Aborsi tidak aman – oleh tenaga kesehatan tidak terlatih atau prosedur yang tidak sesuai standar – sudah banyak dilakukan di dunia, khususnya di negara berkembang, menurut laporan terbaru yang dipublikasikan oleh World Health Organisation (WHO) dan Guttmacher Institute.

"Selalu ada kesempatan untuk mempromosikan metode aborsi yang lebih aman," ungkap Dr Bela Ganatra, seorang peneliti di departemen kesehatan reproduksi dan penelitidn di WHO dan salah satu penulis laporan.

It was estimated that out of the 56 million abortions that take place every year, globally, approximately 25 million are unsafe. Source: WHO/Guttmacher Institute
It was estimated that out of the 56 million abortions that take place every year, globally, approximately 25 million are unsafe. Source: WHO/Guttmacher Institute


Sekitar 45% dari 55,7 juta kasus aborsi di seluruh dunia antara 2010 dan 2014 dilakukan dengan tidak aman, sehingga para wanita ini berisiko mengalami komplikasi parah – yang bisa jadi fatal.

Penelitian, yang dipublikasikan dalam The Lancet pada 27 September, dilakukan dengan melibatkan 150 data dari 61 negara – dikumpulkan dari berbagai sruvey dan penelitian, databas ebibliografi, dan menteri kesehatan atau organisasi statistik nasional.

Satu-satunya penelitian yang ada

Statistics of Global abortion data from 2010 to 2014. Photo credit: Megan Thielking/STAT. Source: Global, Regional and Subregional Classification of Abortions by Safety, 2010-14. Source: The Lancet
Statistics of Global abortion data from 2010 to 2014. Photo credit: Megan Thielking/STAT. Source: Global, Regional and Subregional Classification of Abortions by Safety, 2010-14. Source: The Lancet


Menggunakan informasi tersebut, peneliti membagi aborsi menjadi tiga kategori: aman, kurang aman, dan tidak aman.

Aborsi kurang aman terjadi pada sekitar 30,7% dari jumlah kasus total dan dilakukan menggunakan obat misoprostol tanpa dukungan profesional, atau dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih menggunakan metode yang sudah ketinggalan, seperti mengorek dinding uterus dengan alat operasi.

Aborsi yang tidak aman, terjadi pada total delapan juta kasus, dimana dilakukan oleh seorang tidak terlatih menggunakan metode berbahaya atau di lingkungan yang tidak memenuhi standar higienitas, atau keduanya. Aborsi tidak aman di kedua jenis tersebut bisa menyebabkan komplikasi fatal.

Penelitian juga menunjukkan bahwa sekitar 88% aborsi yang dilakukan di negara maju merupakan metode yang aman; namun pada negara berkembang, pada 62 negara, yang melarang atau hanya mengizinkan aborsi jika mengancam jiwa sang ibu, hanya ditemukan aman dalam 25% kasus aborsi.

Angka statistik ini bervariasi antar negara

"Penting untuk dicatat bahwa di antara aborsi tidak aman, mayoritas (aborsi) diAmerika Latin dilakukan dalam kondisi yang kurang aman (59,7%); sedangkan di Afrika, mayoritas aborsi tidak aman dilakukan dalam kondisi tidak aman (48%)," catat Dr Ganatra.

"Penting untuk mencatat bahwa para wanita yang melakukan aborsi di Afrika memiliki risiko kematian tertinggi akibat aborsi yang tidak aman," tambahnya.

Di banyak negara di Afrika, kurang dari 15% prosedur aborsi memenuhi standar minimal medis. Cina, di sisi lain, memiliki tingkat aborsi aman yang tinggi, hampir sama dengan negara maju. Sayangnya, di Asia Selatan-Tengah, kurang dari satu dari dua aborsi yang bisa disebut aman.

"Penelitian menunjukkan bahwa ada kesamaan yang bisa ditemukan antar negara – antara negara teringgal dan maju, negara kaya dan miskin," catat Dr Ganatra. Di sisi lain, Nepal, Etiopia, dan Uruguay merupakan contoh dari negara berkembang yang memiliki akses baik terhadap aborsi aman. Peneliti menyadari bahwa jumlahnya kemungkinan tidak terlalu diperhitungkan.

Approximately 45% of an estimated 55.7 million abortions that occur globally each year between 2010 and 2014 were performed unsafely. Source: CNN/WHO/Guttmacher Institute
Approximately 45% of an estimated 55.7 million abortions that occur globally each year between 2010 and 2014 were performed unsafely. Source: CNN/WHO/Guttmacher Institute


Akses aborsi aman – masalah kesehatan masyarakat

"Ini merupakan prioritas kesehatan utama dan saya pikir masalah ini belum terlalu dipikirkan sebelumnya dan mendapat perhatian yang cukup," ungkap Dr Lisa Haddad, profesor asosiasi di departemen ginekologi dan obstetrik di Fakultas Kedokteran Universitas Emory.

"Saya pikir tidak ada lagi yang perlu ditanyakan mengenai aborsi tidak aman sehingga masalah ini terus menjadi penyebab mortalitas dan morbiditas kehamilan, meskipun sebenarnya kejadin ini bisa dicegah," sesal Haddad, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Hasil ini menunjukkan adanya hubungan kuat antara hukum aborsi dan keamanan. "Proporsi aborsi aman tertinggi bisa ditemukan di negara dengan hukum yang tidak terlalu ketat, negara dengan ekonomi maju dan infraktruktur yang sudah berkembang," catat Ganatra. Namun, penemuan positif dalam negara maju bukan berarti tidak ada lagi kesempatan untuk dilakukan perbaikan.

"Bagaimana para wanita diobati saat mereka mengakses pelayanan ini? Apa penghalangnya?" tanya Ganatra.

Ia percaya bahwa perubahan harus dilakukan di publik, dilakukan pelatihan medis, dan disediakan akses kesehatan karena "membuat aborsi aman bisa diakses merupakan sesuatu yang sederhana: Intervensi di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Hanya dibutuhkan teknologi dan ilmu pengetahuan dasar. Tidak membutuhkan intervensi intensif," tambahnya. MIMS

Bacaan lain:

PBB: Hapuskan hukum anti-aborsi di dunia
Internet dijadikan ‘jalan pintas’ oleh para wanita yang membutuhkan aborsi, akibat pandangan negatif masyarakat
Kelompok hak reproduksi mendesak Menteri Kesehatan Malaysia agar menyetujui obat aborsi untuk wanita

Sumber:
https://www.theguardian.com/world/2017/sep/22/abortion-decriminalise-crime-britain-childbirth-doctors 
https://www.statnews.com/2017/09/27/abortion-safety-worldwide/ 
http://edition.cnn.com/2017/09/27/health/abortion-safety-global-study/index.html
https://www.afp.com/en/news/15/nearly-half-abortions-unsafe-study