Pernyataan bahwa penderita kanker mendapat terlalu banyak terapi pertama kali muncul pada tahun 2010 dalam penelitian yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine. Para peneliti dari Universitas McMaster menunjukkan bahwa terapi radiasi selama 3 minggu akan memberi efek sama baiknya dengan durasi yang biasa, yaitu 6 minggu.

American Society for Radiation Oncology (ASRO), penulis panduan kedokteran, menyarankan para dokter untuk tidak memberi terapi radiasi pada wanita berusia diatas 50 tahun dengan kanker yang belum menyebar. Dokter sebaiknya mempertimbangkan terapi jangka pendek terlebih dahulu. Pada tahun 2012, ASRO merekomendasikan dokter untuk tidak melakukan tes penanda tumor dan scan tubuh seperti  CT, PET dan scan tulang untuk mantan pasien kanker payudara stadium awal.  

Selain itu, menurut analisis eksklusif dari Kaiser Health News oleh eviCore healthcare, hanya terdapat sekitar 48% pasien yang ditawarkan terapi dengan jangka waktu pendek pada tahun 2017. 

Bagi mantan penderita kanker payudara dengan tanpa gejala kekambuhan "tes seperti ini tidak membantu dan bisa jadi malah menyakiti pasien," ungkap Dr Gary Lyman, seorang dokter ahli onkologi kanker dan ekonomis kesehatan di Fred Hutchinson Cancer Research Centre. Tetapi, mengapa terapi jenis ini dikatakan berbahaya?

Tingkat kerugian yang lebih tinggi

Pemeriksaan dan pengobatan berlebih untuk kanker dapat membuat pasien harus merasakan rasa sakit dan penderitaan yang tidak perlu. Banyak dokter melakukan pemeriksaan berlebih untuk pasien lansia penderita kanker tiroid, payudara, prostat, dan kulit sehingga mereka harus menjalani pengobatan yang kemungkinan kecil dapat memperpanjang hidup mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas California, San Francisco di tahun 2009 dan dipimpin oleh Dr Rebecca Smith-Bindman, menemukan bahwa dosis radiasi CT scan untuk diagnostik klinis lebih tinggi dari yang diketahui orang-orang.

Studi tersebut juga menemukan bahwa untuk pasien berusia 20 tahun, risiko terkena kanker dari prosedur CT coronary angiography ternyata dua kali lebih tinggi daripada wanita berusia 40 tahun (satu dari 270). National Cancer Institute di Amerika memperkirakan bahwa 2% kasus kanker di negara tersebut diakibatkan oleh prosedur pemeriksaan medis.

Selain paparan terhadap karsinogen, prosedur pemeriksaan darah yang sederhana juga dapat membebani pasien. Meg Reeves, seorang pasien berusia 60 tahun yang sembuh dari kanker payudara, mengatakan bahwa tusukan jarum berulang akibat pemeriksaan darah yang tidak perlu menimbulkan bekas luka parah pada pembuluh darah vena di lengan kirinya.

Terlebih lagi karena perawat tidak dapat mengambil darah dari lengan kanannya – karena sebelumnya dilakukan prosedur operasi pada payudara kanan – untuk mencegah pembengkakan kelenjar getah bening. Reeve juga melakukan pemeriksaan MRI tahunan menggunakan cairan kontras gadolinium yang diduga dapat menimbulkan gangguan metal di otak – sedang dalam penyelidikan US Food and Drug Administration (FDA).

Harga yang mahal

Di banyak negara, yang tidak menyediakan asuransi kesehatan untuk masyarakatnya, terapi kanker jangka panjang bisa jadi sangat membebani finansial pasien. Penelitian tahun 2014 oleh Dr Justin Bekelman, seorang profesor asosiasi dari onkologi radiasi di Fakultas Kedokteran Universitas Pennsylvania, menemukan bahwa wanita yang mendapat terapi dalam waktu lebih panjang menghabiskan USD2,900 lebih mahal dalam tahun yang sama setelah diagnosis.

