Oculodentodigital dysplasia (ODDD) memang masih terdengar sangat asing, terutama mengingat langkanya penyakit tersebut. Penyakit genetik langka ini menyerang berbagai jaringan tubuh penderitanya – satu dari satu juta populasi masyarakat di dunia.

ODDD: Penyakit turunan yang sangat langka

ODDD muncul akibat kerusakan pada gen GJA1 yang bertanggungjawab atas produksi connexin43, protein penting untuk komunikasi antar sel tubuh. Akibatnya adalah muncul kelainan pada mata, hidung, gigi, dan jari-jari, dengan beberapa akan terlihat saat lahir sementara tanda lain akan muncul seiring bertambahnya usia. Sebanyak 78% penderita menunjukkan fitur yang lebih banyak dari dua kategori tersebut.

Komplikasinya meliputi risiko tinggi menderita katarak, atrofi iris, dan glaukoma. Selain itu penderitanya lebih rentan mengalami lubang pada gigi dan abnormalitas neurologi. Hingga sekarang, masih belum ada obat penyembuh ODDD, sehingga terapi sekarang hanya berfokus pada pencegahan gejala. Prognosis ODDD cenderung rendah, mengingat ini merupakan penyakit genetik. Dalam literatur sains, tidak ada 1.000 kasus ODDD yang pernah dilaporkan.

As archived in National Foundation for Ectodermal Dysplasias (NFED), the 180+ ectodermal dysplasias are recognised and named based on the specific combination of symptoms shown in affected individuals. Source: NFED
As archived in National Foundation for Ectodermal Dysplasias (NFED), the 180+ ectodermal dysplasias are recognised and named based on the specific combination of symptoms shown in affected individuals. Source: NFED


Delapan tahun berusaha mencari jawaban atas penyakitnya

Pada tahun 2009, seorang bayi laki-laki lahir, lewat empat hari dari waktu yang seharusnya namun hanya memiliki berat badan sedikit di atas 2 kg. Bayi ini sehat, tetapi ibunya memiliki firasat telah terjadi sesuatu yang aneh pada bayinya. Salah satunya yaitu terdapat bekas robeknya kulit dari kepala bayi, tetapi tanpa perdarahan. Kemudian saat berusia beberapa minggu, bayi tersebut mengeluarkan suara aneh seperti rintihan dan teriakan dalam tidurnya. Tidak hanya itu, bayi tersebut juga memiliki tenggorokan yang lemah atau laryngomalacia, dimana untungnya dapat diatasi dengan obat penghalang asam. Namun berat badannya tidak kunjung bertambah sehingga ia berada pada garis kurva pertumbuhan paling bawah pada usia satu tahun.

Dalam rangka mencari jawaban atas kondisi anaknya, keluarga O akhirnya meminta analisis genetik pada tahun 2012 dan menunjukkan hasil diagnosis yang kurang menjanjikan, yaitu masalah pada gen EVC2 yang dapat menimbulkan tubuh pendek, masalah gigi dan kuku, serta masalah serius pada jantung. Terdapat lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, tetapi hanya itu yang bisa mereka dapatkan. Diagnosis ini cukup memuaskan mereka, hingga pada suatu waktu, bibir anak laki-laki tersebut pecah-pecah saat musim dingin dan terus berlanjut hingga ke lubang hidungnya, dan tidak kunjung sembuh.

Setelah berusia delapan tahun, akhirnya mereka mendapatkan jawaban yang mereka cari saat melakukan konsultasi dengan ahli genetik lain, yang menyimpulkan bahwa gejala-gejala yang anak tersebut, yaitu hidung yang sempit dengan cuping hidung tipis, gigi berbentuk kerucut dengan lapisan email tidak terbentuk lengkap, jari bengkok, serta rambut tipis, kasar, dan kering, merupakan akibat ODDD akibat mutasi de novo.

Keluarga O tetap optimis setelah mendapatkan jawaban yang tepat. Walaupun dibutuhkan waktu lama agar dapat sembuh, namun anak laki-laki tersebut tetap bahagia dan terus tumbuh.

Features of ODDD include small little fingers, scar from separation of 4th and 5th finger syndactyly, with absence of proximal phalanx of the little finger in the right hand. Photo credit: ACNR
Features of ODDD include small little fingers, scar from separation of 4th and 5th finger syndactyly, with absence of proximal phalanx of the little finger in the right hand. Photo credit: ACNR

Diagnosis ODDD dari cara berjalan

Sementara itu di tahun 2013, seorang wanita dengan keluhan saat berjalan, dimulai dari kaki kiri yang pincang selama enam tahun terakhir, juga didiagnosis ODDD. Riwayat hidupnya menunjukkan bahwa ia lahir dengan bilateral partial syndactyly atau jari-jari kaki yang menempel menjadi satu serta complete syndactyly pada jari tangan kiri nomor empat dan lima, yang kemudian akhirnya dikoreksi dengan operasi tetapi jari-jarinya tetap berukuran kecil. Selain itu, matanya yang juling juga dikoreksi saat ia masih anak-anak, tetapi mata kirinya masih dalam keadaan konvergen ringan.

Microdontia and enamel hypoplasia. Photo credit: ACNR
Microdontia and enamel hypoplasia. Photo credit: ACNR


Selain itu, giginya juga berukuran kecil dan kekurangan email sehingga ia kehilangan 4 gigi tetap saat usianya baru 24 tahun. Seiring dengan bertambahnya usia, wanita tersebut rentan mengalami diare, sering berkemih, buang air kecil di malam hari dan inkontinensia urin. Wanita tersebut juga merupakan yang pertama dalam menunjukkan kelainan tuba fallopi sehingga mengakibatkan infertilitas primer.

Seperti anak laki-laki di keluarga O, orangtua dan saudara laki-laki wanita tersebut tidak memiliki kelainan apapun. Wanita tersebut mengalami bentuk sporadik dari ODDD yang mengenai berbagai jaringan tubuh termasuk mata, hidung, gigi, jari-jari, tuba fallopi dan sistem saraf. Kulit pada telapak tangan dan kakinya juga mengalami penebalan. Penanganan gejala yang dialami wanita tersebut dan pasien ODDD lainnya secara umum bersifat multi disipliner, dimana deteksi dini sindrom tersebut dapat bermanfaat bagi pencegahan dan pengobatan. MIMS

Bacaan lain:

Misteri medis: Penyakit langka yang membingungkan para dokter
Perangkap tes genetik: Akurasi yang dipertanyakan
Bongkar-pasang DNA untuk menyembuhkan kelainan genetik

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/12/21/fragile-skin-stunted-growth-mystery/
https://ghr.nlm.nih.gov/condition/oculodentodigital-dysplasia
http://www.acnr.co.uk/2013/09/oculo-dento-digital-dysplasia-oddd/
https://www.dovemed.com/diseases-conditions/oculo-dento-digital-dysplasia/
https://www.nfed.org/learn/types/https://rarediseases.org/rare-diseases/oculo-dento-digital-dysplasia/