Menurut sebuah penelitian mengenai perkembangan obat di Norwegia, penggunaan asetaminofen selama masa kehamilan dapat menyebabkan terjadinya attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak yang dilahirkan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Paediatrics ini menganalisis data dari 113.000 anak-anak dan orangtua mereka; termasuk 2.246 anak yang didiagnosis menderita ADHD. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa hampir separuh dari ibu anak-anak ini mengonsumsi asetaminofen, atau yang lebih dikenal dengan nama parasetamol, di satu titik masa kehamilan mereka.

Dalam penjelasan lebih lanjut, sekitar 47% wanita mengonsumsi asetaminofen saat sedang hamil: 27% dalam satu trimester, 16% dalam trimester kedua, dan kurang dari 4% dalam keseluruhan tahap trimester.

"Kami menemukan bahwa penggunaan asetaminofen selama 29 hari atau lebih selama masa kehamilan meningkatkan risiko ADHD sebesar 220% pada anak yang dikandung,” ungkap penulis utama penelitian tersebut, Eivind Ystrom dari Norwegian Institute of Public Health and the University of Oslo.

"Angka ini didapat setelah memperhitungkan kondisi medis dan risiko ADHD keluarga."

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan asetaminofen hanya pada satu trimester berhubungan dengan peningkatan risiko memiliki anak ADHD sebesar 7%, sementara wanita yang menggunakan asetaminofen selama dua trimester memiliki peningkatan risiko sebesar 22% dan penggunaan selama tiga trimester memiliki peningkatan risiko sebesar 27%.

"Namun setelah dilakukan penyesuaian terhadap seluruh kondisi medis terkait penggunaan asetaminofen seperti infeksi dan rasa sakit, serta risiko genetik keluarga terhadap ADHD, anak-anak yang terpapar asetaminofen jangka panjang saat masih dalam kandungan dua kali lipat lebih mungkin didiagnosis menderita ADHD oleh dokter spesialis di klinik. Hasil ini cukup mengejutkan." tutur Ystrom. 

Kemungkinan penyebab lain 

Tidak semua orang setuju dengan hasil penelitian tersebut. Dr Antonio Saad, seorang peneliti dari University of Texas Medical Branch di Galveston, mengatakan bahwa penemuan tersebut mungkin hanya suatu kebetulan.

"Perlu diperhatikan bahwa menghindari penggunaan asetaminofen juga dapat bisa berdampak negatif," kata Saad. "Obat penahan rasa sakit dan demam jenis lain, seperti ibuprofen, sebaiknya tidak digunakan selama masa kehamilan. Dengan demikian, pilihan yang tersisa hanya narkotik sebagai alternatif penahan rasa sakit dan tidak ada alternatif untuk demam."


Dr Chittaranjan Andrade dari National Institute of Mental Health and Neurosciences di Bangalore, India meyakini bahwa peningkatan risiko ADHD terkait penggunaan asetaminofen dapat disebabkan oleh tingkat keparahan penyakit medis yang diderita ibu, bukan karena penggunaan obat tersebut.

Andrade menjelaskan kepada Reuters bahwa infeksi atau demam parah dapat menjadi alasan mengapa bayi dapat mengalami ADHD, bukan karena asetaminofen yang dikonsumsi oleh ibu.

"Hasil penelitian ini tidak cukup untuk digunakan sebagai data kuat untuk menghentikan penggunaan asetaminofen selama masa kehamilan," kata Andrade. 

Dr Alison G. Cahill, anggota dari American College of Obstetricians and Gynaecologists' Committee on Obstetric Practice, juga termasuk dalam daftar ahli yang tidak menyetujui hasil penelitian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa penelitian tersebut tidak menambah pengetahuan medis apapun.

Ia juga mengatakan bahwa peneliti dalam penelitian tersebut mengkalkulasi jumlah anak yang didiagnosis ADHD hanya berdasarkan kode rekam medis mereka, bukan menggunakan metode terukur yang biasa digunakan untuk diagnosis ADHD. 

"Seperti yang dapat dibayangkan, dapat terjadi suatu ketidaksinambungan antara diagnosis dan pemberian kode," kata Cahill. 

Cahill juga menjelaskan bahwa untuk menarik kesimpulan hubungan antara paparan sebelum kelahiran dengan dampak tertentu, perlu ada hasil penelitian berulang yang mendukung hal ini. 

"Hal lain yang kita temukan adalah hubungan antara dosis dan respon, dimana peningkatan dosis dapat menyebabkan risiko lebih besar atau peningkatan keparahan penyakit tersebut," sebagaimana yang ditekankan oleh Cahill. 

Apakah asetaminofen aman?

Cahill mengungkapkan bahwa penggunaan asetaminofen dosis rendah justru dapat menurunkan risiko ADHD pada bayi dalam kandungan, sementara penggunaan pada dosis tinggi memang akan menghasilkan efek kebalikannya. 

Ystrom juga mengemukakan bahwa wanita hamil yang membutuhkan obat untuk demam dan penghilang sakit sebaiknya tidak melarang penggunaan asetaminofen jangka pendek. Namun, ia juga menyarankan bahwa wanita hamil yang membutuhkan asetaminofen dalam periode lebih panjang sebaiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Ystrom meyakini bahwa angka statistik penemuannya memiliki nilai signifikan. Tetapi ia setuju bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah asetaminofen dapat menyebabkan terjadinya ADHD pada janin. MIMS

Bacaan lain:
Apoteker : Bagaimana cara memilih obat yang aman untuk ibu hamil?
Obat gangguan mental dan kehamilan: Pilihan dokter
Gangguan tidur pada wanita hamil berhubungan dengan bayi lahir prematur

Sumber:
http://edition.cnn.com/2017/10/30/health/acetaminophen-adhd-pregnancy-study/index.html
https://www.reuters.com/article/us-health-pregnancy-acetaminophen/pain-drugs-in-pregnancy-tied-to-adhd-idUSKBN1CZ2GW