Reeves, misalnya, mengatakan ia harus menjual rumahnya untuk membayar biaya rumah sakit meskipun ia memiliki asuransi dari perusahaannya. "Memang sangat membebani finansial saya," sebutnya. "Seperti racun finansial, karena Anda harus mengeluarkan uang tanpa menerima apapun," jelas Dr Scott Ramsey, direktur Institut Hutchinson untuk Penelitian Outcome Kanker.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr Gary Lyman, seorang ahli onkologi kanker payudara dan ahli ekonomi kesehatan di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson, yang juga dipublikasikan dalam Journal of Clinical Oncology, menemukan bahwa wanita dengan tes biomarker harus membayar biaya tambahan sebesar USD6,000. Pasien juga menganggap bahwa hal tersebut menambah beban biaya dari segi logistik. Bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil, bolak-balik berobat ke rumah sakit merupakan suatu hal yang berat. Inilah salah satu alasannya mengapa pasien kanker payudara di daerah terpencil cenderung lebih memilih prosedur mastectomy dibanding pasien yang tinggal di perkotaan menghindari terapi radiasi.

Mengganggu industri kesehatan

Menurut laporan tahun 2009 oleh National Academy of Medicine in America, pelayanan kesehatan yang tidak perlu membebani sistem pelayanan kesehatan sebesar 120 milyar USD per tahun. Banyak dokter dipersalahkan akibat tindakan pengobatan yang mereka berikan atas dasar hadiah insentif yang akan mereka dapat. 

Banyak perusahaan asuransi, misalnya, membayar dokter untuk setiap sesi radiasi sehingga akan sangat menguntungkan bagi dokter, terutama jika terapi diberikan dalam durasi lebih lama. Karuna Jaggar, direktur eksekutif Breast Cancer Action, suatu kelompok advokasi berkata, "Hal ini merupakan contoh bagaimana sistem kesehatan berbasis profit menciptakan keuntungan finansial terhadap otoritas tertentu dan mengganggu kesehatan wanita." Menurut Dr Justin Bekelman, profesor radiasi onkologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Pennsylvania Perelman, "Data ini merefleksikan tingginya kesulitan untuk mengubah praktek yang ada."

Bagaimana cara mengatasinya?

"Dulu pasien menganggap ‘lebih banyak lebih baik," tutur Daniel Wolfson, wakil presiden eksekutif American Board of Internal Medicine Foundation (ABIM). "Tetapi sebenarnya terkadang lebih sedikit itu lebih baik. Mengubah pola pikir merupakan suatu langkah utama yang harus dilakukan."

Seperti yang diungkapkan oleh Dr Bruce Landon, profesor di bidang kebijakan pelyanan kesehatan dari Fakultas Kedokteran Harvard, "Sistem kesehatan sekarang cenderung lebih lambat dibandingkan teknologi." Ia menambahkan, "Orang-orang berkata, 'Saya selalu diperlakukan seperti ini sepanjang hidup karir saya. Mengapa saya harus berhenti sekarang?'" Banyak dokter lain merasa takut dituntut akibat melakukan sesuatu yang terlalu sedikit.

An initiative by ABIM Foundation in partnership with Consumer Reports, the “Choosing Wisely” campaign seeks to advance a national dialogue on avoiding wasteful or unnecessary medical tests, treatments and procedures. Photo credit: Choosing Wisely
An initiative by ABIM Foundation in partnership with Consumer Reports, the “Choosing Wisely” campaign seeks to advance a national dialogue on avoiding wasteful or unnecessary medical tests, treatments and procedures. Photo credit: Choosing Wisely

Dalam penelitiannya, Dr Lyman menyarankan para dokter spesialis onkologi untuk "meningkatkan penggunaan tes tumor marker yang sesuai. Kampanye Choosing Wisely yang dimulai pada tahun 2012 oleh ABIM, dilakukan untuk meningkatkan kesadaran pasien. Annie Dennison, seorang pasien yang sembuh dari kanker payudara mengungkapkan bahwa pasien harus sadar apa yang mereka katakan saat mengucapkan, ‘Saya mau melakukannya seperti ini karena ini tubuh saya." MIMS

Bacaan lain:

4 penemuan baru pada kanker payudara
Mammogram: Metode deteksi awal kanker payudara
Mengapa kanker lebih banyak muncul di payudara daripada di jantung?

Sumber:
https://khn.org/news/so-much-care-it-hurts-unneeded-scans-therapy-surgery-only-add-to-patients-ills/ https://www.statnews.com/2017/10/23/breast-cancer-radiation/ 
http://ascopubs.org/doi/abs/10.1200/JCO.2017.35.15_suppl.6582 
https://jamanetwork.com/journals/jamainternalmedicine/fullarticle/415384 
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa0906260#t=abstract
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/10/21/558837836/many-breast-cancer-patients-receive-more-radiation-therapy-than-needed