Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun di London sudah melakukan beberapa kali konsultasi dengan dokter NHS dan dokter swasta dalam periode waktu tujuh bulan, sebelum ia kemudian meninggal akibat asma kronis lima hari setelah diizinkan pulang dari rumah sakit di Inggris.

Kolonel dari Westminster, Dr Shirley Radcliffe mengatakan, "Ada 11 kesempatan dalam waktu tujuh bulan untuk melakukan tes, membuat diagnosis dan mengobatinya."

"Alarm tanda bahaya seharusnya sudah berbunyi" ketika Michael masuk ke rumah sakit dua kali dalam periode waktu 24 jam, kata kolonel.

"Tidak cukupnya" riwayat medis

Ibunya, Avelet Uriely merasa anaknya tidak mendapat perawatan yang seharusnya. Ketika ia melihat kondisi anaknya semakin menurun, ia mulai mendiskusikan mengenai kematian dengan seorang dokter di bulan Februari tahun itu namun dikatakan bahwa Michael tidak "termasuk dalam kategori ini".

Bahkan permintaannya untuk merujuk Michael ke klinik asma dan juga ke Rumah Sakit Great Ormond Street di London ditolak karena ia mengatakan dokter merasa Michael "tidak membutuhkannya".

Kemudian, Michael mengalami serangan asma serius dan dirujuk ke Rumah Sakit Royal Free pada 18 Agustus. Tetapi lagi, diagnosis yang dibuat tidak sesuai dan anak ini diizinkan pulang dengan asumsi asma yang diderita akan hilang dengan sendirinya. Ibu Michael mengatakan mereka mengatakan "seolah-olah kami menghabiskan waktu mereka".

Meskipun demikian, pagi berikutnya Michael masuk kembali ke rumah sakit dengan keluhan muntah-muntah dan perut kembung, dan dokter mengatakan Michael hanya mengalami "histeris".

Menurut Dr Radcliffe, riwayat medis Michael tidak cukup dan tidak ada penghubung antara kondisi masuk rumah sakit mereka yang sebelumnya.

Khawatir akan kondisi anaknya, Uriely membuat janji dengan Dr Aisha Laskor, yang kaget melihat kesalahan dokter.

Para dokter menolak tuduhan

Menurut penyidik, ada perselisihan antara Dr Laskor dan ibu sang anak saat konsultasi.

Dr Laskor menyebut instingnya mengatakan ia harus merujuk Michael kembali ke rumah sakit, tetapi ibu Michael tetap kekeuh bahwa kondisi Michael sudah membaik sejak diizinkan pulang. Dokter menambahkan bahwa ia meminta mereka untuk duduk di ruang tunggu selama 20 hingga 30 menit untuk melihat kondisi anaknya.

Dr Laskor mengatakan ibunya "tidak tampak putus asa." Adam Korn, yang mewakili keluarga Uriely, menyebut Dr Laskor melakukan hal tersebut untuk "menyamakan" pendapatnya sebelum memulangkan Michael. Meskipun demikian, Dr Laskor masih tidak yakin akan keputusannya sore itu.

Penyidik juga mengatakan Dr Michael Greenberg, dari Pusat Pasien Rawat Jalan Wellington di Golders Green, menolak permintaan Uriely untuk merujuk Michael ke Rumah Sakit Greet Ormond Street. Saat itu, dokter merasa tidak bisa membalikkan pembicaraan dan menambahkan, "Saya akan sangat senang untuk membuat surat rujukan tersebut."

Dokter anak Dr Neil Thompson, yang memeriksa Michael di Rumah Sakit Royal Free pada 18 Agustus lalu, tidak mengaku menggunakan kata "histeris" pada Michael.

Asma pasien "tidak terkontrol" di tahun terakhirnya

Mark Levy, seorang dokter umum senior yang sudah berpraktek selama 40 tahun dan penulis lebih dari 140 penelitian mengenai asma, mengatakan bahwa asma anak ini "tidak terkontrol dengan baik" di tahun terakhir kehidupannya.

"Kecepatan napas yang hanya sebesar 36 saat pemeriksaan tanggal 21 Agustus disebut merupakan kondisi yang 'mengancam jiwa'."

Michael didiagnosis asma ketika ia berusia dua setengah tahun. Dideskripsikan oleh ibunya sebagai anak yang 'bertalenta', anak ini belajar memainkan catur enam bulan setelah diagnosis. Ia pernah mengikuti pertandingan nasional dan kompetisi catur, dan memenangkan pertandingan ini dengan gelar Pemenang Catur Nasional.

Michael sedang berjuang menjadi seorang ahli catur tetapi semuanya berakhir di tanggal 25 Agustus. Kematiannya bisa dicegah jika dokter lebih teliti sebelum membuat diagnosis. MIMS

Bacaan lain:
Dokter menggunakan YouTube saat prosedur gawat darurat dan gagal menyelamatkan pasiennya
Seorang anak menjadi buta akibat reaksi simpang obat bebas
Dokter gagal mendiagnosis kebocoran apendiks pada seorang anak berusia empat tahun
Terapi kanker capecitabine ternyata dapat menghapus sidik jari


Sumber:
http://www.dailymail.co.uk/news/article-4316644/Boy-9-died-doctors-missed-11-CHANCES-save-him.html
https://www.theguardian.com/uk-news/2017/mar/15/doctors-missed-11-chances-to-treat-boy-nine-before-he-died-of-asthma-coroner-hears
http://www.telegraph.co.uk/news/2017/03/15/doctors-missed-11-chances-treat-chess-champion-months-died-chronic/
http://www.bbc.com/news/uk-england-london-39297827