Dunia pengobatan merupakan dunia yang terus berkembang, baik dalam kemampuannya untuk menyembuhkan lebih banyak penyakit setiap harinya dan hubungan dokter-pasien. Ini berarti mahasiswa harus lebih banyak belajar dan mencoba melakukan perawatan yang berpusat pada pasien, dimana dokter mempertimbangkan situasi kehidupan dan sikap personal bersamaan dengan tanda dan gejala vital.

Mahasiswa kedokteran memberikan respon dengan melakukan perubahan mengenai bagaimana cara mengajarkan ilmu kedokteran, selagi memperkuat kemampuan dan pengetahuan mereka.

"Generasi selanjutnya akan mengubah praktek obat. Mereka memerlukan alat dan kemampuan untuk melakukannya," kata Sherine gabriel, dekan Fakultas Kedokteran Mayo.

Metode pengajaran berbeda yang dikembangkan oleh universitas

Fakultas Kedokteran dari Universitas Vermont telah mengarahkan inovasi ini, dengan mengeliminasi semua kuliah di tahun 2019, berfokus pada bentuk pembelajaran yang lebih interaktif. Lebih dari setengah kurikulumnya merupakan kurikulum interaktif. Misalnya, "flipped classroom", dimana mahasiswa diminta belajar melalui video, presentasi dan bacaan, sebelum kelas dimulai. Di kelas, mereka harus menyelesaikan satu masalah dalam satu kelompok dimana mereka harus menghadapi kasus kesehatan yang benar-benar ada.

"Apa yang diajar oleh profesor biasanya akan hilang hanya dalam hitungan minggu dan terkadang dalam hitungan tahun," kata Dr. William B. Jeffries, seorang dekan asosiasi senior untuk edukasi medis dari Vermont.

Mahasiswa di Fakultas Kedokteran David Geffen di Universitas California, Los Angeles, diberikan kesempatan untuk mengembangkan proyek kreatif mereka sendiri, yang kemudian digunakan untuk mengajarkan mahasiswa medis di masa depan. Mereka memilih topik mereka sendiri, rencana dan meneliti proyek mereka sendiri dan kemudian mengimplementasikannya dalam format interaktif.

Pengalaman ini bisa digunakan sebagai kesempatan untuk belajar. Di Kampus Kedokteran Penn State, mahasiswa membuat komik untuk menggambarkan interaksi mereka dengan pasien, untuk belajar empati dengan lebih baik lagi.

Paparan yang lebih cepat ke penanganan klinis

Secara tradisional, dua tahun pertama dari fakultas kedokteran dihabiskan di ruang kelas tetapi di Fakultas Farmasi Universitas Vanderbilt, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari tim pelayanan; melakukan wawancara dengan pasien di klinik dan membantu mereka memahami resep obat baru.

"Orang-orang lebih banyak belajar jika mereka memahami pengetahuan yang mereka dapati akan mereka gunakan," kata Bonnie Miller, dekan asosiasi senior untuk edukasi ilmu kesehatan di rumah sakit.

Mahasiswa tahun kedua belajar mengenai transisi dari rumah sakit ke rumah dengan membantu pasien rawat jalan dan dalam beberapa kasus juga melakukan pemeriksaan kembali melalui telepon. Dengan program ini, mahasiswa bisa mengetahui bagaimana fokus ke pasien bisa menghindari perawatan yang mahal dan memunculkan outcome kesehatan yang lebih baik. Semua pelatihan ini membuat mahasiswa bisa belajar berkomunikasi dan kemampuan kerjasama khususnya dengan profesional di berbagai spesialisasi.

Di Universitas Thomas Jefferson, mahasiswa kedokteran diminta untuk bekerja dengan mahasiswa keperawatan, farmasi dan terapi fisik, misalnya. Di Universitas Northwestern, mahasiswa diminta menjelaskan bagaimana cara membuat selai kacang dan roti isi jeli ke alien untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, di tingkat yang paling dasar.

Universitas North Texas Health Science Center percaya bahwa mengembangkan misi sosial pada mahasiswanya merupakan hal yang penting dan dengan demikian mereka mengirim mahasiswa untuk ikut bekerja sosial, ke daerah tertinggal untuk melakukan skrining dan vaksinasi.

Menjembatani ruang antara yang lama dan baru

Kunci dari semua perubahan ini adalah membuat mahasiswa menjadi pelajar seumur hidup dan profesor di Fakultas Kedokteran Harvard sedang melakukannya. Pelatihan yang dilakukan di universitas didesain untuk membantu anggota fakultas untuk lebih memahami enam tahap belajar sendiri, sebagai persiapan menjadi dokter generasi baru.

Namun, perjalanan masih panjang. Marie Kenney, seorang mahasiswa tahun kedua di Vermont, tidak menyadari perubahan kurikulum saat ia mendaftar. "Karena gaya belajar saya lebih cenderung ke pelajaran sendiri bukan pelajaran kelompok, saya menemukan bahwa kuliah akan lebih menguntungkan untuk saya," katanya.

Soraiya Thura, seorang mahasiswa tahun ketiga di universitas, mengatakan bahwa karena profesor kesulitan belajar dengan format baru, mereka terkadang merasa kesulitan, dan pengalamannya tidak mengalami kemajuan. Daripada menggerutu akan masalah ini, konsep membawa mahasiswa kedokteran dengan edukasi yang lebih melingkar, melalui metode pengajaran berbeda, merupakan hal yang penting untuk mengasah kemampuan agar bisa menjadi dokter yang lebih baik di masa depan. MIMS

Bacaan lain:
Apakah dokter tidak bisa hidup seimbang?
5 dokter yang rela pergi berkelana demi pasien
4 kebiasaan yang memberi pengaruh negatif pada pelayanan kesehatan
Bagaimana kritikan bisa meningkatkan kemungkinan melakukan kesalahan dalam dunia medis?