Déjà vu, Bahasa Perancis dari 'sudah terlihat' merupakan salah satu sensasi pemahaman di otak yang paling sulit dipahami. Hal ini terjadi karena sulitnya menebak kapan déjà vu muncul. Meminta pasien berbaring di bawah scan MRI selama satu minggu belum tentu bisa memberikan hasil yang memuaskan. Meskipun demikian, fenomena ini sangat banyak dialami, dengan dua per tiga populasi pernah mengalaminya. Sensasi ini memukul keras korban dari sudut pandang logika, selagi kita berusaha membedakan realita dengan tipuan otak.

Apa itu déjà vu?

Meskipun banyak hal yang belum diketahui mengenai déjà vu, namun peneliti berhasil menemukan beberapa fakta mengenai déjà vu. Fenomena ini terjadi dengan kuantitas yang sama baik pada pria dan wanita, déjà vu cenderung lebih banyak dialami oleh populasi yang berusia lebih muda. Data ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti Inggris di tahun 2012, yang menyimpulkan bahwa déjà vu muncul karena otak berusaha mengecek dirinya sendiri. Saat memori menurun seiring berjalannya waktu, begitu juga dengan sistem pemeriksaan umum. Kemudian, déjà vu semakin jarang terjadi, karena kemungkinan mengenal kesalahan menjadi semakin kecil.

Selain itu, déjà vu cenderung dialami oleh orang-orang dari kelas sosial lebih tinggi dan dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi. Orang-orang yang sering bepergian lebih sering mengalami déjà vu dibandingkan orang-orang yang lebih jarang bepergian. Penelitian di tahun 1968 menunjukkan bahwa 44% orang yang mengalami déjà vu merupakan orang yang sering bepergian, dibandingkan hanya 11% orang yang mengalami déjà vu yang tidak suka bepergian. Selain itu, berada di kondisi stres dan kelelahan cenderung akan memicu kemunculan déjà vu, terutama saat berada di bawah pengaruh obat.

Déjà vu, kondisi non-medis

Hingga dibuktikan sebaliknya, déjà vu masih dianggap sebagai kondisi non-medis. Meskipun demikian, ada juga yang menghubungkan déjà vu dengan epilepsi lobus temporal (TLE), dimana lobus temporal otak bekerja. Korteks entorhinal, berlokasi di lobus temporal, bertanggung jawab untuk memori spasial dan memori konsolidasi. Pasien TLE terkadang mungkin mengalami aura disebabkan kejang. Aura merupakan bagian dari tremor ringan, yang berlangsung selama beberapa menit di luar kejang aktual.

Aura inilah yang dihubungkan dengan perasaan seperti déjà vu. Seorang dokter neurologi Inggris, John Hughlings Jackson, penemu aura di tahun 1898, mencatat bahwa aura epilepsi berhubungan dengan halusinasi seperti ingatan yang jelas dan kondisi seperti kembali ke masa lalu dan ke depan – déjà vu. Ada juga yang mengatakan bahwa déjà vu merupakan kejang kecil.

Meskipun demikian, tidak ada yang bisa membuktikan hal ini. Orang-orang yang mengalami déjà vu tidak mengalami kecenderungan sama sekali untuk mengalami kejang, begitu juga dengan penderita TLE tidak cenderung mengalami déjà vu sebagai bagian dari aura mereka.

Mengenai Déjà vu lagi

Sebelumnya, penelitian di tahun 2012 sudah menarik satu kesimpulan dengan memicu sensasi déjà vu. Peneliti menggunakan teknik pemicu ingatan palsu, dimana satu kata spesifik tidak dikatakan tetapi beberapa kata berhubungan digunakan untuk memberikan sugesti bahwa kata spesifik tersebut sudah disebutkan sebelumnya. Dengan demikian, memicu perasaan déjà vu palsu. Yang mengagetkan, bagian otak yang berhubungan dengan ingatan tidak ikut berperan di dalamnya. Malah, lobus frontal yang merupakan lokasi pengambilan keputusanlah yang mengalami aktivasi. Hal ini menunjukkan bahwa déjà vu merupakan tanda bahwa sistem pemeriksa ingatan bekerja dengan baik.

Ada banyak teori yang menjelaskan mengapa déjà vu terjadi, namun tidak satupun yang memberikan alasan pasti, terutama karena kurangnya jumlah data. Secara umum, teori ini sangat beragam mulai dari terlambatnya transmisi neuron hingga kesadaran ganda. Semua teori ini tidak sempurna dan akan terus berubah. Meskipun demikian, teori ini bisa digunakan sebagai dasar untuk menjawab misteri biologis. MIMS

Bacaan lain:
Ternyata otak masih bekerja meskipun tubuh sudah tak bernyawa
BPAN, gangguan genetik yang muncul pada 'satu dari satu juta' orang di dunia
4 kasus ekstrem sindrom Munchausen

Sumber:
http://www.medicalnewstoday.com/articles/317895.php
https://www.newscientist.com/article/2101089-mystery-of-deja-vu-explained-its-how-we-check-our-memories/
http://www.independent.co.uk/news/long_reads/d-j-vu-extreme-memory-brain-health-biology-personal-experience-a7769741.html
https://medicalxpress.com/news/2012-05-scientists-uncover-deja-vu-mystery.html
https://www.psychologytoday.com/blog/brain-babble/201208/the-neuroscience-d-j-vu