Obat dalam formulasi cair merupakan terapi yang paling banyak diberikan ke pasien pediatrik, sehingga orang tua bisa memberikan obat dengan mudah dan apoteker bisa menyesuaikan dosis sesuai dengan berat badan anak. Di beberapa negara, tidak ada peraturan resmi mengenai penggunaan alat dosis standar ketika memberi obat cair ke pasien. Ukuran gelas dan sendok merupakan alat yang paling banyak digunakan.

Banyak orangtua salah memberi dosis obat

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mayoritas orangtua pasien tidak menyadari kesalahan dosis yang mereka berikan. Penelitian yang ditunjukkan oleh Dr. Shonna Yin, dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana alat dan label berbeda bisa memengaruhi kesalahan dosis dan juga untuk mencaritahu seberapa banyak dosis yang tidak sesuai. Peneliti mengacak dua ribu pasien ke dalam salah satu kelompok intervensi.

Hasilnya cukup mencengangkan. Tim peneliti mendapati hampir tidak satupun pasien mengukur obat, dan 84,4% dari mereka setidaknya membuat satu kesalahan dosis (didefinisikan sebagai lebih dari 20% dosis seharusnya). Selain itu, sekitar satu dari lima orangtua pasien membuat setidaknya satu kesalahan ketika mengukur dosis anaknya. Hasil ini mempertanyakan kemampuan para orangtua untuk mengatur regimen terapi anak mereka.1

Tidak memahami beda sendok teh dan sendok makan

"Ketika orangtua tidak memahami bedanya sendok teh dan sendok makan, kondisi ini bisa menyebabkan tiga kali lebih banyak atau sedikit dosis obat. Berdasarkan mililiternya, sendok teh memiliki kapasitas volume lima kali lebih rendah daripada sendok makan, maka dari itu bisa menyebabkan anak mengonsumsi obat lima kali lebih banyak atau rendah dari dosis yang seharunya," jelas Dr Yin selama wawancara dengan NIH.2

Ia juga kemudian mengatakan, "Istilah sendok teh dan makan sering juga diganti dengan sendok dapur. Namun, sendok dapur yang ada dipikiran orang lain bisa jadi memiliki ukuran dan bentuk yang bervariasi, sehingga sulit bagi orangtua untuk mengukur jumlah dosis secara akurat."2

Penelitian ini berhasil menjembatani garis pengetahuan akurasi dosis. Penelitian lain juga menunjukkan bahaya menggunakan sendok teh atau sendok makan sebagai standar ukuran. Peneliti dari Cornell University Food and Brand Lab menemukan volume cairan obat yang dituangkan secara signifikan dipengaruhi oleh ukuran sendok yang digunakan.3

Ukuran dosis standar

Meskipun telah banyak penelitian yang meneliti hal ini, namun hasilnya masih sangat bervariasi tergantung pada populasi yang digunakan. Ada kemungkinan orangtua bingung akan instruksi yang diberikan, misalnya seperti berapa mililiter, satu sendok makan penuh, dan satu sendok teh penuh. Untuk menyelesaikan masalah ini, instruksi sebaiknya dibuat dalam beberapa bahasa. Karena lebih banyak pasien yang menyukai penggunaan gelas dan sendok ukur, maka industri farmasi perlu mengadakan standarisasi alat ukur.

Untuk itu, Dr. Shonna Yun merekomendasikan agar apoteker menggunakan dosis ukuran standar, yaitu mililiter. Hasil penelitian menunjukkan ada penurunan angka kesalahan dosis jika instruksi dibuat dalam ukuran mililiter. MIMS

Bacaan lain:
Malpraktek oleh apoteker: Kekeliruan, kelalaian dan penyalahgunaan
Cara menghindari kesalahan meracik obat
Menghadapi krisis penggunaan obat
5 poin penting BPJS yang perlu diketahui oleh tenaga kesehatan

Sumber: 
1. Yin HS, Parker RM, Sanders LM, Dreyer BP, Mendelsohn AL, Bailey S, et al. Liquid Medication Errors and Dosing Tools: A Randomized Controlled Experiment. Pediatrics. 2016 Sep 12; 
2. NICHD. Spoon Measurements Contribute to Many Child Drug-Dosing Errors [Internet]. Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development. 2014 [cited 2016 Sep 23]. Available from: https://www.nichd.nih.gov/news/releases/Pages/082914-podcast-pediatric-med-dosing.aspx
3. Wansink B. Spoons Systematically Bias Dosing of Liquid Medicine. Ann Intern Med. 2010 Jan 5;152(1):66.