Meskipun jutaan dollar sudah dihabiskan dan pengumuman besar-besaran yang dikeluarkan oleh penemunya, di tanggal 26 September 2017, akhirnya Axovant Sciences mengumumkan bahwa penelitian klinis fase ketiga – disebut juga sebagai MINDSET – gagal memperoleh apa yang diinginkan.

Obat yang sedang dalam masa percobaan, interpirdine, tidak menunjukkan efikasi yang lebih baik dibandingkan placebo dalam meningkatkan kemampuan kognisi pasien, dan juga tidak memperbaiki aktivitas fisik harian pasien. Hanya satu tujuan sekunder yang menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok pengguna intepirdine dibandingkan placebo.

Obat Alzheimer: 99% gagal dalam penelitian klinis

Penyakit Alzheimer merupakan salah satu tantangan terberat manusia sekarang ini. Di tahun 2015, diestimasikan bahwa terdapat hampir 47 juta di seluruh dunia yang menderita demensia dan kemungkinan angkanya akan bertambah hingga lebih dari 131 juta di tahun 2050. Meskipun ada banyak sekali penderitanya, namun hanya ada sedikit obat yang terbukti bisa membantu mengatasi penyakit atau gejalanya. Sekarang, hanya ada lima obat yang disetujui, empat di antaranya termasuk dalam kelompok yang dikenal sebagai penghambat kolinesterase (tacrine, donepezil, rivastigmine dan galantamine) dan antagonis reseptor NMDA (memantine).

Tidak adanya perbaharuan terapi efektif membuat penyakit Alzheimer menjadi tantangan terberat dalam sistem kesehatan. Mengingat pengaruhnya yang ireversibel, penurunan kemampuan mental pasien akan perlahan memengaruhi kemampuan pasien untuk berpikir dan merencanakan aktivitas harian.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan beberapa tahun lalu menyebutkan bahwa perkembangan obat Alzheimer mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan: 99,6% dari semua penelitian klinis dalam periode sepuluh tahun terakhir (2002-2012). Dengan kata lain, hanya satu dari 244 kandidat obat yang berhasil masuk ke pasar. Nama senyawa tersebut adalah memantine, yang bekerja dengan mengatasi gejala penyakit Alzheimer tetapi tidak mengobatinya.

Kegagalan Intepirdine

In 2015, it was estimated that, there were close to 47 million people worldwide suffering from dementia – and the number is likely to go up to more than 131 million by 2050.
In 2015, it was estimated that, there were close to 47 million people worldwide suffering from dementia – and the number is likely to go up to more than 131 million by 2050.

Hasil mengecewakan dari penelitian Axovant membuat tenaga kesehatan dan pasien di seluruh dunia frustasi. Perusahaan farmasetika secara keseluruhan sudah menghabiskan miliaran dollar untuk mencari penyembuh, atau setidaknya, penunda perparahan penyakit Alzheimer. Sayangnya, semuanya tampak sia-sia mengingat tidak satupun obat yang berhasil masuk ke pasar sejak tahun 2003.

"Kami sangat kecewa dengan hasil penelitian dan merasa sedih bagi jutaan pasien dan keluarga penderita penyakit Alzheimer," sebut Dr David Hung, CEO Axovant, setelah pengumuman kegagalan intepirdine.

Meskipun demikian beberapa industri tidak terkejut dengan hasil negatif MINDSET. Intepirdine pada dasarnya dikembangkan oleh industri farmasetika besar, GlaxoSmithKline (GSK) yang menargetkan sistem neurotransmiter serotonergik. Senyawa ini ditunjukkan memiliki keberhasilan awal dalam mengembalikan defisit kognisi pada tikus dan juga bisa ditoleransi dengan baik pada sukarelawan manusia sehat.

Kemudian penelitian klinis fase awal yang dilakukan oleh GSK hanya menunjukkan sedikit manfaat pada outcome kognisi dan fungsional. Pada Desember 2014, Axovant mengambil alih senyawa ini melalui persetujuan jutaan dollar dengan GSK. Dalam waktu satu tahun, Axovant memulai MINDSET, penelitian yang dilakukan pada lebih dari 1.000 pasien dengan penyakit Alzheimer tingkat keparahan ringan hingga sedang.

Mengatasi penghalang dalam perkembangan obat

Perkembangan obat untuk penyakit Alzheimer dipersulit oleh beberapa masalah berbeda, salah satunya adalah perkembangan penyakit yang perlahan. Gejala Alzheimer mungkin tidak muncul dalam waktu beberapa tahun setelah diagnosis penyakit, sehingga penelitian klinis harus dilakukan dalam waktu lama dan dengan biaya mahal. Industri farmasetika harus memiliki dukungan finansial yang baik sebelum memutuskan untuk melakukan investasi. Selain itu, industri juga memiliki risiko kedaluwarsa paten sebelum penelitian menunjukkan hasil yang berarti.

Kedua, otak kita dilindungi oleh penghalang darah-otak, atau bisa dikatakan terlalu terlindungi, sehingga banyak senyawa terapeutik tidak bisa melewati penghalang ini untuk menghantarkan efek terapeutik. Pengetahuan yang terbatas mengenai penyakit ini juga membuat semakin sulitnya tantangan penelitian.

"Tidak banyak yang diketahui mengenai sistem biologi penyakit, jika dibandingkan dengan kanker," jelas Profesor Simon Lovestone dari Universitas Oxford.

Heterogenitas yang melekat pada penyakit ini, diikuti dengan kebutuhan penelitian klinis yang panjang dan mahal, selalu menciptakan kegagalan pada penelitian Alzheimer.

Meskipun sudah banyak kegagalan, namun Axovant tetap optimis akan masa depannya. Pernyataan yang dikeluarkan oleh Roivant, perusahaan induk Axovant, mengatakan "Hasil penelitian sekarang merupakan suatu kerugian, dan terutama bagi penderita penyakit Alzheimer. Namun, ini bukan akhir dari segalanya. Axovant tetap berkomitmen akan penelitian lebih lanjut dalam ranah ini, dan kami mendukung semua yang memiliki komitmen." MIMS

Bacaan lain:
3 misteri diagnosis berhasil dipecahkan melalui sekuens DNA
Fenomena di dunia: Pola makan yang buruk menyebabkan kematian, sebut penelitian di dunia
Obat ajaib anti-inflamasi disebut-sebut bisa mencegah kanker paru-paru dan serangan jantung

Sumber:
https://www.alz.co.uk/research/worldalzheimerreport2016sheet.pdf
https://alzres.biomedcentral.com/track/pdf/10.1186/alzrt269?site=alzres.biomedcentral.com 
http://www.webmd.com/drugs/2/drug-77932-377/memantine-oral/memantine-oral/details 
https://www.statnews.com/2017/09/26/axovant-intepirdine-trial/ 
http://www.alzforum.org/therapeutics/intepirdine 
https://www.scientificamerican.com/article/why-alzheimer-s-drugs-keep-failing/ 
http://www.prnewswire.com/news-releases/roivant-sciences-statement-on-mindset-results-300525732.html