dan iritabilitas. Obat lain yang lebih poten juga bisa menyebabkan depresi, mania dan gangguan berpikir.

Masalah umum lain adalah ekspektasi dari para wanita terhadap terapi seperti in vitro fertilisation (IVF). Meskipun demikian, angka keberhasilan IVF menurun seiring dengan pertambahan usia. Didukung dengan fakta bahwa IVF membutuhkan waktu antara tiga hingga enam tahun – normalnya – hingga bisa memberikan hasil. Wanita di bawah usia 35 tahun, memiliki rata-rata angka keberhasilan 32,3%. Tetapi, bagi wanita berusia 43 dan 44 tahun, angka keberhasilannya turun hingga 5%; dan kemudian menjadi hanya 1,9% bagi wanita berusia 45 tahun ke atas.

Bagi para wanita yang terlahir sejak emansipasi wanita mulai diusung – wanita bebas berkeluarga dan berkarir, mengetahui dirinya infertil akan membuat para wanita ini merasa gagal. Penulis dan produser seni, Jessica Hepburn, 47 tahun, yang harus mengalami 11 kali kegagalan siklus IVF sebelum akhirnya memutuskan dengan lapang dada, "infertilias diterapi sebagai permasalahan klinis. Tetapi tidak dianggap sebagai trauma psikologis yang dimulai saat Anda mulai mengetahui diagnosisnya."

Dan tentu saja, status keuangan juga merupakan tekanan terbesar. Hepburn sudah menghabiskan GBP70.000; sedangkan Justine Bold (48 tahun) masih membayar GBP50.000 untuk terapinya. Selain itu, asuransi biasa tidak mencakup prosedur fertilitas apapun, membuat para pasien infertil marah dan merasa tidak berdaya.

Rusaknya hubungan: Risiko keinginan memiliki anak

Perbedaan ekspektasi terapi infertil antara pria dan wanita menciptakan kesulitan bagi pasangan untuk memutuskan kapan mereka harus berhenti berusaha.
Perbedaan ekspektasi terapi infertil antara pria dan wanita menciptakan kesulitan bagi pasangan untuk memutuskan kapan mereka harus berhenti berusaha.

Hubungan antara pasangan infertil biasanya juga rusak. Misalnya banyak wanita memutuskan untuk berpisah dari pasangannya disebabkan tiga kali keguguran, lima kali IVF dan beberapa tahun tekanan finansial.

"Memiliki anak merupakan fokus utama saya. Pasangan saya mulai menyerah. Obat fertilitas membuat saya gemuk dan emosional. Sulit bagi saya untuk menahan kesedihan setelah keguguran atau kegagalan siklus IVF," jelas Bold.

Bagi pria, mereka biasanya lebih bisa menerima kenyataan infertil. Hal ini berarti perubahan ekspektasi antara pria dan wanita, menciptakan kesulitan bagi para pasangan yang mengetahui kapan mereka harus berhenti mencoba.

"Melakukan IVF merupakan katalis bagi para pasangan untuk berpisah," tutur Hepburn. "Infertilitas diobati sebagai masalah klinis. Tetapi apa yang seringkali dilupakan adalah trauma psikologis yang dimulai saat pertama mengetahui diagnosis infertil tersebut.

Bold menyebutkan bahwa "ada satu periode panjang dimana Anda tidak boleh berhubungan seksual setelah terapi atau karena merasa terlalu lelah. Beberapa tahun berhubungan seksual di sekitar waktu ovulasi juga sangat melelahkan karena menghilangkan unsur spontanitas."

Masalah fertilitas juga bisa merusak hubungan lain. Keluarga dan kerabat terkadang ingin memberikan saran yang membangun, tetapi mungkin sulit diterima pasangan tersebut. Pasangan yang berhadapan dengan masalah fertilitas juga akan menghindari berinteraksi dengan teman dan keluarga yang hamil atau memiliki anak, karena membuat mereka merasa sedih.

Faktor penyebab dan efeknya terhadap infertilitas

Wanita dengan gangguan tidur tiga kali lebih berisiko mengalami infertilitas dibandingkan wanita yang cukup tidur
Wanita dengan gangguan tidur tiga kali lebih berisiko mengalami infertilitas dibandingkan wanita yang cukup tidur

Lebih jauh lagi, peneliti di Taiwan baru-baru ini menemukan siklus penyebab dan efek antara gangguan tidur dan infertilitas. Sekelompok peneliti dari Rumah Sakit Umum Tri-Service dan Pusat Perlindungan Medis Nasional di Taipei, Taiwan memeriksa data dari 16.718 wanita yang baru didiagnosis gangguan tidur antara tahun 2000 dan 2010 dan kelompok pembanding berisi 33.436 wanita lain yang tidak memiliki gangguan tidur.

Mereka menemukan bahwa wanita dengan gangguan tidur mungkin memiliki lebih dari tiga kali risiko infertilitas dibandingkan mereka yang mendapat cukup tidur. Mereka yang mengalami gangguan tidur juga cenderung mengalami berbagai masalah kesehatan kronis, seperti tekanan darah tinggi. Individu dengan gangguan tidur juga cenderung memiliki siklus menstruasi tidak teratur, masalah tiroid, depresi dan kegelisahan, faktor yang kemudian meningkatkan risiko infertilitas.

American Society for Reproductive Medicine menyarankan pasien untuk berkonsultasi untuk meningkatkan strategi menerima, psikoterapi untuk mengatasi depresi ringan hingga sedang, dan terakhir, obat oral seperti obat antidepresan dan anti-ansietas.

"Penting bagi pasien dan tenaga kesehatan untuk mengetahui semua faktor ini saat membuat keputusan terapi bagi pasien," simpulnya. MIMS

Bacaan lain:
Transplantasi rahim sekarang bisa dilakukan pada manusia
Realita etika pada bayi yang dilahirkan dari inseminasi buatan
Bayi dengan 'tiga orangtua' membuktikan kontroversi ilmu pengetahuan dapat melawan infertilitas

Sumber:
https://www.reuters.com/article/us-health-fertility-sleep-disorders/sleep-problems-tied-to-female-infertility-idUSKBN1E92XO
https://www.iol.co.za/lifestyle/health/the-darker-side-of-fertility-treatments-12428126
https://www.health.harvard.edu/newsletter_article/The-psychological-impact-of-infertility-and-its-treatment 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4253550/