Kasus displasia Lewandowsky-Lutz atau epidermodysplasia verruciformis, atau lebih terkenal dengan sebutan "penyakit manusia pohon" pertama kali dilaporkan oleh Dede Koswara, di Indonesia.

Ia terkenal dengan sebutan 'Manusia Pohon' karena banyaknya kulit di seluruh tubuhnya tampak seperti kulit pohon, sebagai hasil dari gangguan kulit autosom resesif.

Meskipun sudah dibuang, kutil tumbuh kembali

Dr Anthony Gaspari, dermatologis yang menangani kasus Dede Koswara, menemukan bahwa kutil muncul karena infeksi HPV (human papillomavirus). Onset penyakit ini muncul di usia muda, dan dalam kasus Dede, muncul saat ia berusia 15 tahun.

Ia ingat pertama kali kutil muncul setelah ada luka kecil di kakinya, yang kemudian berkembang ke seluruh tubuh, dengan lebih dari 13 pounds (hampir 6 kg) kutil menutupi tangan dan kaki Dede.

Dede tidak bisa menggunakan tangan dan kakinya, dan ia akhirnya menjadi bahan ejekan masyarakat sekitar. Istrinya, yang sudah 10 tahun bersama, juga meninggalkan Dede karena ia tidak bisa membiaya hidup mereka dan dua anaknya.

Manusia pohon telah berulang kali keluar-masuk rumah sakit untuk membuang kutilnya. Tetapi kutil ini tetap tumbuh kembali dan tiga bulan sebelum ia meninggal, ia sudah dicek di rumah sakit.

Dokternya mengatakan, "Dia menyerah melawan penyakitnya. Pasti sulit untuk menghadapi kesulitan yang ia hadapi hampir seumur hidupnya."

Akhirnya, Koswara meninggal akibat komplikasi berbagai jenis penyakit, seperti hepatitis, gangguan hati dan lambung. Tragisnya, ia meninggal diusia 42 tahun.

Penderita lain sembuh setelah operasi bedah

Ion Toader dari Romania didiagnosis menderita penyakit yang sama saat kasus Dede Koswara melambung pada tahun 2007. Namun, kasus penyakit Ion tidak separah Dede dan bisa sembuh setelah operasi bedah. Meskipun ada sedikit kekambuhan, namun is secara keseluruhan normal.

Abul Bajandar, seorang warga Bangladesh juga merupakan korban lain dari penyakit ini. Ia pada akhirnya menjalani operasi pembedahan dan mulai membaik. Di luar ketiga kasus di atas, ada sekitar 200 kasus penyakit manusia pohon di dunia.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sullivan dan Ellis tahun 1939, mereka menemukan bahwa sindrom manusia pohon sangat berhubungan dengan kerentanan penyakit ke kanker kulit. Dengan demikian, terapi untuk penyakit ini sangat kompleks dan sulit dilakukan.

Perlindungan ke radiasi ultraviolet dengan krim retinoid topikal bisa menghambat pertumbuhan jaringan yang tidak diinginkan dan operasi pembuangan kutil merupakan salah satu cara untuk menyembuhkan kondisi ini.

Namun, dalam beberapa kasus, pasien di masa depan bisa mengalami gejala kanker dan dibutuhkan perawatan medis. Prosedur terapi standar belum ditemukan untuk displasia Lewandowsky-Lutz.

Hingga saat itu, diagnosis saat awal kemunculan merupakan satu-satunya pilihan untuk penyakit "Manusia Pohon." MIMS

Bacaan lain:
Kesalahan diagnosis menyebabkan seorang pria 43 tahun duduk di kursi roda
Pembunuh berantai meracuni kantung infus pasien
Peneliti Australia berhasil mengembangkan vaksin untuk gangguan gusi
Eksperimen pada manusia: Sebuah pelajaran dari perjalanan sejarah


Sumber:
http://metro.co.uk/2016/02/03/tree-man-who-suffers-from-rare-condition-dies-5660535/#ixzz4LiQ4Dcdd
http://trendingpost.net/trending-news/the-shocking-facts-about-tree-man-syndrome/10/
http://health.asiaone.com/health/body-mind/indonesian-tree-man-dies
https://en.wikipedia.org/wiki/Epidermodysplasia_verruciformis
http://www.newhealthadvisor.com/Tree-Man-Before-and-After.html