Rasa nyeri merupakan komponen penting dalam kehidupan manusia. Nyeri secara fisik hampir identik dengan kehidupan itu sendiri, dimana kebanyakan kita tidak bisa melarikan diri dari hal ini.

Beberapa rasa nyeri mudah diobati. Tanpa melupakan fakta tersebut, namun dengan kemajuan teknik manajemen nyeri modern, manusia sekarang lebih banyak diperlengkapi dengan sederet obat analgesik untuk melawan sensasi nyeri akibat kerusakan jaringan tanpa alasan yang jelas. Meskipun demikian, nyeri dirasakan hampir semua orang – tidak semua perawatan sama mudahnya dengan obat penghilang rasa sakit.

Secara khusus, dilema moral muncul saat merawat pasien yang berpotensi melakukan  penyalahgunaan obat, dimana analgesik non-opioid konvensional tidak bekerja lagi. Haruskah dokter meresepkan opioid untuk mengatasi rasa nyeri kronis mereka? Dan apakah apoteker harus  memenuhi dan menyerahkan resep opioid tanpa menilai secara subjektif orang-orang ini untuk mendapat pengawasan yang teliti dan diskriminasi yang berlebihan?

Moral dilema modern

Tidak ada tanda yang menunjukkan penurunan krisis opioid. Terutama di AS, saat Presiden Trump mengumumkan krisis opioid sebagai kondisi darurat dalam kesehatan masyarakat. Permintaan berlebih untuk analgesik opioid yang lebih poten, diresepkan secara resmi atau didapatkan dari jalanan, menimbulkan dampak buruk pada warga Amerika, dan negara mencari seseorang untuk disalahkan.

Tuduhan dengan cepat dilemparkan kepada dokter dan kebiasaan peresepan mereka.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh majalah Fortune, yang mencatat opini publik, ditemukan bahwa 19% narasumber percaya bahwa dokterlah yang terlalu banyak meresepkan analgesik opioid dan merekalah yang harus memikul tanggung jawab. Opini publik ini bukannya tidak berdasar. Laporan  pada tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Penyalahgunaan Zat dan Penyediaan Pelayanan Kesehatan Mental AS (SAMHSA) mengungkapkan bahwa, dari 11,8 juta  pelaku penyalahgunaan opioid pada tahun 2016, lebih dari 97% kasus penyalahgunaan berasal dari resep pereda nyeri.

Meskipun demikian, terlalu naif jika kita menempatkan tanggung jawab pada dokter. Seperti yang telah dibahas oleh Travis Rieder, seorang ilmuwan di Institut Bioetika Berman, Universitas Johns Hopkins, pada kenyataannya terdapat dua krisis kesehatan masyarakat: epidemik penggunaan opioid dan krisis nyeri yang mendasarinya.

Dia menulis "jika opioid dapat mencegah penderitaan nyeri secara signifikan, maka solusi masalah peresepan opioid bukan hanya dengan berhenti menggunakannya. Jika dilakukan, maka hanya akan menukar satu krisis (krisis opioid) untuk yang lain (krisis rasa nyeri)."

Kebutuhan pasien akan manajemen nyeri

Rieder juga menunjuk bahwa  "pasien adalah individu, bukan data, dan risiko terapi opioid serta risiko tidak memberikan penghilang nyeri,  tidak sama untuk semua orang." Argumen tersebut, tidak diragukan lagi, akan beresonansi dengan baik. Banyak dokter dan apoteker memiliki keterkaitan kerja dengan perawatan pasien, termasuk pelaku penyalahgunaan obat.

Sebuah kampanye yang sangat berpengaruh diprakarsai oleh American Pain Society, yang dikenal sebagai "Pain, The Fifth Vital Sign", berhasil menggoncang opini di kalangan profesional kesehatan mengenai manajemen rasa nyeri. Sejak saat itu, penilaian dan pengobatan rasa nyeri menjadi rutin dan opioid dipromosikan sebagai salah satu pilihan pengobatan untuk rasa nyeri kronis.

Dalam menghadapi rasa nyeri yang membuat tidak berdaya, prinsip panduan dokter dan profesional kesehatan lainnya adalah dengan "berbuat baik" – merupakan  keutamaan memberi perhatian terbaik pada pasien sebagai prioritas pengobatan. Ketika kita kehabisan pilihan pengobatan lainnya, menahan penggunaan  opioid untuk pasien yang membutuhkan, termasuk orang-orang yang berpotensi menyalahgunakan obat, dengan jelas menunjukkan perlunya penghilang rasa nyeri bertentangan dengan ideologi fundamental itu.

Banyak yang berpendapat bahwa risiko pemberian resep opioid pada kelompok pasien ini tidak dibenarkan mengingat krisis saat ini. Setiap manfaat potensial bagi pasien tampak sangat kecil dengan latar belakang epidemi.

Pertanyaan kritisnya adalah bagaimana menilai secara akurat apakah pasien benar-benar membutuhkan analgesik opioid atau dia hanya berpura-pura demi kebutuhan persediaan beberapa minggu. Sayangnya, hampir tidak mungkin untuk membedakan perbedaan keduanya, dan  isu tersebut telah memicu perdebatan panjang dan panas sampai hari ini.

Peresepan yang beralasan

Terdapat seruan untuk pola penulisan resep yang rasional dan kewaspadaan konstan dari dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk memerangi penggunaan opioid secara berlebihan, termasuk memilih pengelolaan nyeri non-opioid atau hanya memberi resep opioid bila benar-benar diperlukan.

Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa krisis opioid telah menghadirkan dilema moral yang sulit diselesaikan. Mengingat kita yang menentukan apakah pasien yang nyeri harus mendapatkan resep opioid berikutnya, kita harus melakukannya dengan ekstra hati-hati. MIMS

Bacaan lain:
4 sumber informasi obat dan farmakologi yang wajib dimiliki
Obat penghilang nyeri bisa meningkatkan risiko serangan jantung
Makanan adalah obat: Apakah nutrisi saja cukup untuk menyembuhkan penyakit?

Sumber:
https://www.nytimes.com/2017/10/26/us/politics/trump-opioid-crisis.html
https://www.statnews.com/2017/09/26/ethical-dilemma-doctors-ok-prescribe-opioids/
https://www.medscape.com/viewarticle/885496#vp_1
https://www.samhsa.gov/data/sites/default/files/NSDUH-FFR1-2016/NSDUH-FFR1-2016.htm#summary