Fidelis Arie Sudarwoto (36) hanya bisa pasrah. Sejak petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sanggau menangkapnya karena menanam 39 batang pohon ganja (Cannabis sativa) pada 19 Februari 2017, saat itu pula upayanya merawat sang istri, Yeni Riawati, berakhir.

Fidelis, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sanggau ini menanam ganja untuk mengobati istrinya yang menderita syringomyelia dan yang akhirnya meninggal dunia tepat 32 hari setelah Fidelis ditangkap BNN.

Apakah ganja benar-benar bisa menyembuhkan syringomyelia?

Syringomyelia merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan adanya cairan di sumsum tulang belakang, dengan berbagai macam penyebab tetapi kebanyakan disebabkan oleh malformasi Chiari I. Nyeri merupakan gejala yang muncul pada 50 hingga 90% pasien dewasa penderita syringomyelia.

Rokok ganja merupakan metode yang banyak digunakan untuk mengatasi rasa nyeri pasien. Meskipun ada banyak penelitian yang mendukung efikasi dan keamanan ganja untuk berbagai manajemen nyeri, namun penggunaan ganja masih banyak dilarang di beberapa negara.

Ganja tidak bisa menyembuhkan syringomyelia. Meskipun demikian, ganja terkenal akan efeknya sebagai penghilang rasa sakit, dan karena gejala utama syringomyelia adalah rasa nyeri tak tertahankan, maka ganja bisa berguna sebagai penghilang rasa sakit dan bisa meningkatkan kualitas hidup pasien.

Kualitas hidup inilah yang sangat penting diperhatikan. Meskipun tidak bisa sembuh, namun ganja terbukti bisa meredakan rasa nyeri tak tertahankan dan dengan demikian bisa meningkatkan aspek positif kehidupan.

Penggunaan ganja dari perspektif tenaga kesehatan

Penggunaan ganja atau obat golongan narkotika diatur sangat ketat dalam peraturan pemerintahan. Dalam UU No.35 tahun 2009 tentang narkotika, dikatakan bahwa narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi, pada pasal berikutnya, narkotika golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

Selain itu, obat golongan narkotik hanya boleh ditebus di apotek dengan disertakan resep dokter dengan tujuan agar badan pemerintahan bisa mengetahui peredaran obat golongan narkotik dan memastikan bahwa obat ini digunakan secara benar, tidak memberikan efek simpang (kecanduan atau efek halusinasi).

Dalam kasus Fidelis, karena ia tidak memiliki izin untuk menanam dan menggunakan ganja, maka inilah yang menyebabkan Fidelis harus mendekam dalam penjara. Mungkin memang tidak menggunakannya untuk aspek negatif, namun karena melakukan aktivitas di luar pengawasan BNN dan tenaga kesehatan professional, maka Fidelis tetap dinyatakan bersalah.

Kesalahan Fidelis bukan terletak di upaya Fidelis menyembuhkan sang istri tercinta, tetapi dalam hal tidak mencari bantuan tenaga kesehatan yang memiliki izin untuk memberikan obat dan penanganan terbaik bagi istri Fidelis. Meskipun tidak mengenakkan, namun hukum harus tetap berlaku. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa obat tidak memberi efek yang sama?
Seorang anak menjadi buta akibat reaksi simpang obat bebas
Resep berlebih: Apakah manfaatnya untuk dokter atau pasien mereka?
WHO mengeluarkan inisiatif global untuk mengurangi kesalahan obat hingga setengahnya di tahun 2022


Sumber:
http://regional.kompas.com/read/2017/04/04/06210031/akhir.perjuangan.fidelis.merawat.sang.istri.dengan.ganja.bagian.1.
http://www.medscape.com/viewarticle/405593
https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-642-13706-8_16#page-1
https://www.cdc.gov/hrqol/concept.htm
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39472307