Sejak zaman dahulu, Mukus sudah terkenal sangat berkhasiat bagi kesehatan manusia. Orang Persia, misalnya, yang menganggap dahak sebagai satu dari empat cairan tubuh. Menjaga keseimbangan dahak penting agar tetap sehat.

Ada juga yang percaya bahwa dahak bisa berubah menjadi darah jika terjadi peningkatan suhu.

Fungsi mukus dalam paru-paru juga sudah sejak lama diteliti dan terbukti dapat membantu melindungi tubuh dengan menangkap partikel kecil, bakteri dan virus, ke dalam silia di permukaan sel pernapasan.

Baru-baru ini, Katharina Ribbeck, seorang profesor asosiasi dalam departemen teknik biologi di Massachusetts Institute of Technology (MIT), menunjukkan bahwa ada manfaat lebih besar lagi dari mukus. Mengingat mukus merupakan tempat hidup jutaan bakteri baik dan patogen, kelompok peneliti Katharina ingin mencari tahu mekanisme yang melatarbelakanginya, untuk mengoptimalkan personalisasi obat.



"Mukus merupakan pahlawan yang diam-diam membantu manusia melawan patogen," katanya.

"Bayangkan, kita tidak perlu menggunakan antibiotik untuk mengatasi infeksi mikroba, namun memanfaatkannya untuk kesehatan kita. Bayangkan kita belajar bagaimana menjinakkannya, dan memberi tempat tinggal serta makanan – sebagai imbalannya, mikroba akan menjaga kesehatan umat manusia," katanya.

Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa mukus hewan bisa sangat bermanfaat.

Manfaat bekicot dan siput

Banyak orang percaya bahwa terapi alami menggunakan lendir moluska lebih baik daripada terapi berteknologi tinggi.
Banyak orang percaya bahwa terapi alami menggunakan lendir moluska lebih baik daripada terapi berteknologi tinggi.

Produk kecantikan Korea dengan cepat menjadi salah satu tren make-up dan perawatan kulit paling populer, karena efektivitasnya. Mukus bekicot adalah rahasianya.

Banyak produsen menambahkan mukus bekicot ke dalam komposisi sejumlah produk seperti masker wajah, krim dan masker tidur, mukus bekicot "terbukti dapat memudarkan bekas jerawat dan hiperpigmentasi, melembabkan dan mengencangkan kulit, menjadikannya bersih berkilau, serta mengecilkan pori-pori, dengan penggunaan secara teratur," menurut salah satu produsen, MISSHA.

Thailand juga memanfaatkan tren ini dengan menawarkan perawatan wajah menggunakan bekicot sejak beberapa tahun terakhir. Para penggunanya mengklaim bahwa "terapi alami" lebih baik daripada laser atau perawatan modern lainnya.

Siput, sepupu bekicot juga menghasilkan mukus yang sama bermanfaatnya.

Peneliti dari Universitas Harvard menemukan bahwa mukus bisa digunakan sebagai bahan perekat untuk menutup luka dan tambalan setelah operasi. Terlepas dari masalah toksisitas, perekat konvensional tidak dapat berfungsi saat basah, sehingga sulit menempel pada kulit maupun organ dalam.

Sebut saja, Dusky Arion, spesies siput yang menghasilkan mukus saat diserang predator. Selain sangat kuat, mukus juga bersifat organik sehingga tidak beracun dan mudah terurai secara alami. Mukus dapat bekerja dalam keadaan basah dan sangat fleksibel – sehingga pasien masih bisa bergerak dengan leluasa paska operasi.

Katak juga tidak mau ketinggalan



Mengikuti tren mukus, tim peneliti dari Universitas Emory mempelajari mukus yang dihasilkan dari kulit bahu Hidrophylax bahuvistara, sejenis katak asli India selatan. Mereka menemukan bahwa mukus tersebut dapat melindungi dari serangan virus influenza – sama seperti pendapat Ribbeck tentang manfaat mukus. Tim tersebut meneliti 32 peptida dan menemukan bahwa salah satunya, yang diberi nama "urumin", dapat menyerang virus namun tidak merusak sel manusia.

Setiap strain flu dinamai sesuai kombinasi dua protein permukaannya, hemaglutinin dan neuraminidase. Obat flu yang ada saat ini menyerang protein neuraminidase namun tidak efektif saat protein bermutasi.

Joshy Jacob, selaku peneliti utama menjelaskan, "Mukus katak berikatan dengan hemaglutinin, mendestabilisasi virus dan kemudian membunuhnya". Urumin bisa menjadi vaksin flu universal dengan menyerang protein hemaglutinin yang umum ditemukan pada banyak strain flu.

Memahami produksi mukus

Penemuan seperti yang telah dijelaskan di atas memang bisa bermanfaat, namun bagi penderita fibrosis kistik, mukus merupakan masalah besar. Tim peneliti dari Universitas Iowa, telah mempelajari fibrosis kistik secara lebih mendalam. Tim ini berfokus pada dua protein musin pada mukus yang disebut MUC5B dan MUC5AC.

Mereka menemukan bahwa biasanya, MUC5B berbentuk untaian sedangkan MUC5A berbentuk benang tipis dan lembaran tipis. Bila terserang fibrosis kistik, untaian MUC5B menjadi kusut, mengisi saluran kelenjar submukosa dan gagal melepaskan diri dengan benar. Lembaran MUC5AC juga lebih besar dan melimpah.

Peneliti utama dan profesor penelitian penyakit dalam Universitas lowa, Lynda Ostedgaard, berharap agar penelitian tersebut "dapat membantu kita memahami bagaimana mukosa abnormal berkembang pada penyakit fibrosis kistik, bahkan membantu kita memahami metode baru untuk mengobati serta mencegah penyakit paru-paru." MIMS

Bacaan lain:
101 Etimologi: Asal mula penamaan setiap penyakit
Langka namun mematikan: Amoeba pemakan otak
3 tren kesehatan yang membingungkan bagi para dokter

Sumber:
https://www.bustle.com/p/i-put-snail-mucus-on-my-face-heres-why-you-need-to-put-it-on-yours-too-photos-29489 
http://www.tehrantimes.com/news/420226/Importance-and-specifications-of-Akhlat-Phlegm
https://medicalxpress.com/news/2017-06-cystic-fibrosis-mucus-airways.html 
http://www.popularmechanics.com/science/health/news/a27513/glue-out-of-slug-snot/ 
http://www.latimes.com/science/sciencenow/la-sci-sn-frog-mucus-flu-20170418-story.html 
https://www.statnews.com/2018/01/17/mucus-human-body/ 
https://www.theguardian.com/money/2015/jan/28/snail-mucus-facials-thailand