Dua tim peneliti di Amerika akan segera melaporkan keberhasilan mereka dalam menanam organ tubuh manusia hasil buatan in vitro (organoid) ke dalam otak tikus percobaan, hal ini meningkatkan peluang untuk mengembangkan jaringan fungsional manusia pada hewan pengerat.

Meskipun menarik dan mengejutkan, penelitian ini membuka pintu terhadap kontroversi diskusi mengenai etika penelitian. "Ini adalah ranah yang sangat baru," ujar Christof Koch, Presiden Institut Allen untuk Ilmu Pengetahuan Otak di Seattle. "Ilmu ini berkembang dengan sangat cepat; etika tidak bisa mengikuti perkembangannya," tambahnya. Rupanya, peraturan juga tidak dapat mengikuti, karena hingga sekarang belum ada peraturan yang mengatur jenis penelitian ini.

Ukuran organoid diperhitungkan

Salah satu argumen yang muncul adalah ukuran organoid, yang tidak lebih besar dari kacang polong. Mengingat otak tikus adalah seperseribu volume otak manusia, organoid tidak akan mampu mendekati ukuran otak anak-anak tikus, sehingga hal ini bisa secara signifikan membatasi kompleksitas organ. 

"Tikus tidak akan bisa mengatakan 'Hai'," ujar Hank Greely, seorang ilmuwan hukum dan bioetika dari Universitas Stanford. Selain itu, kedua percobaan ini – salah satunya dilakukan oleh Dr Isaac Chen (ahli bedah saraf di Universitas Pennsylvania), yang menanamkan organoid ke korteks visual sekunder tikus – menggunakan tikus pengerat dewasa, sehingga otak mereka tidak lagi berkembang.

Seandainya jika mereka menggunakan otak janin, organoid mungkin telah terintegrasi dan lebih memberi hewan pengerat kemampuan memproses seperti manusia. "Sulit membayangkan bagaimana kemampuan kognitif manusia, seperti kesadaran, dapat muncul dalam keadaan seperti itu," tutur ahli bioetika Jonathan Kimmelman dari Universitas McGill di Montreal. Chen percaya bahwa "saat ini, organoid masih sangat sederhana, sehingga intervensi yang diberikan kemungkinan malah menurunkan" fungsi otak tikus.

Two different research teams will soon report that they have been able to implant human brain organoids into the brains of laboratory rats and mice.
Two different research teams will soon report that they have been able to implant human brain organoids into the brains of laboratory rats and mice.

Kesadaran ikut ambil andil

Menurut Koch, organoid akan jauh lebih maju daripada saat ini dalam merasakan kesadaran. Banyak ilmuwan lain juga berpendapat bahwa keterbatasan organoid terletak pada tidak adanya penghubung antara organoid dengan dunia luar. "Kami menjadi seperti sekarang karena pengalaman, dan otak organoid tidak memiliki respon terhadap input sensorik," ujar Hongjun Song, ahli saraf dari Universitas Pennsylvania.

Salah satu hal yang dibutuhkan untuk menciptakan kesadaran otak adalah suplai darah, seperti yang telah dilakukan oleh George Church dari Fakultas Kedokteran, dengan menumbuhkan sel pembuat pembuluh darah dengan organoid di laboratorium.

Tim Church berharap bisa menciptakan jantung yang bekerja seperti pompa dan mengalirkan oksigen serta nutrisi melalui tabung ke organoid. Kemudian, muncul pertanyaan baru mengenai cara menggabungkan beberapa organoid menjadi satu, meskipun demikian jawaban pertanyaan ini sudah berhasil ditemukan oleh Jürgen Knoblich dari Institut Bioteknologi Molekuler Wina, yang pertama kali memimpin penelitian tentang organoid. 

Meskipun hanya menggabungkan dua organoid, namun ditunjukkan bahwa di masa depan, organoid mungkin akan memiliki kemampuan kognitif dan emosional yang dapat diciptakan dalam tabung. "Di masa depan," ujar Greely, "bisa jadi apa yang diusahakan sekarang akan mendapat penghargaan."

"Kondisi ini memunculkan beberapa pertanyaan menarik mengenai apa yang memperbolehkan kita, secara etika, terutama untuk melakukan penelitian terhadap tikus – yang bahkan bukan manusia," komentar Josephine Johnston dari The Hastings Centre, lembaga penelitian bioetika.

"Jika kita memberi mereka organoid otak manusia, apa hubungannya dengan kecerdasan, tingkat kesadaran, bahkan identitas spesies mereka? Hal ini cukup aneh mengingat hampir semua orang menganggap otaklah yang membuatnya berbeda dari spesies lain," tuturnya.

Hal ini terutama diperhatikan dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Wisconsin pada tahun 2013. Mereka mentransplantasi sel induk saraf manusia ke dalam otak tikus, yang kemampuan belajar dan ingatannya telah dirusak. Setelah transplantasi, hewan tersebut menunjukan hasil yang baik dalam uji pada kemampuan tersebut.

Kekuatan untuk mengubah pengujian dan penelitian obat

Ada kemungkinan bahwa organoid dapat mengurangi penelitian menggunakan hewan uji karena mereka dapat menumbuhkannya dari organ khusus sel induk dewasa dan sel pluripoten yang diinduksi. Mereka juga dapat mengurangi kebutuhan jaringan embrio dan janin. Namun, organoid tidak mungkin sepenuhnya akan menggantikan hewan uji.

Pertama, beberapa ciri penting organ mungkin sulit ditiru. Mungkin juga sulit untuk menciptakan interaksi antara organ yang memadai, yang diperlukan selama pengujian obat.

Mempertahankan persediaan organoid untuk obat dan penelitian juga memerlukan pembuatan bio-bank untuk menyimpan jaringan yang disumbangkan. Namun, persetujuan dan kepemilikan donor akan menjadi permasalahan etika utama.

Meskipun terdapat kekhawatiran terhadap penelitian ini, percobaan semacam ini berpotensi untuk membantu menciptakan perawatan suatu hari untuk mengatasi masalah yang kompleks, seperti cedera otak dan skizofrenia. Organoid yang tumbuh dari sel induk pasien juga dapat digunakan dalam perawatan pribadi. MIMS

Bacaan lain:
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?
Susu kecoa - Makanan sehat terbaru
Rahim buatan untuk masa depan masalah fertilitas dan perawatan neonatus

Sumber: 
https://www.statnews.com/2017/11/06/human-brain-organoids-ethics/ 
https://www.statnews.com/2015/11/05/human-animal-chimeras-face-new-scrutiny/ 
https://singularityhub.com/2017/01/27/the-ethics-of-organoids-scientists-weigh-in-on-new-mini-organs/