Sel B dalam darah manusia hanya terbentuk saat periode fetus dan akan menetap selama manusia hidup. Namun, jika sel punca darah pada embrio mampu membentuk ulang sel B, mengapa tidak demikian halnya pada orang dewasa? Pertanyaan ini membuat para peneliti berusaha mencari penyebabnya dalam puluhan tahun belakangan. Sekarang, satu kelompok penelitian di Universitas Lund berhasil selangkah lebih dekat dengan alasannya. 

Semua sel darah putih berasal dari sel punca dalam darah. Sel darah putih berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri, virus, dan benda asing lainnya. Terdapat dua mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh sel darah putih: pertahanan bawaan (non-spesifik) dan pertahanan adaptif (spesifik). 

Dalam penelitian ini, para peneliti menempatkan fokus utama pada hilangnya kemampuan sel punca untuk regenerasi salah satu jenis sel darah putih yaitu sel B, atau disebut juga limfosit B. Sel B dapat ditemukan dalam kelenjar getah bening dan limpa. Permukaan sel B mengandung antibodi yang berbeda satu sama lain dan berfungsi untuk mengenali dan membuang zat asing, melawan infeksi, mengenali substansi karsinogenik dan menyingkirkannya. 

Melacak sel punca dalam darah 

Para peneliti di Universitas Lund di Swedia berhasil menemukan cara untuk memantau populasi besar dari sel darah, setiap jenis sel darah, dan perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu – yaitu dengan memberi 'barcode' pada setiap sel punca. Mereka menemukan bahwa sel punca akan melalui beberapa tahap dimana kemampuan restorasinya akan bervariasi pada setiap tahap.

"Kami dapat melacak kinerja mereka selama periode waktu yang panjang dan melihat sel darah dan sistem imun yang dapat diinduksi. Tanpa barcode, kami hanya dapat melihat sekumpulan sel darah merah dan putih tanpa mengetahui hubungan mereka. Dengan adanya barcode, kami dapat melacak sel punca yang telah meningkatkan produksi sel tertentu sehingga dapat membedakan jenis sel darah yang diinginkan," tutur Joan Yuan, ketua kelompok penelitian tersebut. 

Penemuan baru ini memberi informasi penting untuk penelitian dan pengobatan leukemia serta penyakit autoimun.

Sel punca yang sama pada orang dewasa kini bisa membentuk sel B

Trine Kristiansen, seorang mahasiswa doktoral dan penulis utama dari penelitian ini, menguraikan bahwa sel punca pada orang dewasa merupakan sel punca yang sama pada fetus, namun tidak dapat membentuk sel B. Meskipun demikian, tim peneliti ini berhasil mengembalikan kemampuan produksi sel B dengan menambahkan protein yang hanya bisa ditemukan pada sel punca fetus. 

Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan sel punca untuk memproduksi berbagai jenis sel imun berubah seiring bertambahnya usia. Berdasarkan penemuan ini, peneliti mampu memutar balik waktu dengan bantuan protein untuk mengubah keadaan sel punca menjadi seperti saat periode fetus untuk regenerasi sistem imun. Studi ini dilakukan pada tikus, namun masih relevan untuk manusia. 

Harapan untuk para penderita leukemia

"Informasi ini sangat penting untuk ranah leukemia, dimana salah satu metode pengobatan ini melibatkan transplantasi sumsum tulang. Dalam proses pengobatan, sistem darah pasien diganti dengan sistem darah donor, dimana hal ini dapat menyebabkan hilangnya sel B yang hanya diproduksi fetus," ujar Kristiansen. 

Tanpa adanya sel B yang memproduksi antibodi, sistem imun menjadi tidak lengkap dan tubuh menjadi rentan terhadap kelainan sistem imun yang dapat menyebabkan infeksi berat dan penyakit autoimun. Penyebabnya adalah karena sel B mampu memproduksi antibodi khusus untuk membuang sel yang telah mati dari tubuh. 

Leukemia saat ini menduduki peringkat sepuluh dalam daftar kanker paling mematikan untuk pria di Singapura, dengan 379 kematian antara tahun 2010 dan 2014, menyumbang 2,7% kematian yang disebabkan oleh kanker. Angka serupa juga didapat untuk wanita, yaitu 2,5%. 

Namun kasus ini berbeda untuk anak-anak menurut Allen Yeoh, direktur pelayanan medis di Viva-University Children's Cancer Centre, National University Hospital Singapore. Beliau menjelaskan, "Anak-anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk lebih kecil; spektrum kanker anak-anak dan pengobatannya sangat luas. Misalnya, leukemia limpoblastik akut (LLA) menyumbang 30% dari semua kasus diagnosis baru kanker anak-anak di Singapura." 

Terlebih lagi, Professor Yeoh mengungkapkan bahwa kombinasi acute lymphoblastic dan myeloid leukaemia mencapai angka 40% dari kasus diagnosis baru kanker-anak-anak setiap tahun. Walaupun tingkat kesembuhannya lebih dari 80%, angka kekambuhan leukemia anak-anak masih menduduki peringkat empat dari daftar jenis kanker paling umum.

Elin Jaensson Gyllenbäck, seorang peneliti dari studi tersebut menyimpulkan, "Jutaan sel darah mati setiap harinya. Mereka dapat memancarkan DNA dan debris yang dapat menyebabkan inflamasi jika tidak ditangani oleh sel darah putih. Penemuan ini merupakan langkah penting menuju pemahaman terhadap proses pembentukan sistem imun yang utuh bagi mereka yang menderita penyakit darah." MIMS

Bacaan lain:
Obat leukemia limpoblastik kronik baru diketahui bisa ‘mencairkan kanker’
Kanker darah: Terobosan terapi terbaru
Hasil penelitian kanker terbaru: Langkah untuk meninggalkan metode yang telah usang

Sumber:
http://www.eurekalert.org/pub_releases/2016-08/lu-bst082416.php
http://www.nccs.com.sg/patientcare/whatiscancer/cancerStatistics/Pages/Home.aspx
https://www.nrdo.gov.sg/docs/librariesprovider3/default-document-library/cancer-trends-2010-2014_interim-annual-report_final-(public).pdf?sfvrsn=0
http://www.asiabiotech.com/publication/apbn/13/english/preserved-docs/1304/0037_0040.pdf