Waktu operasi mungkin memberikan dampak jangka panjang bagi pasien. Mengingat peran ritme sirkadian dalam memengaruhi hasil operasi, para peneliti menyebutkan bahwa pasien yang menjalani operasi jantung mayor di sore hari memiliki risiko cedera miokard perioperatif dan morbiditas paska operasi lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang dioperasi di pagi hari.

Operasi jantung di sore hari menurunkan 50% risiko gangguan jantung

Selama enam tahun, tim peneliti mengamati hampir 600 pasien, setengahnya menjalani operasi penggantian katup aorta di pagi hari sementara sisanya menjalani operasi yang sama di sore hari. Menariknya, dalam waktu 500 hari setelah operasi, mereka menemukan bahwa kelompok sore memiliki risiko gangguan jantung – seperti infark miokard, gagal jantung akut, atau kematian – 50% lebih rendah.

Penemuan ini didukung oleh eksperimen pada sampel jaringan dari penelitian acak terkontrol terhadap 88 pasien dalam penelitian yang sama. Ditemukan bahwa saat mengalami stres operasi yang dilakukan ulang di laboratorium, sel miokard atrial pasien pada kelompok sore hanya mengalami sedikit kerusakan dan detak jantungnya bisa kembali normal lebih cepat daripada kelompok pagi.

Para ahli mengatakan bahwa jenis cedera jaringan jantung ini sangat memengaruhi tingkat kematian pasien.

Bioritme jantung intrinsik mungkin merupakan penyebabnya

Peneliti kemudian menganalisis ekspresi gen miokardiosit 30 pasien dari penelitian acak terkontrol. Mereka menemukan bahwa 287 gen dinyatakan berbeda berdasarkan waktu operasi. Perubahan waktu pada ekspresi gen ini mendukung hipotesis peran bioritme jantung intrinsik, yang dapat menjelaskan variasi perilaku jaringan.

Selanjutnya, pengetahuan tentang peran genetik dalam ritme sirkadian menciptakan peluang bagi alternatif terapi berbasis gen. Hasil pengamatan pada salah satu gen dalam penelitian ini, Rev-Erbα, menujukan adanya perubahan paling dinamis antara waktu subuh dan sore hari. Percobaan pada tikus dengan fungsi gen Rev-Erbα pada kondisi stres menghasilkan peningkatan toleransi terhadap tekanan jantung.

"Coba bayangkan, dengan cepat, pendekatan farmakologi pada dasarnya dapat menghilangkan pengaruh waktu antara pagi dan sore," kata Profesor Bart Staels, salah satu penulis penelitian tersebut.

Telah lama diketahui bahwa efikasi terapi dipengaruhi oleh ritme sirkadian intrinsik tubuh. Disebut juga sebagai kronoterapi, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kemoterapi dan vaksinasi flu dapat bekerja lebih baik bila diberikan pada waktu-waktu tertentu.

"Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya ritme sirkadian biologis yang akhirnya mulai mendapatkan pengakuan dalam ranah ilmu pengetahuan," ungkap James Olcese, seorang profesor ilmu biomedis di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Florida yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Hasil ini berpotensi menyelamatkan banyak nyawa. Satu hal yang sangat penting, di luar konsep dasar jaringan hingga penerapan nyata saat operasi pada waktu berbeda."

Apakah ini berarti semua operasi harus dilakukan sore hari?

Sementara penelitian hanya berfokus pada operasi jantung, sebuah penelitian terpisah di Kanada menemukan bahwa risiko kematian meningkat dua kali lipat pada pasien yang melakukan operasi di malam hari. Hal ini terkait dengan kelelahan yang dialami tenaga kesehatan. Penelitian yang sama mengatakan bahwa tidak melakukan operasi sama sekali mungkin lebih baik daripada melakukannya saat lelah.

Kurang tidur sangat umum terjadi pada tenaga kesehatan. Bekerja saat lelah memberikan peluang terjadinya kesalahan lebih besar – dan kesalahan dalam pengobatan seringkali berbahaya.

"Gaya hidup dasar membuktikan bahwa kelelahan dapat mengurangi keselamatan," tutur Bryan Vila, pakar tidur di Washington State University-Spokane, Amerika Serikat. Belajar pola tidur sehat "sama pentingnya dengan pelatihan kerja," ungkapnya.

Meskipun tidak mungkin membatasi operasi agar hanya dilakukan di sore hari, namun temuan ini membawa kita selangkah lebih dekat untuk mengurangi tingkat kematian pada pasien yang menjalani operasi berisiko tinggi. MIMS

Bacaan lain:
Penyakit jantung dan stroke lebih banyak menyerang orang-orang yang kesepian dan terisolasi
Seorang pria hidup 555 hari tanpa jantung
Gangguan jantung merupakan penyebab satu per tiga kematian di dunia

Sumber:
1. http://www.thelancet-press.com/embargo/heartsurgery.pdf
2. https://www.statnews.com/2017/10/26/heart-surgery-circadian/
3. http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49003/title/Circadian-Rhythms-Influence-Treatment-Effects/
4. http://www.apa.org/monitor/2011/01/night-work.aspx