Penelitian terbaru - yang dilakukan oleh tim peneliti internasional dari Kanada, Finlandia dan Jerman - menunjukkan adanya hubungan antara obat penghilang nyeri dan peningkatan risiko serangan jantung.

Tim peneliti ini menganalisis data dari 446.763 pasien untuk mengetahui outcome yang bisa mengubah pendekatan dokter saat meresepkan obat penghilang nyeri di masa depan.

Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS)

OAINS - obat penghilang nyeri paling banyak di pasar - bekerja dengan memblok enzim COX dalam tubuh kita, dan dengan demikian bisa menurunkan inflamasi, rasa nyeri dan demam. Contoh OAINS adalah aspirin, celecoxib, ibuprofen, naproxen, dan diklofenak.

Obat ini banyak tersedia di apotek dan rumah sakit di dunia dengan harga relatif lebih mudah, yang membuat OAINS menjadi sangat laku di seluruh dunia.

Namun, OAINS bukan obat ajaib dan juga memiliki efek samping. Efek samping OAINS yang paling banyak terjadi adalah gangguan pencernaan yang bisa jadi ringan seperti diare, konstipasi dan penurunan nafsu makan hingga masalah lebih serius; seperti ulkus dan pendarahan lambung.

Jika digunakan di atas dosis rekomendasi atau dalam periode waktu panjang, OAINS bisa menyebabkan gagal ginjal dan hati. Meskipun angka kejadian komplikasi cenderung rendah, namun dokter harus tetap waspada saat meresepkan OAINS.

Meningkatkan risiko serangan jantung

Dipublikasikan pada 9 Mei 2017, dokter ahli epidemiologi Michèle Bally dan tim peneliti internasional menemukan hubungan positif antara penggunaan OAINS dan peningkatan risiko serangan jantung. Tim peneliti menganalisis data klinis dari 446.763 pasien dan 61.460 pasien mengalami serangan jantung.

Dari data yang dianalisis, tim menemukan bahwa mengonsumsi OAINS dalam dosis berapapun selama lebih dari satu minggu bisa meningkatkan risiko serangan jantung. Selain itu, risiko ini ditemukan meningkat terutama saat durasi asupan diperpanjang - dengan risiko tertinggi terdapat pada satu bulan pertama.

Risiko serangan jantung pada pasien pengguna OAINS selama lebih dari satu bulan ditemukan tidak lebih tinggi dibandingkan pasien yang menggunakannya selama kurang dari satu bulan. Dengan demikian, risiko serangan jantung juga bisa meningkat dengan dosis OAINS yang lebih tinggi.

Disarankan menggunakan obat penghilang nyeri dosis lebih rendah

Telah diketahui bahwa obat penghilang nyeri harus dikonsumsi dalam dosis kecil dalam periode waktu pendek. Selain itu, penggunaan obat di atas dosis rekomendasi tidak disarankan karena efek samping yang mungkin muncul.

Dengan demikian, penelitian mendukung tenaga kesehatan untuk memberikan OAINS dalam dosis rendah dan durasi pendek. Penelitian sebelumnya dan panduan praktek klinis sekarang sudah banyak memperingati mengenmai penggunaan OAINS pada pasien masalah jantung dan stroke karena tingginya risiko pendarahan.

Berdasarkan hasil penelitian, panduan harus diperbaharui untuk emnunjukkan efek penggunaan OAINS jangka panjang dan, saat dibutuhkan oleh pasien dengan risiko tinggi masalah jantung. Dengan harapan, hasil baru ini bisa mengubah pola penggunaan OAINS dalam manajemen nyeri jangka panjang.

Bergerak maju

Saat dokter dan peneliti mengetahui mengenai bahaya dan perangkap penggunaan obat penghilang nyeri jangka panjang, hasil penelitian ini bsia digunakan sebagai pengingat. Selain praktek dokter, pasien juga harus diedukasi mengenai penggunaan obat penghilang nyeri yang seharusnya, terutama karena mudahnya akses ke obat penghilang nyeri - dan dengan harga murah. Hasilnya, banyak penyalahgunaan OAINS terjadi.

Hasil penelitian baru ini menandai tahap penting resep obat penghilang nyeri. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut penting untuk memahami lebih lanjut obat ini. MIMS

Bacaan lain:
Penyakit jantung dan stroke lebih banyak menyerang orang-orang yang kesepian dan terisolasi
9 teh yang baik untuk kesehatan
7 makanan probiotik untuk usus sehat
6 robot untuk menjawab tantangan dunia kesehatan


Sumber:
http://www.medicinenet.com/nonsteroidal_antiinflammatory_drugs/article.htm 
http://www.bbc.com/news/health-39858179 
http://www.bmj.com/content/357/bmj.j1909 
http://www.bbc.com/news/health-37496348