Bayangkan Anda datang ke apotek dan menebus resep obat anak Anda untuk penggunaan obat antiepilepsi selama sebulan. Dosis resep obat dibuat spesifik sesuai dengan berat badan anak Anda pada saat itu, dan rasa pilnya bisa dipilih sesuai dengan rasa kesukaan anak Anda. Sebelum meninggalkan kasir apotek, Anda tidak lupa meminta apoteker untuk, "Tolong buat dalam bentuk ubur-ubur. Anak saya suka ubur-ubur merah."

Skenario ini mungkin tampak tidak realistis. Faktanya, hampir semua apoteker merasa formulasi farmasetik yang sempurna hanya ada dalam imajinasi belaka. Meskipun demikian, sejak ditemukannya teknologi print 3D, pembentukan dosis obat farmasetik skala kecil dan khusus sudah bisa dilakukan.

Print obat

Teknologi print 3D pertama kali diperkenalkan di tahun 1986 oleh Charles Hall, dengan nama "stereolithography", tetapi teknologi ini tidak banyak dikenal hingga di akhir abad ke-21, dimana print 3D sudah banyak digunakan dalam skala yang lebih besar.

Sekarang, print 3D sudah bisa menghasilkan berbagai macam produk dari ukuran dan bentuk berbeda dengan menciptakan lapisan demi lapisan sesuai dengan model yang sudah ditetapkan sebelumnya dalam komputer.

Sejauh ini, teknologi print 3D sudah berkembang hingga ke titik dimana obat print 3D pertama sudah mendapat persetujuan dari FDA. Pada 22 Maret 2016, Aprecia Pharmaceuticals mengumumkan bahwa badan pengawas Amerika Serikat sudah menyetujui SPRITAM®, obat pertama yang diproduksi menggunakan teknologi print 3D.

Formulasi desain khusus memicu pelepasan instan senyawa aktif dosis tinggi, yang merupakan suatu tantangan bagi teknologi formulasi konvensional.

Manfat farmasetika print 3D

Print 3D sangat menjanjikan dalam merevolusi produksi obat dan alat medis, khususnya bagi obat yang dipaparkan secara oral. Meskipun demikian, kritikan sudah banyak ditujukan untuk teknologi baru ini, khususnya pada tablet dan kapsul, yang banyak diberikan untuk penggunaan oral dan bahwa bentuk sediaan ini tidak terlalu membutuhkan modifikasi dari teknologi yang belum terbukti ini.

Meskipun demikian, advokat obat print 3D seperti Dr Clive Roberts, Kepala Nanoteknologi Farmasetik dan Kepala Fakultas Farmasi, Universitas Nottingham, percaya penerima manfaat terbesar dari obat ini adalah anak-anak atau kelompok pasien spesifik yang membutuhkan dosis obat khusus.

Teknologi baru ini bisa digunakan untuk personalisasi obat untuk pasien khusus.

Visi Dr Robert adalah untuk menciptakan "printer formulasi" yang "mampu memprint formulasi 3D dari berbagai jenis obat dan pengisi... untuk mencapai regimen dosis yang cocok dengan setiap pasien."

Ia kemudian menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan kepala editor Controlled Release Society bahwa "printer akan dihubungkan ke tenaga kesehatan yang sesuai melalui internet, sehingga dosis individu bisa diprint, dimonitor, dan dimodifikasi dalam jarak jauh."

Manfaat lain dari obat print 3D adalah demikratisasi produksi sediaan farmasetik. Dengan kata ini, ini merupakan ide dimana teknologi memungkinan orang-orang menerima obat penting, dimanapun lokasi mereka berada.

Sebagaimana yang diargumentasikan oleh Profesor Lee Cronin, Kursi Regius Kimia, Fakultas Kimia, Universitas Glasgow, dengan mengatakan bahwa distribusi dan akses obat yang lebih luas membuat printer 3D menjadi pemenang teknologi ini.

Perangkap tersembunyi dari teknologi

Meskipun print 3D sudah dianggap sebagai terobosan terbaru dalam beberapa tahun terakhir ini, namun keraguan dan kritik masih tetap ada di antara tenaga kesehatan.

Pertama dan terutama, kontrol kualitas yang sistematik dan kontrol regulasi standar harus diciptakan, didiskusikan, diuji dan diterima oleh pemegang saham utama industri. Mendirikan industri obat mini yang dioperasikan oleh orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya untuk menghasilkan obat apapun merupakan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan.

Selain itu, meskipun produksi obat sekarang sudah terpusat, namun tetap sulit untuk mengontrol kualitas produk akhir. Sehingga tidak ada garansi produk yang dihasilkan mengandung kandungan dan dosis yang sesuai dengan yang tercatat dalam label.

Haruskah kita mengikuti tren masa depan?

Pada semua terobosan teknologi, rasio manfaat dan risiko harus diseimbangkan. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh mendingan Steve Jobs, "Teknologi tidak ada apa-apanya. Yang penting adalah Anda percaya para orang-orang, bahwa mereka sebenarnya baik dan pintar, dan jika Anda menyediakan sebuah alat, mereka akan menciptakan hal-hal yang luar biasa menggunakannya." MIMS

Bacaan lain:
Dokter tidak memperhitungkan biaya saat meresepkan obat atau tes kesehatan
Susu kecoa - Makanan sehat terbaru
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?

Sumber:
https://redshift.autodesk.com/3d-printed-pharmaceuticals/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4189697/
https://www.aprecia.com/pdf/ApreciaSPRITAMLaunchPressRelease__FINAL.PDF
http://www.controlledreleasesociety.org/publications/intrack/Pages/it0005.aspx
http://www.pharmaceutical-journal.com/news-and-analysis/features/3d-printing-the-future-of-manufacturing-medicine/20068625.article