Gangguan mental banyak dihubungkan dengan bunuh diri. Meskipun demikian, tidak semua yang menderita gangguan mental meninggal karena bunuh diri. Penelitian yang dilakukan di Universitas Indiana dimana dilakukan pengembangan kuesioner bersamaan dengan tes darah untuk menemukan perubahan genetik pada individu yang bunuh diri menemukan bahwa 90% orang-orang yang bunuh diri pernah didiagnosis menderita depresi – hanya 2% penderita depresi yang benar-benar membunuh dirinya sendiri.

"Mereka yang serius membicarakan mengenai bunuh diri biasanya cenderung tidak akan melakukannya dan mencari pertolongan," jelas Gustavo Turecki, kepala departemen psikiatrik di Universitas McGrill di Montreal, Kanada.

Kondisi ini menunjukkan adanya faktor risiko yang mungkin berhubungan dengan gen mereka. Penelitian baru dan hasil kolaborasi antara Universitas Utah Health dan industri farmasi, Janssen Research & Development mencari bantuan untuk mengidentifikasi faktor genetik pada individu berisiko tinggi dan membentuk strategi baru untuk mencegah lebih banyaknya kejadian bunuh diri.

Mempelajari biomarker untuk merencakan strategi pencegahan bunuh diri

Kerjasama ini memperdalam penelitian hubungan genetika dengan bunuh diri dengan pengobatan yang baru dikembangkan yang bisa mencegah pasien melakukan bunuh diri. Database DNA ekstensif milik Utah Suicide Genetics Project akan digunakan, dan mempelajari lebih dari 3.500 kasus bunuh diri di dunia dengan nama yang sudah dilucuti dan faktor identifikasi lainnya untuk melindungi kerahasiaan korban dan kerabat yang masih hidup. Utah juga menyempurnakan peraturan yang merupakan salah satu dari kontributor di Amerika untuk kasus bunuh diri – lebih dari 22 pada 100.000 orang, dengan bunuh diri menjadi penyebab utama kematian pada anak remaja berusia 10 dan 17 tahun.

Beberapa kemajuan juga ditemukan dalam mengidentifikasi biomarker yang berhubungan dengan bunuh diri. Meskipun demikian, pekerjaan yang melelahkan ini berada dalam tahap identifikasi yang bisa diterapkan secara klinis dan merencanakan pola terapi dan pengobatan yang akan diberikan kepada pasien. Selain itu, peneliti juga mencoba memahami faktor lingungan yang berperan dalam memengaruhi gen tersebut, seperti bagaimana pengalaman seseorang mengenai trauma anak-anak mungkin meningkatkan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Hal ini mungkin cukup menantang untuk dilakukan, mengingat banyak sekali faktor eksternal yang memengaruhinya.

Tantangan lain meliputi mengembangkan terapi pencegahan dalam ranah psikiatrik untuk menangani informasi genetik yang menyarankan ke kemungkinan bunuh diri, selain dari gejala pasien.

"Menganalisis faktor genetik lain dan potensi jalur terapi mungkin bisa digunakan untuk menunjukkan efikasi obat yang ada atau intervensi tingkah laku. Langkah ini juga bisa digunakan untuk menurunkan proses trial-and-error dokter dan pasien untuk menyesuaikan dengan obat yang paling efektif," catat Hilary Coon, profesor penelitian psikiatrik di Universitas Utah, dan kepala peneliti dalam proyek ini.

Statistics of those who contacted Befrienders Kuala Lumpur with suicidal thoughts in 2015 – 2016. Photo credit: Befrienders/NST
Statistics of those who contacted Befrienders Kuala Lumpur with suicidal thoughts in 2015 – 2016. Photo credit: Befrienders/NST


Meminta pertolongan di lingkungan sendiri

Di Malaysia dan Singapura, angka bunuh diri juga semakin meningkat. Berdasarkan laporan yang ditulis oleh Befrienders Kuala Lumpur, 20 dari 68 orang yang mencari bantuan medis setiap hari memiliki pola pikir mengenai bunuh diri. Jumlah orang-orang yang mencari bantuan juga berhasil ditingkatkan sebesar 16% dari tahun 2015 hingga 2016. Seperti kondisi di Utah, direktur publik organisasi non-pemerintahan, Ardy Ayadali menyebutka bahwa bunuh diri sering terjadi pada anak muda, berusia antara 15 dan 29 tahun.

Pencetus bunuh diri meliputi depresi, rusaknya hubungan, media sosial dan cyberbullying. Untuk itu, kata Ardy, "terkadang orang-orang yang membagikan mengenai tujuan bunuh diri mereka secara online mendapat komentar negatif dan dituduh sebagai pencari perhatian. Beberapa orang lain bahkan menantang mereka untuk benar-benar melakukannya."

Masalah lain adalah ketidakmampuan para anak muda ini untuik berkomunikasi tatap mata. Profesor Datuk Dr Chiam Heng Keng, tokoh terkemuka pada psikologi anak dan remaja dan edukasi awal anak-anak menyebutkan bahwa "mereka kemungkinan tidak bisa mengadakan komunikasi dengan orangtua, guru atau temannya mengenai stres dan rasa takut yang mereka rasakan, dan sangat tertekan sehingga mereka mencari jawaban melalui internet." Kemudian, teman virtual mungkin akan menganggapnya bercanda pada masalah mereka karena tidak memahami situasi yang sebenarnya terjadi.

Chiam meminta orangtua untuk merangkul anak-anaknya dan pengajar anak-anak usia pre-sekolah agar lebih sensitif dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah yang menyakitkan bagi anak-anak. MIMS

Bacaan lain:
Bunuh diri di hari Natal: Mitos atau fakta?
Tragedi kesehatan karena hidup sendirian – dan efeknya di dunia
Dokter: 5 tips menggunakan media sosial

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/09/11/suicide-genetics-utah-janssen/
https://medicalxpress.com/news/2017-09-genetics-suicide.html 
https://www.newscientist.com/article/mg22730354-000-suicidal-behaviour-predicted-by-blood-test-showing-gene-changes/
https://www.nst.com.my/news/exclusive/2017/05/243354/suicide-rise-among-malaysian-youth