Litium sudah terkenal efektif untuk terapi gangguan bipolar, namun banyak orang menolak menggunakannya karena efek samping dan mitos yang menyelimutinya, atau bahkan tidak memberikan efek pada beberapa pasien.

Dalam penelitian di AS, peneliti berhasil menemukan mekanisme molekular di balik efektivitas litium dalam terapi gangguan bipolar. Jika penelitian berhasil diverifikasi, peneliti berharap bisa menemukan obat baru yang lebih aman dan efektif da 

"Satu-satunya cara Anda bisa menemukan terapi yang baru adalah dengan memahami bagaimana obat sebelumnya bekerja," kata pemimpin penelitian Evan Snyder dari Institut Penemu Medis Sanford Burnham Prebys di San Diego, California.

Masalah besar bagi para pengidap bipolar

Sebagaimana yang dijelaskan peneliti, salah satu masalah terbesar dalam membentuk obat yang lebih aman dan efektif adalah tidak mengetahui terapi ini sudah ada sekarang.

Di AS, gangguan bipolar menyerang sekitar 5,7 juta orang dewasa, dan juga merupakan penyebab keenam disabilitas di dunia. Gejala gangguan ini adalah perubahan suasana hati yang sangat ekstrem antara emosi tinggi (mania) dan sangat tertekan (depresi) yang bisa jadi menyerang semua orang.

Sekarang, terapi yang ada dikatakan primitif dan tidak bisa dipercaya, alasannya adalah karena litium hanya memberikan efek pada sepertiga pasien. Dan saat ia memberi efek, litium memberikan berbagai efek samping, seperti mual, tremor otot, kebal emosi, peningkatan berat badan dan defek kelahiran.

Sebuah kasus terjadi pada Linda Logan, seorang ibu dengan tiga anak, yang merefleksikan kesulitan memberikan terapi pada pengidap gangguan bipolar. Ia merupakan mahasiswa PhD di bidang Geografi dan merupakan seorang ibu yang memainkan peran sebagai mahasiswa dan keluarga, sehingga menyebabkan ia mengalami gangguan bipolar di usia 27 tahun. Selama terapi dan pengobatan, ia secara teratur memeriksakan diri dan mencari jati dirinya meskipun dokter psikiatrik terkadang tidak mengetahuinya.

The author in 1980, pregnant with her first child. Photo credit: New York Times.
The author in 1980, pregnant with her first child. Photo credit: New York Times.


Setelah 20 tahun melawan bipolar, Logan sekarang merasa lebih sehat dan memiliki kebal pikiran di usia 60 tahun. Ia juga menjadi penulis kreatif setelah menemukan jati dirinya sendiri. Dengan demikian, menemukan kemungkinan baru terapi gangguan bipolar secara lebih efektif berarti kabar gembira untuk pasien.

Bagaimana litium bekerja

Snyder menjelaskan, "Litium sudah banyak digunakan untuk terapi bipolar, tetapi hingga sekarang, kita belum mengetahui mengapa terapi ini bekerja dan mengapa tidak bekerja pada beberapa pasien sehingga menyebabkan peningkatan dosis yang tidak dibutuhkan dan tertundanya penemuan terapi efektif. Selain itu, efek sampingnya tidak bisa ditoleransi pada banyak pasien, dan membatasi penggunaannya dan menciptakan kebutuhan darurat untuk ditemukannya obat tertarget baru dengan risiko minimal."

"Yang lebih penting, hasil percobaan kami membuka jendela akan obat baru yang lebih aman dan efektif. Sama pentingnya, dengan memberikan informasi mengenai mekanisme jenis apa yang menyebabkan masalah psikiatrik seperti yang satu ini," tambahnya.

Untuk menemukan bagaimana litium menyerang otak, peneliti memetakan jalur responnya menggunakan sel punca pluripoten terinduksi manusia (hIPS), sel biasa yang diambil dari pasien bipolar yang memberikan respon dan tidak memberikan respon terhadap litium, dan yang diprogram ulang untuk berperan sebagai sel punca.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa protein yang disebut CRMP2, yang bertugas untuk komunikasi sel saraf, tidak aktif pada sel pasien bipolar. Selain itu, protein ini dikembalikan saat litium dimasukkan ke dalam sel hiPS pasien responsif-litium, dan aktivitas CRMP2 kembali normal.

Indikator positif terapi efektif gangguan bipolar

Hasil ini menggarisbawahi bahwa mekanisme di balik gangguan bipolar tidak selalu karena genetik sebagaimana yang diasumsikan banyak peneliti sebelumnya. Namun, mengenai bagaimana protein CRMP2 diregulasikan dalam sel. Peneliti juga menemukan mekanisme sama yang ditunjukkan dalam model hewan dan kultur neuron hidup.

"Kami menyadari bahwa mempelajari respon litium bisa digunakan sebagai "pembuka" jalur meolekular gangguan kompleks ini," kata Snyder. "Pendekatan 'molekular' - menggunakan obat yang diketahui memiliki aksi berguna tanpa mengetahui alasannya - membuat kami bisa meneliti dan memahami patogenesis di balik gangguan bipolar."

Hasil positif penelitian memotivasi peneliti untuk mulai memeriksa obat yang ada untuk menemukan molekul yang menargetkan jalur yang sama, namun dengan lebih sedikit efek samping atau lebih berhasil dari litium. Snyder mencatat bahwa tim berharap bisa melakukan penelitian klinis dalam waktu satu atau dua tahun ke depan saat kandidat obat berhasil diidentifikasi. MIMS

Bacaan lain:
Penelitian klinis: Standar emas atau tidak berguna?
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?
Vaksin zika, untuk pertama kalinya berhasil memasuki penelitian klinis fase 2


Sumber:
http://www.sciencealert.com/finally-scientists-think-they-know-how-lithium-treats-bipolar-disorder
http://www.nytimes.com/2013/04/28/magazine/the-problem-with-how-we-treat-bipolar-disorder.html?_r=1&pagewanted=all&
http://www.mdedge.com/currentpsychiatry/article/82687/bipolar-disorder/lithium-bipolar-disorder-re-emerging-treatment-mood
http://www.bipolar-lives.com/lithium-medication.html
http://www.webmd.com/bipolar-disorder/guide/bipolar-disorder-lithium#1