Donor darah sudah banyak menyelamatkan orang-orang di seluruh dunia. Dengan demikian, tidak mengejutkan lagi ada banyak orang yang sudah menyadari pentingnya donor darah sebagai cara terbaik untuk membantu orang. Sudah banyak usaha dilakukan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran publik untuk donasi darah.

Meskipun demikian, ada beberapa masalah yang muncul mengenai donasi darah yang perlu digaris bawahi berdasarkan perkembangan dan penelitian terbaru.

Darah segar tidak selalu lebih baik

Dalam sebuah penelitian pada 5.000 pasien yang sakit di lima negara, ditunjukkan bahwa darah yang sudah disimpan lama memiliki kualitas yang sama dengan darah yang baru disimpan. Penemuan ini menjawab pertanyaan publik yang menyatakan bahwa darah segar merupakan yang paling baik untuk transfusi darah.

Menurut Profesor Jamie Cooper, Direktur Pusat Penelitian Perawatan Intensif di Australia dan New Zealand, penelitian sebelumnya yang mengindikasikan darah lama berhubungan dengan outcome buruk pada pasien, tidak ditemukan dalam uji acak terkendali besar.

"Hasil penelitian kami membuktikan bahwa durasi penyimpanan sel darah merah untuk transfusi merupakan waktu yang aman dan optimal," ungkap Profesor Cooper.

Dalam penelitian baru TRANSFUSE, peneliti membandingkan outcome keselamatan dan reaksi antara pasien yang menerima darah paling segar dan paling lama. Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada 90 hari keselamatan pasien di antara dua kelompok pasien.

Selain itu, lebih sedikit reaksi transfusi – seperti demam – ditemukan pada transfusi darah yang sudah lama disimpan.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa praktek ini [meminta darah baru untuk pasien tertentu] tidak dibutuhkan dan berpotensi kontra-produktif," jelas Professor Cooper.

Meningkatkan frekuensi donasi untuk memenuhi permintaan darah

Dilaporkan bahwa permintaan darah terus meningkat. Peningkatan ini terjadi disebabkan semakin tingginya populasi penduduk lanjut usia, diikuti dengan penurunan jumlah pendonor. Pedoman kesehatan juga menyatakan bahwa pria hanya boleh mendonorkan darah setiap 12 minggu, dan wanita setiap 16 minggu. Hal ini mungkin disebabkan pada anggapan bahwa donasi darah yang sering bisa memengaruhi kesehatan.

Meskipun demikian, sudah ditunjukkan bahwa seringnya donasi darah bukan hanya memberikan pengaruh negatif pada kesehatan pendonor, menurut penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Universitas Cambridge dan Oxford di NHS Blood and Transplant.

Penelitian ini sudah dilakukan dalam periode waktu dua tahun, melibatkan 45.000 individu. Donor darah secara acak dibagikan kepada tiga kelompok berbeda berdasarkan pada frekuensi donasi: pada interval 8-, 10-, dan 12-minggu pada pria, dan kelompok yang mendonasikan darah pada interval 12-, 14- dan 16-minggu pada wanita.

Hasil menunjukkan bahwa lebih banyak darah bisa dikumpulkan jika interval pengambilan darah dijadikan lebih pendek, khususnya pada individu dengan berat badan di atas rata-rata dan mereka yang memiliki konsentrasi hemoglobin lebih tinggi.

Selain gejala minor seperti rasa lelah dan kelemahan kaki, tidak ada pengaruh utama pada kualitas hidup, fungsi mental atau aktivitas fisik donor yang bisa kita pelajari pada mereka yang mendonorkan darah pada interval waktu lebih pendek.

Mengatasi masalah dengan bantuan teknologi

Kurangnya suplai darah bisa memicu kemunculan masalah serius lain – pasar gelap untuk donasi darah. Hal ini memicu penyebaran penyakit infeksius seperti HIV dan Hepatitis C disebabkan kurangnya jumlah alat begitu juga dengan tidak efektifnya metode pemeriksaan untuk mengatasi masalah demikian. Hal ini sudah banyak terjadi di India, sehingga membuat banyak orang tidak mau mendonasikan darahnya.

Situasi ini membuat Kiran Verma, mengembangkan aplikasi telepon genggam bernama "Simply Blood" untuk membantu menghubungkan sukarelawan dengan penerima yang cocok. Aplikasi, yang dikatakan merupakan platform donasi darah pertama di dunia, memberikan informasi lokasi terdekat bagi pendonor untuk mendonasikan darah mereka.

Mungkin ini merupakan permulaan langkah di masa depan untuk mengatasi masalah kurangnya jumlah pasokan darah dan meningkatkan keamanan penerima darah. Lahirnya aplikasi telepon genggam ini seperti "Simply Blood" mengirimkan pesan penting – bahwa di dunia sekarang ini, teknologi mungkin menjadi kunci untuk menarik lebih banyak calon pendonor, memudahkan proses donasi darah dan menjadi bagian penting untuk mengatasi langkanya suplai darah di dunia. MIMS

Bacaan lain:
'Rasa takut' yang dirasakan calon pendonor darah
Kematian tragis seorang anak memicu pentingnya kesadaran donasi organ di Italia
Berkontribusi ke dunia kesehatan dengan mendonasikan catatan riwayat medis pasien

Sumber:
http://www.heraldsun.com.au/news/victoria/old-blood-can-save-lives-like-fresh-blood-supply-new-study/news-story/9627159e9215c466d1b11dabb1be2875
http://gearsofbiz.com/donors-could-give-blood-more-frequently-than-current-intervals-study-shows/88649
https://www.thebetterindia.com/116661/blood-donation-app-donor-recipient/