Dalam beberapa bulan terakhir, sudah banyak artikel menceritakan mengenai kasus pelecehan seksual di dunia, termasuk di Hollywood, yang melibatkan produser film Amerika, dan pendiri Miramax, Harvey Weinstein. Sejumlah besar artis wanita – enam puluh di antaranya (dan masih banyak lainnya) – mengajukan dakwaan bahwa Weinstein melakukan pelecehan seksual atau pemerkosaan. Yang termasuk dalam korbannya adalah meliputi Ashley Judd, Rose McGowan, Lupita Nyong'o, Kate Beckinsale, Cara Delevingne dan Gwyneth Paltrow.

Banyaknya jumlah korban memicu timbulnya gerakan online dimana wanita di seluruh dunia mulai membagikan pengalamannya sendiri mengenai pelecehan seksual dan pemerkosaan, menggunakan tagar #metoo. Cerita-cerita tersebut mulai banyak dibagikan dalam platform media sosial seperti Twitter, Instagram dan Facebook. Masyarakat publik kemudian juga menunjukkan perasaan kaget mendengar banyaknya jumlah wanita yang pernah mengalami pelecehan seksual atau pemerkosaan mengingat angkanya yang sangat tinggi.

At least 39 women over 33 years: More and more women are coming forward to share their experience with Weinstein, with accusations of sexual harassment or assault, dating back to as early as 1980s. Photo credit: AP/National Post
At least 39 women over 33 years: More and more women are coming forward to share their experience with Weinstein, with accusations of sexual harassment or assault, dating back to as early as 1980s. Photo credit: AP/National Post


Masalah psikologis

Korban pelecehan seksual terkadang tidak bisa dengan mudah menyembuhkan luka emosi. Sebagian besar dari mereka juga mengalami gangguan mental jangka panjang seperti depresi, kegelisahan dan bahkan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Pernah menghadapi predator seksual juga bisa mengeksaserbasi atau memicu gangguan mental yang sebenarnya berhasil dihentikan atau dikontrol. Sebuah penelitian yang dipublikasi tahun 2011 menemukan bahwa pria dan wanita yang pernah mengalami pelecehan seksual di awal karirnya lebih banyak menunjukkan tanda depresi dibandingkan pekerja lain, yang tidak pernah mengalami pelecehan seksual.

Faktanya, pelecehan seksual bisa memicu PTSD; khususnya saat melibatkan beberapa bentuk serangan atau kekerasan fisik. Korbannya seringkali menganggap masalah kesehatan mental mereka mengganggu kualitas hidup, dan bahwa mereka perlu mencari terapi jangka panjang untuk mengatasi gejala tersebut.

Bukan hanya gejala psikologis – namun juga fisik

Masalah dengan efek psikologis dari pelecehan seksual adalah bahwa gejala ini bisa berubah menjadi masalah fisik juga. Depresi dan rasa gelisah bisa menyebabkan sakit kepala, masalah usus, sendi dan nyeri otot, insomnia dan yang lainnya. Jika tidak diobati, stres mental bisa menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

Dr Helen Wilson, seorang Psikolog Klinis mengatakan kepada NBC News bahwa "sebagian dari otak kita yang memroses emosi... ada di sebelah batang otak, yang mengatur fungsi tidak sadar seperti detak jantung dan pernapasan."

Inilah mengapa perasaan stres jangka panjang bisa memengaruhi sistem imun, metabolisme dan fungsi jantung, dan kemudian memicu munculnya penyakit autoimun dan bahkan serangan jantung.

Sexual harassment can even lead to PTSD, especially when it involves some form of physical altercation or violence.
Sexual harassment can even lead to PTSD, especially when it involves some form of physical altercation or violence.


Peningkatan kasus melukai dirinya sendiri pada wanita muda

Data dari penelitian di Inggris menemukan bahwa sikap melukai diri pada anak perempuan berusia 13 dan 16 tahun meningkat hingga 68% lebih dari tiga tahun terakhir. Sejumlah anak-anak laki-laki dalam situasi sama memiliki persentase yang relatif sama; tetapi pada anak perempuan, masih ada peningkatan eksponensial yang mengkhawatirkan.

Meskipun alasan pastinya tidak jelas, namun sejumlah kasus melukai diri yang dilaporkan oleh dokter umum cukup mengkhawatirkan mengingat beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka berisiko tinggi bunuh diri. Kepala penulis, Nav Kapur, MD, profesor psikiatrik dan populasi kesehatan, Universitas Manchester, Inggris, mencatat bahwa peningkatan jumlah kasus ini berhubungan dengan masalah identifikasi. "Anak muda mungkin lebih terbuka saat berbicara mengenai sikap melukai diri, orangtua cenderung lebih banyak menutupinya, dan dokter cenderung akan menanyakan mengenai hal ini." Ia juga mencatat bahwa media digital juga mungkin ikut memengaruhi peningkatan kasus melukai diri di antara anak remaja perempuan. Masalah utamanya adalah bahwa melukai diri bisa menjadi salah satu outcome stres mental disebabkan pelecehan seksual.

Sebagai tenaga kesehatan, efek pelecehan seksual tidak boleh dibiarkan begitu saja karena hal ini bisa memengaruhi kesehatan mental masyarakat. Jika Anda mengetahui ada pasien, sejawat, teman atau keluarga yang menderita akibat pelecehan seksual, hindarilah gosip dan mempermalukan mereka dari belakang. Ambillah langkah tegas untuk membantu mereka menemukan terapi yang benar karena ini sangat penting untuk kehidupan mereka. MIMS

Bacaan lain:
Penelitian adalah Seni: Warna-warni kehidupan
Peran seni untuk membantu pasien agar cepat sembuh
Signifikansi catatan pasien yang baik

Sumber:
https://www.theguardian.com/society/2017/oct/18/self-harm-girls-aged-13-to-16-rose-68pc-three-years
https://www.nbcnews.com/better/health/hidden-health-effects-sexual-harassment-ncna810416
http://nationalpost.com/entertainment/celebrity/at-least-39-women-over-33-years-a-timeline-of-harvey-weinstein-sexual-allegations
https://www.medscape.com/viewarticle/887294
http://www.bmj.com/content/359/bmj.j4351
https://www.medscape.com/viewarticle/887294
http://www.bmj.com/content/359/bmj.j4351