Dalam percobaan untuk secara permanen mengubah struktur DNA (deoxyribose nucleid acid) manusia untuk menyembuhkan penyakit, para peneliti bereksperimen dengan menyunting gen dalam tubuh Brian Madeux, 44 tahun, penderita Hunter Syndrome. Eksperimen ini pertama  kali dilakukan di California, AS. Jika berhasil, eksperimen ini dapat menapaki jalan baru dalam mengobati penyakit kelainan genetik yang dapat mengancam jiwa. 

Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan gen yang menghasilkan enzim pemecah karbohidrat tertentu sehingga terdapat struktur karbohidrat dalam sel – dan kondisi ini tidak dapat diobati. Hal ini menimbulkan berbagai gejala seperti wajah tidak simetris dan kelainan jantung, serta gangguan otak dan proses berpikir.

"Kebanyakan dari penderitanya hanya bisa duduk di kursi roda….bergantung dengan orangtuanya hingga akhir hayat," ucap Dr Chester Whitley, seorang ahli genetik Univeritas Minnesota.

Madeux sendiri sudah pernah melalui 26 operasi hingga sekarang – untuk memperbaiki semua hal mulai dari hernia sampai terjepitnya columna spinalis akibat tulang yang bertindihan.

"Kelihatannya saya terus menjalani operasi setiap tahun dan mungkin akan terus berlangsung seumur hidup saya" dan banyak prosedur lain yang harus dilakukan di tengah operasi tersebut, tambahnya. Tahun lalu, ia hampir kehilangan nyawa akibat serangan bronkitis dan pneumonia. "Tenggorokkan saya penuh dengan dahak – tetapi tidak dapat dikeluarkan," ungkapnya.

Baru-baru ini, gejalanya mereda dengan pemberian enzim intravena setiap minggu – yang memakan biaya berkisar antara USD 100,000 sampai USD 400,000 setiap tahun. Tetapi injeksi enzim tersebut tidak mengurangi kerusakan maupun menghentikan proses kerusakan otak.

Seluk-beluk yang rumit

Madeux termasuk salah satu yang beruntung. Dia adalah pasien pertama yang menerima pengobatan eksperimental Sangamo dengan terapi gen. Intervensi ini dilakukan dengan menyuntikkan virus mengandung instruksi DNA untuk dua cabang zinc protein – yang bekerja seperti gunting molekuler – untuk menemukan kelainan DNA, dengan memotong dan memasukkan gen yang hilang. Virus kemudian diubah, sehingga tidak menimbulkan infeksi dan masuk ke sistem hepatik. Jutaan kopi virus dimasukkan melalui intravena. Sel memproduksi percabangan zinc yang memotong DNA dan gen baru diselipkan pada lokasi yang tepat sehingga siap untuk memprduksi gen yang hilang.

"Hanya membutuhkan 1% sel hepatik untuk menyembuhkan penyakit ini," jelas Dr Paul Harmatz, dokter Madeux sekaligus ketua penelitian ini. Meskipun demikian, tidak ada jaminan pengobatan ini dapat berhasil atau tidak menimbulkan efek samping.

Dibutuhkan waktu satu bulan untuk memantau tanda-tanda keberhasilan terapi dan tiga bulan penuh untuk menilai manfaatnya. Jika bermanfaat – inilah terapi gen pertama dari dalam tubuh manusia yang berhasil.

“Merupakan suatu kebanggaan menjadi yang pertama dalam mencoba hal ini,” ungkap Madeux. "Saya rela mengambil risiko tersebut. Semoga hal ini dapat membantu diri saya sendiri dan orang lain."

First of the first: Brian Madeux, 44, seen here with his girlfriend Marcie Humphrey, waiting to receive the first human gene editing therapy. Photo credit: Eric Risberg/AP/The Guardian
First of the first: Brian Madeux, 44, seen here with his girlfriend Marcie Humphrey, waiting to receive the first human gene editing therapy. Photo credit: Eric Risberg/AP/The Guardian


Berhati-hati dalam mengambil keputusan

“Seberapa tangguh teknologi ini? Kami baru mempelajarinya,” ucap Dr Carl June, seorang peneliti dari Universitas Pennsylvania, yang mengerjakan terapi gen ini. 

Terapi ini telah diuji coba berulang kali untuk memastikan keamanannya dan memberikan hasil positif. Contohnya, virus ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga tidak dapat memasuki sel telur maupun sperma dan, oleh sebab itu, berpotensi untuk dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Sebagai tambahan, inti-inti sel percabangan zinc menurunkan risiko gen masuk ke lokasi yang salah. Namun, tidak ada tombol untuk ‘memutar kembali’ atau ‘menghapus’-nya. Tetapi para ahli masih beranggapan hal ini adalah eksperimen yang berharga.

“Anda benar-benar bermain dengan hukum alam” dan risikonya belum diketahui pasti; tetapi studi ini harus berjalan karena penyakit ini sampai sekarang tidak dapat disembuhkan, ucap salah satu ahli independen, Dr Eric Topol dari Scripps Translational Science Institute di San Diego.

Dokter Howard Kaufman, seorang ilmuan asal Boston di National Institutes of Health (NIH), yang terlibat dalam persetujuan penelitian, menyerukan hal serupa – bahwa penyuntingan gen merupakan sesuatu yang cukup menjanjikan dan sayang untuk dilewatkan.

“Sejauh ini, tidak ditemukan bukti bahwa terapi ini berbahaya,” dalihnya.

Model terapi masa depan?

Hampir semua peneliti setuju dengan hal ini.

Akhir Juni lalu, NIH menyetujui penggunaan teknologi CRISPR sebagai terapi penyakit kanker, dan Universitas Pennsylvania telah memulai uji coba ini.

Jennifer Doudna, salah satu peneliti yang terlibat dalam penemuan CRISPR, berharap agar kedepannya banyak penyakit genetik dapat ditangani sedini mungkin. Terutama anemia sel sabit, dan fibrostik kistik, Doudna yakin ada banyak potensi yang tersimpan mengingat sudah banyak kecacatan yang berhasil diatasi di meja percobaan laboratorium. Oleh sebab itu, ini hanyalah perihal bagaimana menjembataninya sehingga penerapannya aman secara klinis.

"Saat saya berpikir apa yang membuat saya takut adalah sedikitnya pemahaman kita mengenai fungsi gen, terutama interaksi antar gen dalam genom kita," ucap Doudna.

Mungkin, dalam tiga bulan, eksperimen pada Madeux akan menunjukkan titik terang. MIMS

Bacaan lain:
Terobosan medis: Dua alat edit genetik baru
Sosok dibalik teknik CRISPR/Cas9 yang mendunia
Penelitian baru mengidentifikasi protein penting pada perkembangan embrio manusia

Sumber:
https://qz.com/1129889/how-does-gene-editing-inside-the-human-body-work/
https://www.statnews.com/2017/11/15/gene-editing-hunter-syndrome/ 
https://www.theverge.com/a/verge-2021/jennifer-doudna-crispr-gene-editing-healthcare 
http://time.com/5025029/science-gene-editing-dna/
https://www.sciencealert.com/scientists-edit-man-s-genes-directly-inside-body-bold-experimental-first-hunter-syndrome