Patient zero merupakan istilah yang digunakan ilmuwan untuk mengarahkan ke orang yang tanpa disadari menjadi sumber infeksi. Istilah ini banyak digunakan untuk memprediksi pola transmisi penyakit, trayek, dan kemungkinan cara menghentikan penyebarannya. Patient zero harus hidup dan menyebarkan penyakit ketika penelitian sedang berlangsung demi mendapat informasi akurat, sehingga penting bagi peneliti untuk mencari pola penyebaran di awal munculnya penyakit.

Ada beberape epidemik mematikan di beberapa abad terakhir yang mengancam nyawa banyak orang. Mulai dari infeksi MERS di Korea Selatan hingga Ebola di negara Afrika dan SARS di Hong Kong. Usaha menemukan patient zero merupakan usaha vital untuk memecahkan penyebaran penyakit mematikan ini.

Sindrom Pernapasan Timur Tengah/Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

MERS-CoV di Korea Selatan, hingga sekarang, telah membunuh 36 orang dan menginfeksi ratusan pasien.1 Kemunculan pertamanya ditemukan ketika seorang pria berusia 68 tahun berwisata ke Bahrain, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Arab Saudi dan UEA merupakan negara dengan kasus MERS terbanyak dengan 440 kematian muncul di daerah ini.2 Pria ini tidak melaporkan riwayat perjalanan wisatanya dan hanya menyebut Bahrain.

Ia kemudian mengeluhkan batuk dan demam delapan hari setelah kembali dan memeriksakan diri ke beberapa fasilitas kesehatan. Pemeriksaannya yang pertama dilakukan tanggal 11 Mei di kota Asan tetapi dokter tidak bisa mendiagnosis dengan benar karena kurangnya informasi perjalanan. Mereka kemudian merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih besar di Pyeongtaek, St. Mary's. Rumah sakit ini sangat ramai dan virus berada dalam kondisi prima untuk menyebarkan penyakit. Di St. Mary's ditemukan terjadi sekitar 40% infeksi.

Sayangnya kondisi pasien tidak membaik, dan ia kemudian pergi ke Seoul untuk mencari pengobatan yang lebih bagus. Ia pertama mendatangi rumah sakit kecil dulu, enam hari setelah pemeriksaan pertama di Asan, dan dokter kemudian mendiagnosis pneumonia melalui scan X-ray. Di hari yang sama, ia dirujuk ke Samsung Medical Center di Seoul, dimana ia diduga menderita MERS dan riwayat perjalanannya berhasil diklarifikasi. Diagnosis yang benar dibuat pada 20 Mei.3

Ebola

Pada tahun 2014, Ebola menjadi epidemik di Afrika Barat. Infrastruktir kesehatan di negara Afrika Barat tidak selengkap di Korea Selatan, dan beberapa mungkin menggunakan istilah rentan. Penyakit ini telah membunuh lebih dari delapan ribu orang dan menyebabkan kepanikan global. Meskipun demikian, sumber penyakit belum diketahui. Kemungkinan seorang balita dari Meliandou, desa tertinggal di Guinea Selatan, merupakan patient zero-nya. Sayangnya, peneliti belum mengetahui bagaimana sang anak kontak dengan penyakit, dan anak telah meninggal pada Desember 2013.4

Dr Donald Henderson dari Pusat Kesehatan di Universitas Pittsburgh, Pennsylvania mengatakan ada banyak kejanggalan pada kasus Ebola dan sulit menyimpulkan bahwa balita Meliandou merupakan patient zero-nya. "Anak atau orang lain dengan gejala muntah, demam dan diare bisa salah didiagnosis," katanya.5

Pada bulan Maret 2014, virus Ebola telah tersebar hingga Gueckedou di Guinea dan terus menyebar ke negara tetangga, Sierra Leone dan Liberia.

Sindrom Pernapasan Akut Parah/Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)

SARS merupakan penyakit infeksi yang dibawa oleh koronavirus dan menyebabkan gejala seperti demam, batuk, sakit kepala parah, dan pusing. Gejalanya seperti pneumonia atipikal dimana terapi konvensional bisa jadi tidak efektif. Selama epidemik SARS dari November 2002 hingga Juli 2003, lebih dari delapan ribu orang telah terinfeksi dan hampir 800 orang meninggal di dunia.6

Di Hong Kong, patient zero-nya adalah seorang profesor berusia 64 tahun dari Guangdong yang menginfeksi 13 turis lain ketika menginap di Hotel Metropole di Mongkok pada 21 Februari 2003. Ia sedang dalam perjalanan untuk menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Saat ia tiba di Hong Kong, ia mengeluhkan demam dan sesak napas. Selain itu, ia menterapi dirinya sendiri dengan antibiotik untuk pneumonia.7

Ia mencari pertolongan medis di Departemen Gawat Darurat Rumah Sakit Kwong Wah dimana x-rays menunjukkan "bentuk seperti kaca", kata Dr Wu Chun-wah, konsultan yang menangani pasien.7 Profesor ini segera dirujuk ke unit perawatan intensif dan sayangnya meninggal pada 4 Maret 2003. MIMS

Bacaan lain:
Euthanasia pada bayi: Perlukah dilegalkan?
Membunuh yang satu demi menyelamatkan yang lain: Tantangan etika dan medis pada kembar siam
Bayi dengan 'tiga orangtua' membuktikan kontroversi ilmu pengetahuan dapat melawan infertilitas


Sumber:
1. Anon. Archive of MERS-CoV cases in the Republic of Korea [Internet]. WHO. 2015 [cited 2016 Aug 11]. Available from: http://www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/archive-cases/en/
2. Park J. Tracing the path of South Korea’s MERS “patient zero” [Internet]. Reuters. 2015 [cited 2016 Aug 11]. Available from: http://www.reuters.com/article/southkorea-mers-patient-idUSL3N0YP17T20150603
3. Choe S. MERS Virus’s Path: One Man, Many South Korean Hospitals [Internet]. The New York Times. 2015 [cited 2016 Aug 11]. Available from: http://www.nytimes.com/2015/06/09/world/asia/mers-viruss-path-one-man-many-south-korean-hospitals.html?_r=2
4. Baize S, Pannetier D, Oestereich L, Rieger T, Koivogui L, Magassouba N, et al. Emergence of Zaire Ebola Virus Disease in Guinea - Preliminary Report. N Engl J Med. 2014;(April):1–8. 
5. Dara M. Finding patient zero [Internet]. The Pharmaceutical Journal. 2015 [cited 2016 Aug 11]. Available from: http://www.pharmaceutical-journal.com/news-and-analysis/features/finding-patient-zero/20067543.article
6. Anon. SARS Fast Facts [Internet]. CNN Library. 2016 [cited 2016 Aug 11]. Available from: http://edition.cnn.com/2013/09/02/health/sars-fast-facts/
7. Benitez. “Patient zero” believed he did not have Sars, inquiry told [Internet]. South China Morning Post. 2003 [cited 2016 Aug 11]. Available from: http://www.scmp.com/article/438097/patient-zero-believed-he-did-not-have-sars-inquiry-told