Selama beberapa waktu, komunitas tunarungu  menghadapi banyak masalah signifikan ketika mengakses pelayanan kesehatan disebabkan kurangnya pekerja medis profesional yang mengetahui bahasa isyarat. Karena komunikasi merupakan kunci untuk bisa memahami pasien, maka dokter dan perawat seharusnya belajar bahasa isyarat. Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan efektivitas komunikasi dengan pasien gangguan pendengaran untuk lebih memahami kebutuhan dan keinginan mereka.

1. Memberikan terapi yang cukup dan sama

Dua masalah muncul saat berkomunikasi dengan pasien gangguan pendengaran tanpa menggunakan bahasa isyarat - bisakah tenaga kesehatan memahami pasien tunarungu dan bisakah mereka mengumpulkan informasi secara akurat?

Sebuah insiden terjadi baru-baru ini pada seorang pria tunarungu yang tidak menggunakan jasa penerjemah dan mendapat terapi yang tidak sama dengan terapi seharusnya.

Karena ada keluhan penyalahgunaan obat di rumah, pria dengan gangguan pendengaran, Liu, dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan mental. Karena ia bisa berkomunikasi dengan baik melalui tulisan, rumah sakit tidak menggunakan jasa penerjemah bahasa isyarat untuk berbicara dengannya.

Hasilnya, ia dikirim ke rumah sakit mental dengan persetujuan keluarganya. Liu diizinkan pulang enam hari kemudian, setelah saudara perempuannya menjamin bahwa ia tidak menderita gangguan mental.

Kejadian ini menggambarkan perlunya menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan pasien gangguan pendengaran untuk memberikan terapi yang cukup dan sama. Di saat itu, jika dokter bisa memahami bahasa isyarat, mereka juga bisa mendiagnosis Liu secara akurat.

Liu tidak akan bergantung pada keluarganya untuk mengambil keputusan atau harus dirawat di rumah sakit mental selama periode waktu itu, yang tentu saja membuatnya kehilangan pekerjaan. Hal ini membuat Liu tidak mendapat keadilan dan dihargai sebagai manusia.

2. Memastikan informasi disampaikan secara akurat

Tenaga kesehatan hanya bisa memberikan diagnosis dan terapi akurat saat mereka memahami betul pasien mereka. Hal ini bisa dicapai saat mereka mempelajari bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan pasien gangguan pendengaran.

Salah satu kejadiannya ditunjukkan dalam Miami Medical Season One. Dalam film pendek tiga menit, ditunjukkan ada seorang pasien tunarungu yang mendapat terapi medis di ruang gawat darurat.

Karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, pasien menjadi sangat gelisah. Tim medis kesulitan untuk menenangkannya hingga dokter menyadari bahwa ia merupakan pasien tunarungu dan melakukan komunikasi dengan bahasa isyarat.

Dengan demikian, bahasa isyarat membantu dokter menjelaskan proses medis secara lebih akurat dan menenangkan pasien. Bahasa isyarat dalam dunia medis merupakan kunci komunikasi efektif dengan pasien tunarungu.

3. Menarik pasien gangguan pendengaran dari rasa terisolasi

Pasien tunarungu bisanya merasa sulit mengekspresikan dirinya sendiri dan menunjukkan rasa takut, ketidak percayaan dan frustasi saat menggunakan pelayanan kesehatan.

Menurut Siu Tsan - pendiri Silence, badan amal Hong Kong yang membantu orang-orang gangguan pendengaran - kaum tunarungu memiliki rasa percaya diri yang rendah dan takut orang lain akan menganggapnya lebih rendah. Hal ini ditunjukkan saat mereka memberikan tanda bahasa isyarat tanpa mengetahui apa itu sebenarnya.

Ellen Thielman, seorang pria tunarungu berusia 67 tahun, menceritakan rasa frustasi dan kesendirian yang dialaminya ketika ia masuk ke ruang gawat darurat dengan gejala stroke dua tahun lalu. Kurangnya pemahaman akan bahasa isyarat membuatnya merasa sulit menjelaskan gejala secara akurat. Meskipun ia tidak salah didiagnosis, namun ia sering merasa terisolasi dan terkadang tidak yakin akan status kesehatannya. Ada dua momen saat dimana penerjemah datang tiga atau empat jam lebih lambat saat ia berada di ruang gawat darurat.

Dalam kasus tersebut, penting bagi tenaga kesehatan untuk mengetahui bahasa isyarat karena hal ini akan memberikan rasa aman pada pasien gangguan pendengaran. Hal ini juga bisa membantu tenaga kesehatan untuk mengambil langkah akurat jika ada sesuatu yang salah selama terapi.

Kurangnya pemahaman juga bisa menurunkan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien gangguan pendengaran. Dengan demikian, mempelajari bahasa isyarat penting untuk memberikan terapi yang cukup dan akurat untuk pasien ini. MIMS

Bacaan lain:
Lebih dari 20% pasien penderita kondisi serius pernah mengalami salah diagnosis
Menekan isu rasisme dalam dunia kesehatan
Kejujuran pasien: Bagaimana cara meningkatkannya


Sumber:
http://www.scmp.com/news/hong-kong/health-environment/article/2069762/deaf-man-sent-mental-hospital-after-not-getting 
http://www.sacbee.com/news/local/health-and-medicine/article88784482.html 
http://www.scielo.br/scielo.php?pid=s0034-72992009000100023&script=sci_arttext&tlng=en 
https://www.facebook.com/rcdeafmissionsmalaysia/videos/1321510991296033/?autoplay_reason=gatekeeper&video_container_type=0&video_creator_product_type=2&app_id=2392950137&live_video_guests=0