Dalam beberapa tahun terakhir, kita banyak menyaksikan peningkatan jumlah tenaga kesehatan profesional yang inovatif dalam "pola pemikirannya". Untuk mencari aplikasi kesehatan ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memahami konsepnya. Pola pikir merupakan pendekatan manusia untuk mendapatkan inovasi – pada mulanya dikembangkan dalam dunia bisnis untuk menciptakan produk baru.

Menerjemahkan pola pikir ke lingkungan rumah sakit, inovasi bisa digunakan untuk menciptakan rumah sakit yang efisien sehingga bisa menjadi lebih terdepan dalam dunia kesehatan (petugas rumah sakit itu sendiri) – memberikan komentar ke pelaku pola pikir untuk meningkatkan produk yang ada. Hal ini berkebalikan dengan peran tradisional administrasi yang disediakan sebagai input untuk desain rumah sakit.

Tenaga kesehatan bekerja bersama untuk menciptakan ide dasar

Dalam laporan yang dipublikasikan tahun lalu, penulis penelitian mengimplementasikan pola pikir dalam sistem kesehatan. Tiga prinsip dasar adalah:
• empati bagi pengguna (pasien, dokter atau tenaga kesehatan lain);
• keikutsertaan tim interdisipliner; dan,
• prototipe ide yang cepat.

Penting untuk mencari pemahaman komprehensif mengenai suatu masalah – yang ingin diselesaikan – demi menghasilkan outcome yang berguna.

Thomas Fisher, penulis laporan dan direktur Minnesota Design Centre di Universitas Minnesota mengatakan, "Pola pikir berguna saat kita membutuhkan pergeseran paradigma. Mudahnya, saat beberapa pelayanan rusak. Sehingga dibutuhkan pola pikir multidisipliner yang kreatif untuk menyelesaikan masalah ini."

Director of the Minnesota Design Centre, Thomas Fisher stresses on the importance of design thinking when a paradigm shift is needed – allowing for creative, multidisciplinary thinking around solving an issue
Director of the Minnesota Design Centre, Thomas Fisher stresses on the importance of design thinking when a paradigm shift is needed – allowing for creative, multidisciplinary thinking around solving an issue


Berfokus pada pendekatan ini, Dr Bon Ku memimpin Jefferson Health Design Lab di Universitas Thomas Jefferson di Philadelphia – yang memberi kesempatan bagi mahasiswa kedokteran, perawat, dokter dan tenaga kesehatan lain untuk mendesain, mengembangkan, dan membuat prototipe ide mereka. Kemudian, mereka bisa mempresentasikan ide mereka di rumah sakit.

CareCube, sistem penilaian nyeri pediatrik, merupakan salah satu buah kerja keras ini. Biasanya standar skor nyeri (1-10) digunakan pada pasien – meskipun demikian, tenaga kesehatan di sana menganggap objek seperti mainan lebih efektif dan menarik bagi anak-anak. Sesuai dengan skor nyeri yang ada, satu dari enam sisi dadu menunjukkan ekspresi wajah, seperti meringis atau mengerut.

Dalam prakteknya, pasien pediatrik bisa dengan mudah mengambil dadu dan menunjuk wajah untuk mengindikasikan tingkat nyeri yang mereka rasakan. Dengan emikian, perawat bisa dengan cepat mencatat manajemen nyeri pasien.

Penggunaan yang mudah, efisien dan fungsi yang ditingkatkan untuk tenaga kesehatan dan pasien

Dr Ku dan timnya menjadi salah satu pencetus pelatihan yang diadakan tahun ini – meliputi mahasiswa kedokteran dan arsitektur. Mereka mengembangkan alat pemetaan digital dengan software seperti GPS sebagai dasar pola pikir. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai bagaimana pasien, dokter dan perawat bergerak dan berinteraksi dalam ruang gawat darurat – untuk meningkatkan komunikasi dan mempercepat waktu tunggu.

Peneliti di Universitas McGill di Montreal juga mengaplikasikan konsep ini dengan mempelajari jarak antara wastafel dengan pasien terinfeksi C. difficile. Mereka menemukan bahwa jika wastafel lebih dekat ke pasien maka meningkatkan kemungkinan tenaga kesehatan untuk mencuci tangan setelah berinteraksi dengan pasien. Dr Yves Longtin, penulis penelitian tersebut, mengatakan bahwa mayoritas perawatan klinis sudah banyak direlokasi ke bagian rumah sakit dimana wastafel berada dalam jarak dekat – untuk meningkatkan angka mencuci tangan.

Bukan hanya bagi tenaga kesehatan, pasien juga bisa berkontribusi pada ide inovatif. Dr Joyce Lee dari Universitas Michigan mempelopori usaha interdisipliner – disebut Health Design By Us. Mereka mendukung sistem mobile yang diciptakan oleh seorang pasien untuk manajemen diabetes saat ayah pasien mencari cara untuk bisa memonitor dan mencatat nilai glukosa sang anak. Disebut sebagai Nightscout, alat ini ditempel ke monitor glukosa pasien dan mengirim data digital ke cloud. Kemudian, bisa diakses melalui banyak alat – telepon genggam, tablet atau jam pintar – untuk langsung mengarahkan ke keputusan klinis.

Contoh lain adalah terbentuknya komunitas online. "Tenaga kesehatan untuk Desain" merupakan platform yang menghubungkan tenaga kesehatan internasional. Menawarkan diskusi, workshop, and sumber digital online – untuk meningkatkan cakupan kesehatan dan desain rumah sakit.

"Hampir semua hal dalam dunia kesehatan sudah melalui berbagai tahapan desain – baju pasien, alat medis, dan tagihan rumah sakit. Kita mungkin tidak menyadari hal ini karena ada terlalu banyak proses dan produk yang tidak didesain dengan baik," ungkap Dr Ku dan koleganya, mengenai pola pikir kesehatan.

Ia melanjutkan, "Desain bukan hanya membuat sesuatu tampak cantik atau menciptakan objek bersinar. Desain – terutama dalam dunia kesehatan – harus mengutamakan kemudahan penggunaan, efisiensi, dan cara penggunaan yang lebih baik bagi untuk tenaga kesehatan dan pasien." MIMS

Bacaan lain:
Inspeksi mendadak di rumah sakit bisa menurunkan angka kematian pasien
Bagaimana desain rumah sakit bisa membuat pasien semakin sakit
Lantai rumah sakit bisa menjadi sumber infeksi dan memperlambat kesembuhan pasien

Sumber:
https://www.nytimes.com/2017/08/03/well/live/design-thinking-for-doctors-and-nurses.html
http://catalyst.nejm.org/making-design-thinking-part-medical-education/
https://www.advisory.com/daily-briefing/2017/08/11/design-thinking