Pelayanan kesehatan untuk pasien pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) sudah banyak mengalami peningkatan sejak pertama kali ditemukan, yaitu pada tahun 1980an awal. Seiring dengan semakin majunya pengobatan dan terapi HIV, harapan hidup pasien pengidap HIV pun juga semakin meningkat.

Baru-baru ini, penelitian yang dilakukan oleh Universitas Bristol menunjukkan bukti adanya kemajuan cepat selama dua dekade terakhir ini dalam meningkatkan kualitas hidup pasien HIV.

HIV: Dilema publik

Pertama kali ditemukan pada 1983, HIV merupakan retrovirus yang mengindeksi sistem imun manusia. Jika tidak diberikan terapi, infeksi HIV akan kemudian berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), dimana ada kerusakan total sistem imun tubuh.

Disebarkan melalui transfusi darah dan cairan tubuh, infeksi HIV sudah menjadi pandemik global, dengan sekitar 36,7 juta orang di dunia hidup dengan HIV.

Terapi infeksi HIV adalah berupa terapi anti-retrovirus yang ditunjukkan memiliki perbaikan signifikan. Perbaikan ini meliputi penurunan biaya dan menurunnya efek samping. Keduanya berguna untuk meningkatkan akses terapi negara berpendapatan rendah dan meningkatkan kepatuhan terjadap regimen terapi pasien.

Sekarang, World Health Organization mengestimasikan ada 18,2 juta orang di dunia yang menerima terapi anti-retrovirus. Meskipun terapi dan pencegahan infeksi HIV sudah mengalami peningkatan, namun masalah yang melingkupi hal ini masih mengalami kekurangan penyembuh definitif dan stigma sosial.

Harapan hidup hampir normal bagi pasien HIV

Pertama kali dipublikasikan pada 10 Mei 2017, tim peneliti dari Universitas Bristol mempublikasikan hasil penelitiannya pada harapan hidup pasien HIV yang memulai terapi anti-retrovirus baik dari tahun 1996 dan 2013. Dengan menganalisis angka kesembuhan tiga tahun dan harapan hidup 88.504 pasien, tim ini berhasil dengan akurat mengestimasikan harapan hidup pasien ini di masa depan.

Analisis statistik penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memulai terapi antara tahun 2008 dan 2010 memiliki angka mortalitas lebih rendah dibandingkan pasien yang memulai terapi antara tahun 1996 dan 2007. Dengan demikian, pasien 20 tahun yang mulai terapi anti-retrovirus setelah tahun 2008 hingga sekarang diharapkan bisa hidup hingga usia 78 tahun, yang sama dengan populasi umum.

Untuk mendapatkan hasil ini, tim peneliti memperhitungkan kemajuan sistem pengobatan, kepatuhan pasien, pencegahan dan manajemen komplikasi HIV. Semua faktor ini dipertimbangkan untuk menghasilkan peningkatan kualitas hidup untuk pasien HIV.

Upaya masa depan

Karena kemajuan medis ini bisa dianggap sebagai terobosan kesehatan, terapi anti-retrovirus ini sangat penting dalam menangani infeksi HIV. Penting untuk menyediakan obat dengan lebih murah sehingga bisa mudah diakses baik dalam negara berpenghasilan rendah dan masyarakat tidak mampu.

Diharapkan bahwa penemuan ini bukan hanya meningkatkan pandangan penderita HIV tetapi juga membantu menghilangkan stigma sosial mengenai kondisi ini. Hal ini bisa membantu pasien HIV mendapat kesempatan bekerja yang lebih baik, mendapat pelayanan asuransi lebih baik, dan yang lebih penting diterima secara sosial.

Meskipun ada bukti penelitian ini, masih banyak hal yang dilakukan karena banyak penderita HIV tidak berhasil didiagnosis dan tidak berhasil diterapi. Skrining dan edukasi sangat penting dalam mengidentifikasi pasien ini agar bisa melakukan deteksi dan pencegahan awal. MIMS

Bacaan lain:
'WanaCrypt0r 2.0' menyerang rumah sakit NHS dan menyebabkan kegawat-daruratan nasional
Lantai rumah sakit bisa menjadi sumber infeksi dan memperlambat kesembuhan pasien
Karakteristik virus untuk membunuh virus mematikan
3 terobosan baru dalam penelitian mengenai kanker


Sumber:
http://us.bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/1073.html
http://www.who.int/hiv/en/ 
http://www.bbc.com/news/health-39872530 
http://www.thelancet.com/journals/lanhiv/article/PIIS2352-3018(17)30066-8/fulltext?elsca1=tlpr